SELAMAT DATANG DI BLOG-NYA FISIOTERAPIS INDONESIA..........................................................................SEMUA TENTANG FISIOTERAPI ADA DISINI

Tampilkan postingan dengan label Anatomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anatomi. Tampilkan semua postingan

Skema Peredaran Pembuluh Darah

Anatomi sistem pembuluh darah


Sistem kardiovaskuler

Sistem kardiovaskuler adalah suatu sistem organ yang bertugas untuk menyampaikan nutrien (seperti asam amino dan elektrolit), hormon, sel darah dll dari dan menuju sel-sel tubuh manusia, yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan homeostasis. Sistem ini terdiri atas organ jantung dan pembuluh-pembuluh darah.

Jantung merupakan organ yang terdiri dari empat ruangan, yaitu atrium kanan, ventrikel kanan, atrium kiri dan ventrikel kiri. Secara umum sistem ini bekerja dengan mengikuti pola sebagai berikut:

Darah yang rendah kandungan oksigen dan tinggi CO2 yang berasal dari sirkulasi sistemik dihantarkan melalui vena kava superior dan inferior menuju atrium kanan, masuk ke ventrikel kanan lalu dihantarkan melalui arteri pulmonalis menuju ke paru untuk di-oksigenasi kembali. Selanjutnya darah yang telah kaya akan oksigen akan masuk melalui vena pulmonalis menuju atrium kiri, lalu masuk ke ventrikel kiri untuk dihantarkan menuju sirkulasi sistemik melalui pembuluh aorta. Demikian seterusnya.

Secara umum, pembuluh darah yang ada di dalam tubuh dapat dibagi menjadi pembuluh yang membawa darah menjauhi jantung (arteri) dan menuju jantung (vena).


Arteri

Arteri merupakan pembuluh yang bertugas membawa darah menjauhi jantung. Tujuannya adalah sistemik tubuh, kecuali a.pulmonalis yang membawa darah menuju paru untuk dibersihkan dan mengikat oksigen. Arteri terbesar yang ada dalam tubuh adalah aorta, yang keluar langsung dari ventrikel kiri jantung.

Aorta yang keluar keluar dari ventrikel kiri jantung sebagai aorta ascendens. Kemudian, aorta ascendens mengalami percabangan yaitu arcus aorta sebelum melanjutkan diri sebagai aorta descendens. Arcus aorta memiliki tiga percabangan yaitu:
  1. A.brachiocephalic/a.anonyma. Arteri ini akan bercabang menjadi a.carotis communis dextra, a.subclavia dextra dan a.thyroideaima (yang mendarahi kelenjar thyroid bagian inferior).
  2. A.carotis communis sinistra.
  3. A. subclavia sinistra.

Setiap a.carotis communis (baik dextra maupun sinistra) akan bercabang menjadi a.carotis interna (yang mendarahi otak) dan a.carotis externa (yang mendarahi wajah, mulut, rahang dan leher) . Sedangkan setiap a.subclavia (baik dextra dan sinistra) akan bercabang antara lain menjadi a.vertebralis (mendarahi otak dan medula spinalis). Kedua a.vertebralis (dextra dan sinistra) akan menyatu menjadi arteri-arteri spinal yang segmental, dan sebelum naik ke otak akan membentuk a.basilaris. A.basilaris lalu bercabang menjadi a.cerebralis posterior dan beranastomosis dengan a.communicating posterior dan a.cerebralis anterior membentuk circulus Willisi yang khas di otak.

A. subclavia sendiri tetap berjalan ke ekstremitas atas sebagai a.aksilaris dan mempercabangkan a.subscapularis, yang mana akan mempercabangkan a.circumflexa scapulae.

Selain itu, a.subclavia juga akan bercabang menjadi a.mammaria interna (memperdarahi dinding dada depan dan kelenjar susu), a.thyrocervicalis dan a.costocervical. Cabang dari a.thyrocervical adalah a.thyroidea inferior yang mendarahi kelenjar thyroid, a.suprascapular (a.transversa scapulae) dan a.transversa colli (a.transversa cervical).

Pendarahan arteri ekstremitas atas

Pendarahan ekstremitas atas disuplai oleh a.aksilaris, yang merupakan cabang dari a.subclavia (baik dextra maupun sinistra). A.aksilaris ini akan melanjutkan diri sebagai a.brachialis di sisi ventral lengan atas, selanjutnya pada fossa cubiti akan bercabang menjadi a.radialis (berjalan di sisi lateral lengan bawah, sering digunakan untuk mengukur tekanan darah dan dapat diraba pada anatomical snuffbox) dan a.ulnaris (berjalan di sisi medial lengan bawah).




























A.radialis terutama akan membentuk arkus volaris profundus, sedangkan a.ulnaris terutama akan membentuk arkus volaris superfisialis, yang mana kedua arkus tersebut akan mendarahi daerah tangan dan jari-jari.




















Pendarahan arteri ekstremitas bawah

Pendarahan ekstremitas bawah disuplai oleh a.femoralis, yang merupakan kelanjutan dari a.iliaka eksterna (suatu cabang a.iliaka communis, cabang terminal dari aorta abdominalis). Selanjutnya a.femoralis memiliki cabang yaitu a.profunda femoris, sedangkan a.femoralis sendiri tetap berlanjut menjadi a.poplitea. A.profunda femoris sendiri memiliki empat cabang a.perfontrantes. Selain itu juga terdapat a.circumflexa femoris lateral dan a.circumflexa femoris medial yang merupakan percabangan dari a.profunda femoris.
































A.poplitea akan bercabang menjadi a.tibialis anterior dan a.tibialis posterior. A.tibialis anterior akan berlanjut ke dorsum pedis menjadi a.dorsalis pedis yang dapat diraba di antara digiti 1 dan 2. A.tibialis posterior akan membentuk cabang a.fibular/peroneal, dan a.tibialis posterior pedis sendiri tetap berjalan hingga ke daerah plantar pedis dan bercabang menjadi a.plantaris medial dan a.plantaris lateral. Keduanya akan membentuk arcus plantaris yang mendarahi telapak kaki.

Sedangkan di daerah gluteus, terdapat a.gluteus superior, a.gluteus inferior dan a.pudenda interna. Ketiganya merupakan percabangan dari a.iliaca interna.

Pendarahan arteri organ-organ visera

Pendarahan organ-organ visera disuplai oleh aorta abdominalis, suatu terusan dari aorta descendens. Cabang-cabang dari aorta abdominalis tersebut adalah: a.phrenicus inferior, a.coeliaca, a.mesenterica superior, a.suprarenal media, a.renalis, a.gonadal (a.ovarica/a.testicular), a.lumbar, a.mesenterica inferior, a.sacral mediana, dan a.iliaca communis. Organ-organ dalam seperti hati, lambung, dan limpa disuplai oleh a.coeliaca, kelenjar anak ginjal disuplai oleh a.suprarenal media, ginjal disuplai oleh a.renalis, intestinum disuplai oleh a.mesenterica superior dan inferior.


























Vena

Vena merupakan pembuluh yang mengalirkan darah dari sistemik kembali ke jantung (atrium dextra), kecuali v.pulmonalis yang berasal dari paru menuju atrium sinistra. Semua vena-vena sistemik akan bermuara pada vena cava superior dan vena cava inferior.

Pendarahan vena kepala

Vena yang ada di kepala seperti v.emisaria dan v.fasialis sebagian akan bermuara pada v.jugularis interna, sebagian lagi pada v.jugularis eksterna. Nantinya v.jugularis eksterna akan bermuara pada v.subclavia, di mana v.subclavia akan beranastomosis dengan v.jugularis interna membentuk v.brachiocephalica. Terdapat dua v.brachiocephalica, masing-masing dextra dan sinistra. Keduanya akan menyatu sebagai v.cava superior.























Pendarahan vena ekstremitas atas

Vena-vena yang ada di tangan, seperti v.intercapitular, v.digiti palmaris dan v.metacarpal dorsalis akan bermuara pada v.cephalica dan v.basilica di lengan bawah. Dari distal ke proksimal, kedua vena ini akan mengalami percabangan dan penyatuan membentuk v.mediana cephalica, v.mediana basilica, v.mediana cubiti, v.mediana profunda dan v. mediana antebrachii sebelum mencapai regio cubiti. Setelah regio cubiti, vena-vena tersebut kembali membentuk v.cephalica dan v.basilica. V.basilica akan bersatu dengan v.brachialis (yang merupakan pertemuan v.radialis dan v.ulnaris) membentuk v.aksilaris di mana nantinya v.cephalica juga akan menyatu dengannya (v.aksilaris). V.aksilaris akan terus berjalan menuju jantung sebagai v.subclavia lalu beranastomosis dengan v.jugularis interna dan eksterna (dari kepala) membentuk v.brachiocephalica untuk selanjutnya masuk ke atrium dextra sebagai vena cava superior.

































Pendarahan vena ekstremitas bawah

Arcus vena dorsalis yang berada di daerah dorsum pedis akan naik melalui v.saphena magna di bagian anterior medial tungkai bawah. V.saphena magna tersebut akan bermuara di v.femoralis. Sedangkan v.saphena parva yang berasal dari bagian posterior tungkai bawah akan bermuara pada v.poplitea dan berakhir di v.femoralis. V.tibialis anterior dan v.tibialis posterior  juga bermuara pada v.poplitea.

Dari v.femoralis, akan berlanjut ke v.iliaca externa lalu menuju v.iliaca communis dan selanjutnya v.cava inferior.

Selain itu terdapat juga v.glutea superior, v.glutea inferiordan v.pudenda interna di daerah gluteus, yang bermuara ke v.iliaca interna.




































Pendarahan vena organ-organ visera

Vena-vena yang keluar dari organ visera, seperti v.hepatica (organ lambung, pankreas, usus halus dan kolon) , v.suprarenal, v.renalis (ginjal), v.lumbar dan v.testicular akan bermuara ke v.cava inferior.

Referensi:

Netter FH. Atlas of Human Anatomy. 4th ed. US: Saunders; 2006.
Van de Graaf KM. Human anatomy. 6th ed. US: The McGraw-Hill Companies; 2001.
http://sectiocadaveris.wordpress.com/artikel-kedokteran/anatomi-sistem-pembuluh-darah/

Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

Anatomi Tangan

Gunakan diagram di bawah ini untuk lebih memahami diagnosis atau untuk membantu menggambarkan kondisi anda ke perawatan kesehatan yang profesional.
  • Permukaan Anatomi (surface anatomy)
  • Tulang dan Sendi (bones and joints)
  • Anatomi ujung jari (fingertips anatomy)
  • Terminologi Gerak (motion terminology)

Surface anatomy (Palmar surface)




















Bones and Joints























Fingertips Anatomy


Motion Terminology



Sumber :
© 2009 American Society for Surgery of the Hand. Essentials of Hand Surgery
http://www.assh.org/Public/HandAnatomy/Pages/default.aspx#surfaceanatomy
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

Anatomi dan Fisiologi Sistem Respirasi

SANGKAR TORAK




Sangkar torak manusia memeliki fungsi sebagai perlindungan organ-organ penting dari respirasi yaitu paru-paru serta sirkulasi yaitu jantung, selain itu juga melindungi organ lain seperti liver dan perut. Sangkar torak bagian belakang dibentuk oleh 12 vertebra thoracalis dan 12 pasang costa bagian posterior. Sedangkan bagian depan dibentuk oleh sternum dan cartilago costa, serta bagian lateralnya dibentuk oleh costa. Pada saat bayi baru lahir, bentuk thorak hampir circular, selama pertumbuhannya dari anak-anak sampai dewasa akan berkembang menjadi lebih elliptical, dimana diameter lateral lebih lebar dibandingkan dengan diameter antero-posteriornya. (Dean, 1996).

Sebagian besar dari sangkar torak dibentuk oleh tulang-tulang costa. Tujuh costa yang pertama pada bagian posterior berhubungan langsung dengan collumna vertebralis, sedang pada bagian depan melalui cartilago costae akan melekat pada sternum. Tiga costae berikutnya, cartilago costanya akan melekat pada cartilago costae diatasnya, sedang dua tulang costa terakhir tidak melekat pada tulang costa diatasnya.


Masing-masing costae mempunyai kepala dan leher yang pendek yang akan berartikulasi dengan vertebra. Kepala costae 2-10 akan berartikulasi dengan dua vertebrae thoracalis yang berdekatan beserta diskus intervertebralisnya yang membentuk sendi costovertebral joint. Costa 1,11 dan 12 berartikulasi hanya dengan satu vertebrae pada cospusnya, yang akan membuat persendian ini lebih mobile. Tuberculum costae 1-10 akan berartikulasi dengan permukaan depan dari processus transversus dan membentuk persendian yang disebut costotransvers joint. (Crane, 1992)


Beberapa otot pernafasan yang melekat pada dinding dada antaralain:



a. Otot-otot inspirasi
  • M. intercostalis externus
  • M. levator costae
  • M. serratus posterior superior
  • M. scalenus 
  • Diafragma
b. Otot-otot ekspirasi
  • M. intercostalis internus
  • M. transversus thoracis
  • M. serratus posterior inferior
  • M.subcostalis.

saat inspirasi yang bekerja adalah otot-otot inspirasi yaitu yang paling utama adalah Diafragma yang melawan daya elastik recoil dari paru dan torak. saat ekspirasi yang bekerja adalah otot-otot inspirasi yang bekerja secara memanjang sedangkan otot-otot ekspirasi bekerja saat elastisitas dari paru menghilang.

PARU-PARU

Dalam inspeksi secara kasar, paru-paru berbentuk seperti tanduk dan dilapisi oleh pleura visceralis. Paru kanan sedikit lebih besar bila dibandingkan paru kiri dan dibagi menjadi tiga bagian ( Lobus atas, lobus tengah dan lobus bawah) oleh fissura oblique dan horisontal. Sedang paru kiri hanya terdiri dari dua lobus (Lobus atas dan lobus bawah) yang dipisahkan oleh fissura oblique. Lobus-lobus ini, kemudian akan terbagi lagi menjadi beberapa bronchopulmonary segmen.

Saluran napas, pleura dan jaringan connective paru paru mendapatkan vaskularisasi dari sirkulasi sistemik dari arteria bronchialis. Sedangkan alveoli mendapatkan perfusi dari sirkulasi pulmonal

Paru-paru dan saluran napas, mendapatkan innervasi dari pleksus pulmonalis. Pleksus ini dibentuk oleh percabangan-percabangan symphatic trunk dan n.vagus. Disamping itu terdapat pula serabut syaraf inhibisi nonadrenergic dan noncholinergic yang terdapat di otot-otot polos pada saluran napas.
Paru-paru (pulmo) dibentuk oleh parenchyma yang berada bersama-sama dengan bronchus dan percabangan-percabangannya. Bentuk menyerupai konus, dipengaruhi oleh organ-organ yang berada di sekitarnya. Pada facies mediastinalis pulmo, pars mediastinalis ditutupi oleh pleura mediastinalis, berbatasan dengan pericardium membentuk impressio cardiaca (lebih cekung pada pulmo sinister).

Di sebelah dorso-cranial impressio tersebut terdapat hilus pulmonis, yaitu tempat keluar masuk struktur-struktur ke dan dari pulmo. Struktur-struktur tersebut adalah bronchus, arteria pulmonalis, vena pulmonalis, arteria dan vena bronchialis, plexus nervosus pulmonalis serta pembuluh-pembuluh lymphe dan lymphonodus bronchialis. Struktur-struktur diatas yang membentuk radix pulmonis.

a) PULMO DEXTER

Terdiri atas tiga buah lobus, yaitu (1) lobus superior, (2) lobus medius dan (3) lobus inferior, yang dibagi oleh dua buah incisurae interlobares.

Fissure horinzontalis memisahkan lobus superior daripada lobus medius, terletak horizontal, ujung dorsal bertemu dengan fissura oblique, ujung ventral terletak setinggi pars cartilaginis costa IV, dan pada facies mediastinalis fissura tersebut melampaui bagian dorsal hilus pulmonis. Lobus medius adalah yang terkecil daripada lobus lainnya, dan berada di bagian ventro caudal. Morfologi pulmo dexter lebih kecil daripada sinister, tetapi lebih berat dan total kapasitasnya pun lebih besar.

b) PULMO SINISTER

Terdiri atas dua buah lobus, yaitu (1) lobus superior dan (2) lobus inferior, yang dipisahkan oleh fissure obliqua, (= incisura interlobis); fissura tersebut meluas dari facies costalis sampai pada facies mediastinalis, baik disebelah cranial maupun di sebelah caudal hilus pulmonis. Fissura obliqua dapat diikuti mulai dari hilus, berjalan ke dorso-cranial, menyilang margo posterior kira-kira 6 cm dari apex pulmonis, lalu berjalan ke arah caudo-ventral facies costalis menyilang margo inferior, dan kembali menuju ke hilus pulmonis. Dengan demikian maka pada lobus superior apex pulmonis, margo anterior, sebagian dari facies costalis dan sebagian besar dari facies mediastinalis.

Lobus inferior lebih besar daripada lobus superior, dan meliputi sebagian besar dari facies costalis, hampir seluruh facies diaphragmatica dan sebagian dari facies mediastinalis (bagian dorsalnya).

Bronchus dexter mempunyai bentuk yang lebih besar, lebih pendek dan terletak lebih vertikal daripada bronchus sinister. Letak lebih vertikal oleh karena desakan dari arcus aortae pada ujung caudal trachea ke arah kanan, sehingga benda-benda asing mudah masuk ke dalam bronchus dexter. Bronchus sinister memiliki diameter yang lebih kecil, tetapi bentuknya lebih panjang daripada bronchus dexter.

PLEURA

Pertukaran gas yang efektif dalam paru-paru hanya akan terjadi jika paru-paru dapat mengembang untuk mempertahankan ventilasi yg adekuat. Pleura yg merupakan lapisan yg menyelimuti paru-paru mempunyai peran yg penting dalam membantu ventilasi yang adekuat tersebut. Pleura terdiri dari dua lapisan, yaitu lapisan yang paling luar disebut pleura parietalis dan yang dalam disebut pleura visceralis, dimana kedua lapisan ini membentuk suatu ruangan yang disebut cavum pleurae. Dalam cavum pleurae terdapat suatu cairan pleura + 10 ml, yang diproduksi oleh membran pleura. Cairan tersebut berfungsi untuk melicinkan permukaan pleurae dan mengurangi friksi antara pleura parietalis dan visceralis selama pernapasan. Tekanan dalam cavum pleura senantiasa dalam keadaan negatif dan berfungsi untuk mempertahankan alveolus tetap mengembang melalui mekanisme suctioning diantara dua membran pleura.

Tekanan intrapleural sedikit berbeda beda selama siklus ventilasi. Sebelum inspirasi, tekanan intrapleural kurang lebih –5cm H2O. Sedang selama inspirasi, dinding thorak akan mengembang, yang menyebabkan tekanan intrapleural akan turun mencapai + -8 cm H2O yang memungkinkan udara dari luar masuk ke dalam paru-paru. Selama ekspirasi tekanan intrapleural akan turun mencapai + -4 cmH2O, hal ini akan menyebabkan keluarnya udara dari paru-paru.

Adanya cairan atau udara yang masuk ke dalam cavum pleura dapat menyebabkan hilangnya tekanan negatif, sehingga paru-paru pada sisi yang terkena akan collaps sebagaian atau seluruhnya.

SALURAN NAPAS

Saluran napas secara konsep dapat dibagi menjadi dua, yaitu
  • Bagian konduksi (Hidung, pharynx, larynx, trachea, bronchi dan bronchiolus)
  • Bagian respirasi (Bagian ujung dari cabang-2 Broncheolus & alveoli)
Sedangkan pada zona transisi, merupakan area yang memisahkan bagian konduksi dan respirasi yang terdiri dari respiratory bronchiolus.

Dalam saluran napas, khususnya pada area konduksi (dead space) udara akan masuk dengan cepat akibat perbedaan tekanan yang diciptakan oleh otot-otot pernapasan dan elastik recoil dari paru-paru. Pada saat memasuki area respirasi, total luas penampang dari saluran napasnya meningkat secara tajam, hal ini menyebabkan kecepatan gerak dari arus udara menjadi melambat, sehingga akan memberi kesempatan gas gas untuk berdifusi dari alveoli menuju kapiler.

Udara inspirasi akan masuk ke paru-paru melalui hidung atau mulut. Di dalam hidung udara yang masuk akan mendapatkan proses humidifikasi alamiah, yaitu di lembabkan dan di hangatkan, disamping itu juga disaring oleh bulu-bulu hidung serta adanya bentuk saluran di hidung yang berkelok kelok serta dilapisi oleh mukosa. Proses ini berfungsi untuk menjaga paru-paru dari kerusakan yang disebabkan oleh udara yang kering kotoran kotoran yang berbahaya. Proses ini sering dikenal dengan istilah “defence mechanism”.

Setelah memasuki hidung secara berturut-turut udara inspirasi akan melalui Pharynx yang terbagimenjadi: (1) nasopharynx; (2) Oropharynx; (3) Laryngopharynx. Selanjutnya udara inspirasi akan masuk Larynx, trachea, Bronchus utama dan percabangannya, broncheolus-broncheolus dan akhirnya sampailah pada alveoli yang merupakan tempat terjadinya pertukaran gas.

Trachea, dikenal sebagai struktur yang membedakan antara saluran napas atas dan saluran napas bawah. Trachea merupakan kelanjutan dari larynx dan terdiri atas cilia pseudostratified, epithel collumnar yang berisi sel-sel goblet dan glandula mukosa/seromucinous. Glandula seromucimous menghasilkan cairan/jelly yang melapisi cilia. Jika cilia bergerak, maka lapisan jelly tadi akan bergerak menuju ke proximal yang membawa kotoran-kotoran yang tertangkap oleh lapisan jelly tadi. Proses ini dikenal dengan istilah “mucocilliary transport” atau “mucocilliary clearance” atau mucocilliary escalator” yang merupakan bagian dari mekanisme pertahanan tubuh (defences mechanism).

Trachea dibentuk oleh ring-ring cartilago yang berjumlah antara 16 sampai dengan 20, berbentuk seperti sepatu kuda dan dihubungkan oleh otot polos. Ring-ring cartilago tersebut mensupport bagian depan dan samping, sedang bagian posteior ditutupi oleh otot-otot polos. Di carina, trachea bercabang menjadi dua, yaitu: (1) Bronchus utama kanan dan (2)Bronchus utama kiri, yang keduanya secara berturut-turut akan bercabang-cabang membentuk lobus dan segment-segment.

Percabangan bronchus utama yang sebelah kiri, membentuk sudut dengan trachea lebih tajam serta lebih panjang bila dibandingkan dengan yang kanan. Bentuk yang demikian ini menyebabkan memungkinkan aspirasi lebih mudah ke sisi kanan dari pada ke bronchus kanan. Dinding bronchus tersusun atas lempeng-lempeng cartilago yang tidak beraturan yang dihubungkan oleh otot-otot polos. Dindingnya terisi oleh sel-sel epithel yang merupakan kelanjutan dari trachea. Semakin mendekati ke sisi bronchus, lempengan-lempengan cartilago semakin menipis, sebaliknya, otot-otot polos dan serabut-serabut elastis menjadi lebih menonjol yang akan berpengaruh pada diameter dari bronchus. Sedang pada bronchiolus, tidak ditemukan adanya cartilago dan glandula mukosa, sedang sel goblet jumlahnya menurun. Disamping itu epithel pseudostratified aagan diganti dengan sel epithel cuboid yg bercilia, yang semakin mendekati ke arah alveoli cilianya semakin menghilang. Pada bronchiolus ini dapat kita temui adanya aalveolar macrophage yang berfungsi untuk memfagosit partikel-partikel kecil yang tidak tersaring. Ini juga merupakan bagian dari “defences mechanism”.

Ductus alveolus dibentuk oleh cabang-cabang dari broncheolus respiratorius. Dinding ductus alveolus disusun oleh serabut elastic dan serabut otot polos yg tipis. Lapisan ini lama-lama berkurang dan hanya tinggal epithel cuboid yg pendek. Ductus alveolus ini berakhir dengan beberapa alveolar sacs (kantung-kantung alveolus).

FISIOLOGI PERNAPASAN

Pernapasan adalah unik. Kebanyakan dari kita jarang yang memperhatikannya, karena pernapasan dapat terjadi secara automatis (tanpa disadari), namun pernapasan juga dapat terjadi dengan disadari (voluntary) misalnya ketika kita sedang berlatih pernapasan, bahkan pada saat seseorang tidak sadarpun, pernapasan masih juga berjalan. Pemahaman terhadap kerja dari sistem respirasi dapat menjadikan dasar bagi penalaran/logika dalam melakukan praktik. Dengan kata lain dengan memahami bagaimana sistem respirasi bekerja, maka problematika pasien dapat ditegakkan dengan tepat dan pemberian terapi yang efektif dapat diselenggarakan.

Fungsi utama dari sistem respirasi adalah pertukaran gas, dimana oksigen akan diambil dari alveolus dan akan dibawa oleh haemoglobin menuju ke jaringan yang akan diperlukan dalam proses metabolisme, disisi lain carbondioksida, sebagai hasil sisa dari metabolisme akan dibuang melaui pernapasan saat ekspirasi. Jika mekanisme tersebut berjalan baik, maka oksigen dalam pembuluh darah arteri, karbondioksida dan kadar pH akan tetap dalam batas-batas normal pada berbagai macam kondisi fisiologis yang berbeda. Untuk dapat memahami kerja dari istem respirasi, maka berikut ini secara berturutan akan dibahas tentang: (1) Definisi dari ventilasi, volume paru dan dead space/ruang rugi; (2) Distribusi ventilasi/gas; (3) Mekanika pernapasan; (4) Difusi; (5) Perfusi; (6) Ratio ventilasi/perfusi.

sumber :
materi kuliah FT D kardio pulmo pak. Nur Basuki, M. Physio
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

Anatomi dan Fisiologi Sistem Respirasi

SANGKAR TORAK




Sangkar torak manusia memeliki fungsi sebagai perlindungan organ-organ penting dari respirasi yaitu paru-paru serta sirkulasi yaitu jantung, selain itu juga melindungi organ lain seperti liver dan perut. Sangkar torak bagian belakang dibentuk oleh 12 vertebra thoracalis dan 12 pasang costa bagian posterior. Sedangkan bagian depan dibentuk oleh sternum dan cartilago costa, serta bagian lateralnya dibentuk oleh costa. Pada saat bayi baru lahir, bentuk thorak hampir circular, selama pertumbuhannya dari anak-anak sampai dewasa akan berkembang menjadi lebih elliptical, dimana diameter lateral lebih lebar dibandingkan dengan diameter antero-posteriornya. (Dean, 1996).

Sebagian besar dari sangkar torak dibentuk oleh tulang-tulang costa. Tujuh costa yang pertama pada bagian posterior berhubungan langsung dengan collumna vertebralis, sedang pada bagian depan melalui cartilago costae akan melekat pada sternum. Tiga costae berikutnya, cartilago costanya akan melekat pada cartilago costae diatasnya, sedang dua tulang costa terakhir tidak melekat pada tulang costa diatasnya.


Masing-masing costae mempunyai kepala dan leher yang pendek yang akan berartikulasi dengan vertebra. Kepala costae 2-10 akan berartikulasi dengan dua vertebrae thoracalis yang berdekatan beserta diskus intervertebralisnya yang membentuk sendi costovertebral joint. Costa 1,11 dan 12 berartikulasi hanya dengan satu vertebrae pada cospusnya, yang akan membuat persendian ini lebih mobile. Tuberculum costae 1-10 akan berartikulasi dengan permukaan depan dari processus transversus dan membentuk persendian yang disebut costotransvers joint. (Crane, 1992)


Beberapa otot pernafasan yang melekat pada dinding dada antaralain:



a. Otot-otot inspirasi
  • M. intercostalis externus
  • M. levator costae
  • M. serratus posterior superior
  • M. scalenus 
  • Diafragma
b. Otot-otot ekspirasi
  • M. intercostalis internus
  • M. transversus thoracis
  • M. serratus posterior inferior
  • M.subcostalis.

saat inspirasi yang bekerja adalah otot-otot inspirasi yaitu yang paling utama adalah Diafragma yang melawan daya elastik recoil dari paru dan torak. saat ekspirasi yang bekerja adalah otot-otot inspirasi yang bekerja secara memanjang sedangkan otot-otot ekspirasi bekerja saat elastisitas dari paru menghilang.

PARU-PARU

Dalam inspeksi secara kasar, paru-paru berbentuk seperti tanduk dan dilapisi oleh pleura visceralis. Paru kanan sedikit lebih besar bila dibandingkan paru kiri dan dibagi menjadi tiga bagian ( Lobus atas, lobus tengah dan lobus bawah) oleh fissura oblique dan horisontal. Sedang paru kiri hanya terdiri dari dua lobus (Lobus atas dan lobus bawah) yang dipisahkan oleh fissura oblique. Lobus-lobus ini, kemudian akan terbagi lagi menjadi beberapa bronchopulmonary segmen.

Saluran napas, pleura dan jaringan connective paru paru mendapatkan vaskularisasi dari sirkulasi sistemik dari arteria bronchialis. Sedangkan alveoli mendapatkan perfusi dari sirkulasi pulmonal

Paru-paru dan saluran napas, mendapatkan innervasi dari pleksus pulmonalis. Pleksus ini dibentuk oleh percabangan-percabangan symphatic trunk dan n.vagus. Disamping itu terdapat pula serabut syaraf inhibisi nonadrenergic dan noncholinergic yang terdapat di otot-otot polos pada saluran napas.
Paru-paru (pulmo) dibentuk oleh parenchyma yang berada bersama-sama dengan bronchus dan percabangan-percabangannya. Bentuk menyerupai konus, dipengaruhi oleh organ-organ yang berada di sekitarnya. Pada facies mediastinalis pulmo, pars mediastinalis ditutupi oleh pleura mediastinalis, berbatasan dengan pericardium membentuk impressio cardiaca (lebih cekung pada pulmo sinister).

Di sebelah dorso-cranial impressio tersebut terdapat hilus pulmonis, yaitu tempat keluar masuk struktur-struktur ke dan dari pulmo. Struktur-struktur tersebut adalah bronchus, arteria pulmonalis, vena pulmonalis, arteria dan vena bronchialis, plexus nervosus pulmonalis serta pembuluh-pembuluh lymphe dan lymphonodus bronchialis. Struktur-struktur diatas yang membentuk radix pulmonis.

a) PULMO DEXTER

Terdiri atas tiga buah lobus, yaitu (1) lobus superior, (2) lobus medius dan (3) lobus inferior, yang dibagi oleh dua buah incisurae interlobares.

Fissure horinzontalis memisahkan lobus superior daripada lobus medius, terletak horizontal, ujung dorsal bertemu dengan fissura oblique, ujung ventral terletak setinggi pars cartilaginis costa IV, dan pada facies mediastinalis fissura tersebut melampaui bagian dorsal hilus pulmonis. Lobus medius adalah yang terkecil daripada lobus lainnya, dan berada di bagian ventro caudal. Morfologi pulmo dexter lebih kecil daripada sinister, tetapi lebih berat dan total kapasitasnya pun lebih besar.

b) PULMO SINISTER

Terdiri atas dua buah lobus, yaitu (1) lobus superior dan (2) lobus inferior, yang dipisahkan oleh fissure obliqua, (= incisura interlobis); fissura tersebut meluas dari facies costalis sampai pada facies mediastinalis, baik disebelah cranial maupun di sebelah caudal hilus pulmonis. Fissura obliqua dapat diikuti mulai dari hilus, berjalan ke dorso-cranial, menyilang margo posterior kira-kira 6 cm dari apex pulmonis, lalu berjalan ke arah caudo-ventral facies costalis menyilang margo inferior, dan kembali menuju ke hilus pulmonis. Dengan demikian maka pada lobus superior apex pulmonis, margo anterior, sebagian dari facies costalis dan sebagian besar dari facies mediastinalis.

Lobus inferior lebih besar daripada lobus superior, dan meliputi sebagian besar dari facies costalis, hampir seluruh facies diaphragmatica dan sebagian dari facies mediastinalis (bagian dorsalnya).

Bronchus dexter mempunyai bentuk yang lebih besar, lebih pendek dan terletak lebih vertikal daripada bronchus sinister. Letak lebih vertikal oleh karena desakan dari arcus aortae pada ujung caudal trachea ke arah kanan, sehingga benda-benda asing mudah masuk ke dalam bronchus dexter. Bronchus sinister memiliki diameter yang lebih kecil, tetapi bentuknya lebih panjang daripada bronchus dexter.

PLEURA

Pertukaran gas yang efektif dalam paru-paru hanya akan terjadi jika paru-paru dapat mengembang untuk mempertahankan ventilasi yg adekuat. Pleura yg merupakan lapisan yg menyelimuti paru-paru mempunyai peran yg penting dalam membantu ventilasi yang adekuat tersebut. Pleura terdiri dari dua lapisan, yaitu lapisan yang paling luar disebut pleura parietalis dan yang dalam disebut pleura visceralis, dimana kedua lapisan ini membentuk suatu ruangan yang disebut cavum pleurae. Dalam cavum pleurae terdapat suatu cairan pleura + 10 ml, yang diproduksi oleh membran pleura. Cairan tersebut berfungsi untuk melicinkan permukaan pleurae dan mengurangi friksi antara pleura parietalis dan visceralis selama pernapasan. Tekanan dalam cavum pleura senantiasa dalam keadaan negatif dan berfungsi untuk mempertahankan alveolus tetap mengembang melalui mekanisme suctioning diantara dua membran pleura.

Tekanan intrapleural sedikit berbeda beda selama siklus ventilasi. Sebelum inspirasi, tekanan intrapleural kurang lebih –5cm H2O. Sedang selama inspirasi, dinding thorak akan mengembang, yang menyebabkan tekanan intrapleural akan turun mencapai + -8 cm H2O yang memungkinkan udara dari luar masuk ke dalam paru-paru. Selama ekspirasi tekanan intrapleural akan turun mencapai + -4 cmH2O, hal ini akan menyebabkan keluarnya udara dari paru-paru.

Adanya cairan atau udara yang masuk ke dalam cavum pleura dapat menyebabkan hilangnya tekanan negatif, sehingga paru-paru pada sisi yang terkena akan collaps sebagaian atau seluruhnya.

SALURAN NAPAS

Saluran napas secara konsep dapat dibagi menjadi dua, yaitu
  • Bagian konduksi (Hidung, pharynx, larynx, trachea, bronchi dan bronchiolus)
  • Bagian respirasi (Bagian ujung dari cabang-2 Broncheolus & alveoli)
Sedangkan pada zona transisi, merupakan area yang memisahkan bagian konduksi dan respirasi yang terdiri dari respiratory bronchiolus.

Dalam saluran napas, khususnya pada area konduksi (dead space) udara akan masuk dengan cepat akibat perbedaan tekanan yang diciptakan oleh otot-otot pernapasan dan elastik recoil dari paru-paru. Pada saat memasuki area respirasi, total luas penampang dari saluran napasnya meningkat secara tajam, hal ini menyebabkan kecepatan gerak dari arus udara menjadi melambat, sehingga akan memberi kesempatan gas gas untuk berdifusi dari alveoli menuju kapiler.

Udara inspirasi akan masuk ke paru-paru melalui hidung atau mulut. Di dalam hidung udara yang masuk akan mendapatkan proses humidifikasi alamiah, yaitu di lembabkan dan di hangatkan, disamping itu juga disaring oleh bulu-bulu hidung serta adanya bentuk saluran di hidung yang berkelok kelok serta dilapisi oleh mukosa. Proses ini berfungsi untuk menjaga paru-paru dari kerusakan yang disebabkan oleh udara yang kering kotoran kotoran yang berbahaya. Proses ini sering dikenal dengan istilah “defence mechanism”.

Setelah memasuki hidung secara berturut-turut udara inspirasi akan melalui Pharynx yang terbagimenjadi: (1) nasopharynx; (2) Oropharynx; (3) Laryngopharynx. Selanjutnya udara inspirasi akan masuk Larynx, trachea, Bronchus utama dan percabangannya, broncheolus-broncheolus dan akhirnya sampailah pada alveoli yang merupakan tempat terjadinya pertukaran gas.

Trachea, dikenal sebagai struktur yang membedakan antara saluran napas atas dan saluran napas bawah. Trachea merupakan kelanjutan dari larynx dan terdiri atas cilia pseudostratified, epithel collumnar yang berisi sel-sel goblet dan glandula mukosa/seromucinous. Glandula seromucimous menghasilkan cairan/jelly yang melapisi cilia. Jika cilia bergerak, maka lapisan jelly tadi akan bergerak menuju ke proximal yang membawa kotoran-kotoran yang tertangkap oleh lapisan jelly tadi. Proses ini dikenal dengan istilah “mucocilliary transport” atau “mucocilliary clearance” atau mucocilliary escalator” yang merupakan bagian dari mekanisme pertahanan tubuh (defences mechanism).

Trachea dibentuk oleh ring-ring cartilago yang berjumlah antara 16 sampai dengan 20, berbentuk seperti sepatu kuda dan dihubungkan oleh otot polos. Ring-ring cartilago tersebut mensupport bagian depan dan samping, sedang bagian posteior ditutupi oleh otot-otot polos. Di carina, trachea bercabang menjadi dua, yaitu: (1) Bronchus utama kanan dan (2)Bronchus utama kiri, yang keduanya secara berturut-turut akan bercabang-cabang membentuk lobus dan segment-segment.

Percabangan bronchus utama yang sebelah kiri, membentuk sudut dengan trachea lebih tajam serta lebih panjang bila dibandingkan dengan yang kanan. Bentuk yang demikian ini menyebabkan memungkinkan aspirasi lebih mudah ke sisi kanan dari pada ke bronchus kanan. Dinding bronchus tersusun atas lempeng-lempeng cartilago yang tidak beraturan yang dihubungkan oleh otot-otot polos. Dindingnya terisi oleh sel-sel epithel yang merupakan kelanjutan dari trachea. Semakin mendekati ke sisi bronchus, lempengan-lempengan cartilago semakin menipis, sebaliknya, otot-otot polos dan serabut-serabut elastis menjadi lebih menonjol yang akan berpengaruh pada diameter dari bronchus. Sedang pada bronchiolus, tidak ditemukan adanya cartilago dan glandula mukosa, sedang sel goblet jumlahnya menurun. Disamping itu epithel pseudostratified aagan diganti dengan sel epithel cuboid yg bercilia, yang semakin mendekati ke arah alveoli cilianya semakin menghilang. Pada bronchiolus ini dapat kita temui adanya aalveolar macrophage yang berfungsi untuk memfagosit partikel-partikel kecil yang tidak tersaring. Ini juga merupakan bagian dari “defences mechanism”.

Ductus alveolus dibentuk oleh cabang-cabang dari broncheolus respiratorius. Dinding ductus alveolus disusun oleh serabut elastic dan serabut otot polos yg tipis. Lapisan ini lama-lama berkurang dan hanya tinggal epithel cuboid yg pendek. Ductus alveolus ini berakhir dengan beberapa alveolar sacs (kantung-kantung alveolus).

FISIOLOGI PERNAPASAN

Pernapasan adalah unik. Kebanyakan dari kita jarang yang memperhatikannya, karena pernapasan dapat terjadi secara automatis (tanpa disadari), namun pernapasan juga dapat terjadi dengan disadari (voluntary) misalnya ketika kita sedang berlatih pernapasan, bahkan pada saat seseorang tidak sadarpun, pernapasan masih juga berjalan. Pemahaman terhadap kerja dari sistem respirasi dapat menjadikan dasar bagi penalaran/logika dalam melakukan praktik. Dengan kata lain dengan memahami bagaimana sistem respirasi bekerja, maka problematika pasien dapat ditegakkan dengan tepat dan pemberian terapi yang efektif dapat diselenggarakan.

Fungsi utama dari sistem respirasi adalah pertukaran gas, dimana oksigen akan diambil dari alveolus dan akan dibawa oleh haemoglobin menuju ke jaringan yang akan diperlukan dalam proses metabolisme, disisi lain carbondioksida, sebagai hasil sisa dari metabolisme akan dibuang melaui pernapasan saat ekspirasi. Jika mekanisme tersebut berjalan baik, maka oksigen dalam pembuluh darah arteri, karbondioksida dan kadar pH akan tetap dalam batas-batas normal pada berbagai macam kondisi fisiologis yang berbeda. Untuk dapat memahami kerja dari istem respirasi, maka berikut ini secara berturutan akan dibahas tentang: (1) Definisi dari ventilasi, volume paru dan dead space/ruang rugi; (2) Distribusi ventilasi/gas; (3) Mekanika pernapasan; (4) Difusi; (5) Perfusi; (6) Ratio ventilasi/perfusi.

sumber :
materi kuliah FT D kardio pulmo pak. Nur Basuki, M. Physio
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

Skema Dermatom dan Sklerotom


Permukaan kulit dibagi menjadi daerah khusus yang disebut dermatom, yang berasal dari sel-sel somite suatu. Sel-sel yang berdiferensiasi menjadi somite berikut 3 daerah: (1) myotome, yang membentuk beberapa otot rangka; (2) dermatom, yang membentuk jaringan ikat, termasuk dermis; dan (3) sclerotome, yang menimbulkan tulang belakang. Sebuah dermatom adalah area kulit di mana saraf sensorik berasal dari akar saraf tulang belakang tunggal.






Dermatom adalah area kulit yang dipersarafi terutama oleh satu saraf spinalis. Ada 8 saraf servikal, 12 saraf torakal, 5 saraf lumbal dan 5 saraf sakral. Masing masing saraf menyampaikan rangsangan dari kulit yang dipersarafinya ke otak.

Dermatom sangat bermanfaat dalam bidang neurologi untuk menemukan tempat kerusakan saraf saraf spinalis. Karena kesakitan terbatas dermatom adalah gejala bukan penyebab dari masalah yang mendasari, operasi tidak boleh sekalipun ditentukan oleh rasa sakit. Sakit di daerah dermatom mengindikasikan kekurangan oksigen ke saraf seperti yang terjadi dalam peradangan di suatu tempat di sepanjang jalur saraf.

Sebuah gambar yang menggambarkan dermatom pada batang tubuh dan kembali dapat dilihat di bawah ini.

C1-C7 akar saraf tulang belakang muncul atas masing-masing; Akar saraf C8 muncul antara C7 dan tubuh vertebralis T1. Akar saraf tulang belakang yang tersisa muncul di bawah masing-masing.

Sepanjang dada dan perut, dermatom secara merata segmen spasi ditumpuk di atas satu lain, masing-masing disediakan oleh saraf tulang belakang yang berbeda. Dermatom sepanjang lengan dan kaki berbeda dari pola dermatom bagasi karena mereka menjalankan longitudinal sepanjang tungkai. Pola umum yang sama pada semua orang, tetapi variasi yang signifikan ada di peta dermatom dari orang ke orang.

Anatomi secara garis besar

Dasar anatomi, 
Sel tubuh dari saraf sensorik terletak di ganglia akar dorsal. Setiap akar dorsal berisi masukan dari semua struktur dalam distribusi segmen tubuh yang sesuai (yaitu, somite). Peta dermatomal menggambarkan distribusi sensorik untuk setiap tingkat. Peta-peta ini agak berbeda sesuai dengan metode yang digunakan dalam konstruksi mereka.

Grafik berdasarkan injeksi anestesi lokal menjadi satu band ganglia akar dorsal menunjukkan hypalgesia akan terus menerus longitudinal dari pinggiran ke tulang belakang. Peta berasal dari metode lain, seperti pengamatan herpes zoster distribusi lesi atau bagian akar bedah, menunjukkan pola diskontinyu. Selain itu, persarafan dari satu segmen ke yang lain tumpang tindih dermatomal jauh, lebih untuk menyentuh daripada untuk nyeri. Seperti perjalanan dermatom dari belakang ke dada dan perut, mereka cenderung mencelupkan inferior.

Klinis penting dermatom

·        Upper ekstremitas
o   C6 – Jempol
o   C7 – Jari tengah
o   C8 – Jari kelingking
o   T1 – Inner lengan
o   T2 – Upper dalam lengan
·        Turunkan ekstremitas
o   L3 – Lutut
o   L4 – Medial maleolus
o   L5 – Dorsum kaki
o   L5 – Toes 1-3
o   S1 – Toes 4 dan 5; lateral maleolus
·        Lainnya
o   C2 dan C3 – Posterior kepala dan leher
o   T4 – Puting susu
o   T10 – Umbilikus


Varian Alam

Dermatom adalah konsep dasar, belum banyak variabilitas yang ada antara peta dermatom dalam anatomi buku teks standar dan pedoman medis. Sebuah 2008 review 14 berbeda dermatom peta dengan Lee, McPhee, dan Stringer menunjukkan variasi yang mencolok dalam setiap individu peta. Hampir semua peta yang terakhir berdasarkan 2 sumber primer, Foerster (1933) dan / atau Keegan dan Garrett (1948).
Sebagian besar daerah kulit yang dipersarafi oleh 2 atau akar saraf tulang belakang lebih, yang mungkin menjadi alasan untuk variabilitas antara individu. Kemungkinan lain variabilitas seperti itu bisa karena anastomosis intersegmental intratekal dari rootlets tulang belakang punggung, memungkinkan neuron sensorik pada satu sel ganglion akar dorsal memasuki sumsum tulang belakang pada tingkat yang berbeda.


Pertimbangan Lain

Darah pasokan

Saraf tulang belakang dipasok oleh arteri anterior tunggal dan 2 tulang belakang posterior arteri. Arteri anterior memasok dua pertiga anterior kabel. Arteri spinalis posterior pasokan kolom dorsal. Kedua arteri spinalis timbul dari arteri vertebralis di leher dan turun dari dasar tengkorak. Aortas toraks dan abdomen memiliki cabang arteri radikuler untuk menyediakan pasokan darah tambahan ke arteri spinalis. Salah satu cabang terbesar radikuler, arteri Adamkiewicz, memasok arteri spinalis anterior, yang memasuki sumsum tulang belakang antara T5 dan L1, dengan entry point yang paling umum antara T9 dan T12.

Pembentukan

Dermatom berasal dari bagian luar dari embrio dari mana kulit dan jaringan subkutan dikembangkan dan menjadi daerah kulit yang dipersarafi oleh cabang ganglion dorsal root. Dalam embrio berkembang, dermatom muncul dari salah satu 3 segmen (somit) dari mesoderm, lapisan tengah jaringan embrionik. Dermatom disusun dengan pola segmental dasar dalam batang vertebrata, meskipun beberapa tumpang tindih ada dengan kawasan serupa atas dan di bawah.

Dermatologis pemetaan

Spinal Komponen
Kulit Distribusi
Divisi saraf trigeminal (CN V1, V2, dan V3)
Sebagian besar kulit wajah, termasuk aspek anterior rahang bawah (CN V3); daerah kulit di depan kedua telinga; unggul bagian dari aspek lateral daun telinga (CN V3)CN V3
Serviks pleksus (C2-C4)
Kulit di atas sudut mandibula, anterior dan di belakang telinga, leher anterior dan belakang kepala dan leher; rendah bagian dari aspek lateral aurikel dan kulit pada aspek medial daun telinga; lateral dan anterior aspek leher
Ketiga oksipital saraf dan divisi posterior C2-C6
Aspek posterior leher (dengan C2 innervating aspek superior dan C6 innervating akar leher)


DERMATOM KEPALA, WAJAH DAN LEHER
Spinal Komponen
Kulit Distribusi
T3 dermatom
Berjalan di sepanjang lempeng ketiga dan keempat
T4 dermatom
Nipple line
T6 dermatom
Pada tingkat proses xifoideus
T10 dermatom
tingkat umbilicus
T12 dermatom
Tepat di atas korset pinggul
Sisa saraf tulang belakang toraks dermatom
Relatif merata di antara yang disebutkan di atas dermatom toraks
L1 dermatom
Korset pinggul dan pangkal paha / daerah inguinal

Catatan:
Dermatom batang relatif merata spasi keluar; Namun, tumpang tindih dari innervations antara dermatom yang berdekatan sering terjadi. Jadi, hilangnya fungsi saraf aferen oleh salah satu saraf tulang belakang umumnya tidak akan menyebabkan hilangnya sensasi lengkap, namun penurunan sensasi mungkin dialami.
Dermatom dari batang dan kembali.

Spinal Komponen
Kulit Distribusi
Ketiga dan keempat saraf serviks
Terbatas daerah kulit atas aspek atas dari daerah dada dan bahu
C5 dermatom
Lateral aspek dari ekstremitas atas pada dan di atas siku
C6 dermatom
Lengan bawah dan sisi radial tangan
C7 dermatom
Jari tengah
C8 dermatom
Kulit di atas jari kecil dan aspek medial masing-masing tangan
T1 dermatom
Sisi medial lengan bawah
T2 dermatom
Aspek medial dan atas lengan dan daerah aksila

Catatan:
1.    Sekumpulan dermatom pada tungkai lebih kompleks daripada distribusi dermatomal dalam bagasi sebagai akibat dari tunas ekstremitas dan dermatom yang sesuai menjadi "menarik keluar" selama pengembangan awal embriologis.
2.  Medial, menengah, dan saraf supraklavikula lateral dari pleksus servikal pasokan distribusi dermatomal ke dada bagian atas, berbentuk delta, dan trapezius daerah luar. Posterior divisi dari atas 3 saraf thoraks pasokan wilayah atas daerah trapezius ke tulang belakang skapula. Para pleksus brakialis menimbulkan sebagian besar sisa persarafan kulit dari ekstremitas atas.
3.  Bertentangan dengan tumpang tindih dari dermatom bagasi, tumpang tindih antara saraf perifer anggota badan (ekstremitas atas dan bawah) jauh kurang luas. Jadi, pada tungkai, interupsi lengkap dari sebuah saraf perifer tunggal biasanya menghasilkan perubahan dalam sensasi yang, memang, dihargai oleh pasien.


DERMATOM DARI EKSTREMITAS

Spinal Komponen
Kulit Distribusi
L1 dermatom
Kulit di punggung lateral vertebra L1 dan membungkus di sekitar bagian batang / atas bawah ekstremitas bawah untuk korset pinggul dan daerah selangkangan
L2 dermatom
Anterior aspek masing-masing paha; kulit di atas aspek medial paha pertengahan
L3 dermatom
Anterior aspek masing-masing paha; anterolateral paha dan terus ke aspek medial lutut dan aspek medial tungkai bawah posterior, proksimal medial maleolus
L4 dermatom
Posterolateral paha dan daerah tibialis anterior; melintasi sendi lutut atas patela dan juga mencakup kulit di atas maleolus medial dan aspek medial kaki dan jari kaki yang besar
L5 dermatom
Posterolateral paha (hanya kalah dengan L4 dermatom) dan membungkus sekitar untuk aspek lateral tungkai bawah anterior dan dorsum kaki; melintasi sendi lutut pada aspek lateral lutut; juga mencakup aspek plantar kaki dan kedua melalui jari-jari kaki keempat
S1 dermatom
Sangat, aspek lateral kaki, aspek lateral paha posterior, dan sebagian kaki bagian bawah posterior
S2 dermatom
Sebagian besar bagian belakang paha dan area kecil sepanjang aspek medial tungkai bawah posterior; yang penis dan skrotum
S3 dermatom
Aspek medial dari bokong; daerah perianal; penis dan skrotum
S4 dermatom
Kulit di atas daerah perineum (bersama dengan S5); perianal area dan alat kelamin
S5 dermatom
Kulit di atas daerah perineum (bersama dengan S4); kulit segera pada dan berdekatan dengan anus



Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel