SELAMAT DATANG DI BLOG-NYA FISIOTERAPIS INDONESIA..........................................................................SEMUA TENTANG FISIOTERAPI ADA DISINI

Tampilkan postingan dengan label FT B Musculoskeletal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FT B Musculoskeletal. Tampilkan semua postingan

Elektrotherapy pada Nyeri Bahu

 Nyeri bahu sering dialami masyarakat. Sayang, gangguan sendi bahu ini kerap diremehkan dan dianggap sepele. Paling-paling karena terlalu lelah atau kurang bergerak. Begitu biasanya kita berpikir. Padahal, bila tidak segera diatasi, kualitas hidup penderita bakal terganggu.

Penyakit ini dapat bersifat idiopatik atau tidak diketahui penyebabnya, dapat pula didahului adanya trauma atau terkait penyakit diabetes mellitus, tiroid, dan tidak bergerak dalam waktu lama.

Kekakuan atau nyeri bahu ini ditandai oleh hilangnya kemampuan gerak bahu aktif dan pasif secara bertahap. Kelainan ini berkembang pada usia 40-70 tahun, dan lebih mudah terjadi pada perempuan.


Proses perjalanan penyakit ini meliputi penebalan dan kontraktur kapsul sendi yang terjadi melalui beberapa tahap yang bisa berlangsung bertahun-tahun. Kelainan ini merupakan penyebab nyeri bahu yang paling umum, dan menyerang 2-5 persen dari populasi. Sekitar 90 persen dari kasus kekakuan sendi itu bisa sembuh dengan sendirinya meski butuh waktu bertahun-tahun.

Sindroma nyeri bahu sangat komplek jika ditinjau dari penyebab dan spesifikasi jaringan yang umum apabila struktur jaringan tubuh (muskuloskeletal) mengalami lesi, hampir selalu diikuti dengan kerusakan jaringan. Kerusakan suatu jaringan akan berakibat perangsangan terhadap reseptor nyeri (nociceptor) sebagai “defence mechanism”yang berlanjut menjadi proses peradangan. Namun pada kondisi/lesi tertentu peradangan sangat mengganggu aktivitas fungsional walaupun pada peradangan fisiologis proses peradangan diikuti proses penyembuhan (repair).

Pada kondisi tertentu peradangan dapat menjadi patologis atau kronis sehingga perlu penanganan yang tepat. Sehingga pada kondisi cedera olah raga akan selalu muncul beberapa gejala berupa:
  • nyeri
  • pembengkakan
  • kerusakan jaringan kolagen dan jaringan lunak
  • gangguan stabilitas sendi karena kerusakan struktur stabilitator
  • bahkan gangguan koordinasi karena penurunan fungsi reaksi arthrokinetik
  • gangguan fungsi

Berikut ini beberapa faktor yang perlu diketahui sebagai penyebab rasa nyeri pada sistem muskuloskeletal menurut “physiological mechanisms”
  1. Nociceptor mechanism
  2. Nerve or root compression (neuropathic)
  3. Trauma (deafferentation pain)
  4. Inappropriate function in the control of muscle contraction
  5. Psychosomatis mechanism
Sering kita lihat, penyebab dan gejala klinis sakit pada otot-otot dan tulang adalah campuran dan beberapa faktor tersebut merupakan akibat dari nociceptor pain pada sendi-sendi tulang belakang. Juga neuropathic pain dari diskuis hernatus dan reaksi sakit akibat hipertonus reflex dari otot- otot tulang belakang. Dalam hal ini kemungkinan juga ada faktor psychosomatis.

Muscle Spasme and Pain

Classification of pain according to pathogenetic mechanisms
  • Nociceptor pain: Specialized sensory nerve endings excited by pathophysiological processes
    • e.g. inflamed joint
  • Neuropathic pain: Afferent nerve fibres become directly responsive to stimuli after damage by compression or biomechanical disorders 
    • e.g. herniated disk diabetic polyneurophaty
  • Deafferentation pain: Neurons in central nervous sistem become hyperexcitable after loss of output,
    • e.g. root avulsion, nerve transection.
  • Reactive pain: Nociceptor excitation by dysfunctional motor or symphatetic efferent or reflex mechanisms, 
    • e.g. muscular hypertonus sympathetic algodystrophy
  • Psychosomatis pain: Psychic and psychosocial problems aggravate existing pain or are expressed in the language of pain
Physiological mechanism of pain in the musculo-skeletal system

Nociceptor


Sensory element yang dapat mengirim sinyal ke CNS akan hal-hal yang berpotensi membahayakan. Sangat banyak terdapat pada tubuh kita serabut-serabut afferent-nya terdiri dari:
  • A delta fibres, yaitu serabut saraf dengan myelin yang tipis
  • C fibres, serabut saraf tanpa selaput myelin
Tidak semua serabut-serabut tersebut berfungsi sebagal nociceptors, ada juga yang bereaksi terhadap rangsangan panas atau stimulasi mekanik. Sebaliknya nociceptor serabut-serabut sensory besar, seperti A Alpha, A Beta atau Group I, II. Serabut-serabut sensory besar ini berfungsi pada “proprioception” dan “motor control”.

Nociceptors (specialised sensory receptors that respond to pain) can cause chronic pain if they are damaged. (A) In the normal state, if a nociceptor is activated by a noxious stimulus, the nerve cell transmits the information via the sensory system to create a painful sensation in the brain. (B) If the nociceptor is damaged, it can start firing randomly and activate other nerves that eventually cause phantom pain. (C) If the nociceptor was an inhibitory nerve, its inactivation through damage could activate other nerves in the sensory network that eventually cause phantom pain.
Nociceptor sangat peka terhadap rangsangan kimia (chemical stimuli). Pada tubuh kita terdapat “algesic chemical substance” seperti Bradykinine, Potassium ion, Serotonin, Prostaglandin dan lain-lain.

Substance P, suatu Neuropeptide yang dilepas dari ujung-ujung saraf tepi nociceptive tipe C, mengakibatkan peningkatan mikrosirkulasi lokal, ekstravasasi plasma. Fenomena ini disebut sebagal “neurogenic inflammation” yang pada keadaan lanjut menghasilkan noxius/chemical stimuli, sehingga menimbulkan rasa sakit.

Disregulasi sistem motorik yang menyebabkan rasa sakit. Kita ketahui hipertonus otot dapat menyebabkan rasa sakit. Pada umumnya otot-otot yang terlibat adalah misalnya pada bahu rotaor cuff otot stabilisator bisep brachialis, elevator scapula, thermocleido mastoideus.

Nociceptive stimulus diterima oleh serabut-serabut afferent ke spinal cord, menghasilkan kontraksi beberapa otot akibat “spinal motor reflexes”. Nociceptive stimulus ini dapat dijumpai di beberapa tempat seperti kulit, visceral organ, bahkan otot sendiri. Reflex itu sendiri sebenarnya bermanfaat bagi tubuh kita, misalnya “withdrawal reflex” merupakan mekanisme survival dari organisma.

Disamping fungsi tersebut kita juga sadari bahwa kontraksi otot-otot tadi dapat meningkatkan rasa sakit, melalui stimulasi nociceptor di dalam otot dan tendon. Makin sering dan kuat nociceptor tersebut terstimulasi, makin kuat reflex aktivitas terhadap otot-otot tersebut. Hal ini akan meningkatkan rasa sakitnya, sehingga menimbulkan keadaan “vicious circle” kondisi in akan diperburuk lagi dengan adanya ischemia lokal, sebagai akibat dari kontraksi otot yang kuat dan terus menerus atau mikrosirkulasi yang tidak adekuat sebagai, akibat dari disregulasi sistem simpatik.

Pada situasi ini, modulasi nyeri berada pada tingkat reseptor yang ditandai dengan gejala nyeri yang hebat, radang, dengan aktivitas tinggi atau rendah. Nyeri berdasarkan pada regio lesi misalnya disekitar sendi glenohumeral bagian anterior. Pada situasi berikutnya nyeri dapat bersifat menyebar apabila aktivasi fungsi sympatis tidak terkontrol atau disebut neurovegetative disbalance seperti terdapat pada gambar.

Physiological mechanisma of pain in the musculo-skeletal system

Input serabut afferent dari organ visceral, kulit, sendi, tendon, otot-otot atau impulse dari otak yang turun ke spinal dapat mempengaruhi rangsangan (excitability) dari Alpha dan Gamma motor neuron yang berakibat kontraksi otot (muscle stiffnes) misalnya meningkatkan input nociceptive dari intratorakal akan meningkatkan tonus otot dari otot yang mendapat inervasi somatis thorakal misalnya: intercostalis, serratus anterior dan otot yang melintasi struktur segemen C5 dan C6.

Disamping itu input nociceptive dari sendi kapsul dapat meningkatkan “reflex excitability” dari beberapa otot antagonis yang bersangkutan dengan pergerakan sendi tersebut sehingga hal ini dapat memblok sendi tersebut disebut juga sebagai neurogenic block. Pengaruh yang paling besar berasal dari otak, stress dan emosi dapat mengakibatkan “descending excitatory pathway”, sehingga merangsang peningkatan reflex dari otot-otot postural regio servical. Pada situasi ini aktivasi nociceptor bersifat spinal menuju supraspinal yang akan menunjukkan nyeri rujukan pada sistem somatis maupun sympatis perifer.

Secara somatis neurofisiologis sendi bahu mendapat inervasi somatis dari segmen cervical 5, 6 (C5 dan C6). Segemen ini juga memberikan distribusi inervasi ke struktur otot, sendi dan kulit (lihat skema preganglioner neuron segmental C5, C6 dan segmen Th4, Th5, Th6).

Neurofysiologis menunjukkan bahwa segmen C5 dan C6 tidak mempunyai sistem simpatis yang menginervasi pembuluh darah pada struktur yang disarafi secara somatis. Untuk memenuhi kebutuhan suplai vaskuler maka semua struktur inervasi somatis dari C5 dan C6 mendapat cabang persarafan dari sympatis perifer yang berasal dari segmen thorakal 5, 6 (Th5, Th6).

Thorakal 5, 6 juga harus bertanggung jawab terhadap persarafan somatis dari struktur : otot, kulit, sendi dan persarafan organ intratorakal dan intraabdominal yaitu : jantung, paru, gaster, osophagus dan hati.

Secara sederhana dapat dipahami bahwa aktivasi nociceptor sendi bahu dapat di rujuk ke sistem somatis akan menghasilkan nyeri rujukan pada struktur otot, sendi, kulit yang mendapat inervasi segmen somatis C5, C6, misalnya nyeri bahu dapat menimbulkan keluhan nyeri yang hebat pada otot rhomboideus dan otot rotator cuff.

Pada keadaan ini maka spasme otot juga dapat menyebar ke regio lain baik pada struktur otot, sendi maupun kulit sehingga nyeri bersifat menyebar. (Lihat gambar di bawah ini). Intervensi fisioterapis secara sederhana sebaiknya memberikan modulasi nyeri level spinal dengan TENS.

Pada keadaan lanjut rujukan nyeri dapat mencapai segmen thorakal. Segmen thorakal bertanggung jawab terhadap persarafan somatis pada regio somatis thorakal itu sendiri dan bertanggung jawab terhadap symnpatis perifer dari struktur inervasi somatis C5, C6 maupun sympatis asli organ intrathorakal dan intra abdominal. Dengan istilah lain sumber nyeri dari sindroma nyeri bahu dapat berasal dari segementasi perifer somatis, sympatis perifer dan sympatis asli.

Dari gambaran klinis sering dijumpai nyeri bahu (syndroma nyeri bahu) sering dijumpai bahwa terjadi ada entrapment dari segemen C5 dan C6 atau terjadinya entrapment pada thoracal 4 yang sering disebut sebagai sindroma Th4. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa organ thorakal dirasakan nyeri bahu misalnya infare myocord akut atau angina pectoralis. Di sisi lain nyeri lambung kronis (gastritis kronis) juga sering memberikan keluhan nyeri pada regio thoracal scapula yang ditandai dengan spasme yang sangat kuat.

Berdasarkan uraian singkat mengenai gambaran nyeri bahu secara neurofisiologi dan secara klinis maka dapat dipahami secara sederhana tentang teori nyeri sebagai berikut :

Teori Nyeri
Ada 3 teori yang berusaha menjelaskan bagaiman nyeri itu timbul dan terasa, yaitu :
  • Teori spesifik
Teori yang mengemukakan bahwa reseptor dikhususkan untuk menerima suatu stimulus yang spesifik, yang selanjutnya dihantarkan melalui serabut A delta dan serabut C di perifer dan traktus spinothalamikus di medulla spinalis menuju ke pusat nyeri di thalamus. Tori ini tidak mengemukakan komponen psikologis.
  • Teori pola (pattern)
Teori ini menyatakan bahwa elemen utama pada nyeri adalah pola informasi sensoris. Pola aksi potensial yang timbul oleh adanya suatu stimulus timbul pada tingkat saraf perifer dan stimulus tertentu menimbulkan pola aksi potensial tertentu. Pola aksi potensial untuk nyeri berbeda dengan pola untuk rasa sentuhan.
  • Teori kontrol gerbang (gate control)
Melzak dan Wall tahun 1965 mengemukakan teori kontrol gerbang yang banyak diterima banyak ahli. Teori ini berkembang dari segi mekanisme neurofisiologi yang menyangkut pengontrolan nyeri dari perifer maupun sentral. Konsep dasarnya menggabungkan teori spesifik dan teori pola ditambah dengan interaksi antara afferen perifer dan sistem modulasi yang berbeda di medulla spinalis (subtansia gelatinosa). Selain itu juga mengemukakan sistem modulasi descenden (dari pusat ke perifer).
Menurut teori ini, afferen terdiri dari dua kelompok serabut, yaitu kelompok yang berdiameter besar (A-beta) dan serabut berdiameter kecil (A-delta dan C). Kedua kelompok afferen ini berinteraksi dengan substansia gelatinosa ini berfungsi sebagai modulator (gerbang kontrol) terhadap A-bera, A-delta dan C.
Apabila subsatansia gelatinosa (SG) aktif, gerbang akan menutup. Sebaliknya apabila SG menurun aktivitasnya, gerbang membuka. Aktif dan tidaknya SG tergantung pada kelompok afferen mana yang terangsang.
Apabila serabut berdiameter besar terangsang, SG menjadi aktif dan gerbang menutup. Ini berarti bahwa rangsang yang menuju pusat melalui transitting cell (T-cell) terhenti atau menurun. Serabut A-beta adalah penghantar rangsang non-nociceptive (bukan nyeri) misalnya sentuhan, proprioceptive.
Apabila kelompok berdiameter kecil (A-delta, C) terangsang, SG akan menurun aktivitasnya sehingga gerabang membuka. A-delta dan C adalah serabut pembawa rangsang nociceptive, sehingga kalau serabut ini terangsang, gerbang akan membuka dan rangsang nyeri akan diteruskan ke pusat.

Modulasi Nyeri
Nyeri merupakan gejala yang mendorong seseorang mencari pertolongan pelayanan kesehatan termasuk fisioterapis. Untuk itu, fisioterapis perlu memahami mekanisme bagaimana nyeri tersebut dihilangkan atau dikurangi, dengan kata lain bagaimana memodulasi nyeri.
Ada beberapa tingkat dalam susunan aferen dimana nyeri dapat dimodulasi.
a. Pada reseptor

Pada tingkat ini, sasaran modulasi pada reseptor di perifer. Modulasi diperoleh dengan :
  • Menurunkan eksitabilitas reseptor (misalnya dengan pendinginan)
  • Menghilangkan faktor perangsang reseptor, misalnya dengan memperlancar proses pembuangan melalui peredaran darah.
  • Menurunkan tingkat aktivitas gamma-neuron, misalnya dengan pemanasan
b. Tingkat spinal
Pada tingkat ini, sasaran modulasi pada subtansia gelatinosa dengan tujuan memberikan inhibisi terhadap transmisi stimulus nyeri. Berdasarkan tori kontrol gerbang oleh Melzak dan Wall, maka untuk dapat menghilangkan atau mengurangi nyeri, SG harus diaktifkan sehingga gerbagn menutup. Untuk dapat menutup gerbang tersebut, perlu ada stimulasi terhadap serabut berdiameter besar (A-beta) dengan rangsang non-reciceptive, misalnya dengan:
  • TENS
  • Manipulasi yang lembut
c. Tingkat supraspinal

Pada tingkat ini kontrol nyeri yang dilakukan oleh peri aquaductal gray matter (PAG) di mid brain. PAG mengirim stimulus ke nucleus raphe magnus (NRM) yang selanjutnya ke tanduk belakang medulla spinalis (PHC). NRM akan menghambat afferen A-delta. Selain itu NRM juga juga memacu timbulnya serotonin. PAG memodulasi nyeri melalui produksi endorphin di PHC dengan perantaraan NRM. Melalui locus ceruleus (LC) dan medial lateral pada brachial nucleus. PAG juga memodulasi nyeri dengan enkephalin di PHC. Mayer dan Price menemukan bahwa Low frequency high voltage TENS menghasilkan endorphin (endogenous morphine like substance, identik dengan opium). Dengan uraian tersebut, maka modulasi nyeri pada tingkat supraspinal ada 2 kemungkinan mekanisme yang terlibat, yaitu jalur endorphine dan jalur serotonin.

d. Tingkat sentral
 
Pada tingkat sentral ini, komponen kognitif dan psikologik berperan di dalam memodulasi nyeri. Hal ini ditentukan oleh sikap seseorang terhadap nyeri dan emosi yang mengendalikan seseorang tentara yang sedang berperang tidak nerasakan nyeri yang hebat meskipun menderita luka berat. Hal ini menunjukkan bahwa nyeri meliputi dua aspek yaitu aspek sensoris dan psikologis. Dengan demikian susunan saraf pusat juga berperan dalam memodulasi nyeri.

Konsep tempat “pain dumping” dengan elektro terapi

Strategi, terapi tentu berdasarkan pengenalan akan patogenesis dari rasa sakit tadi, misalnya apabila rasa sakit akibat inflammasi atau trauma, maka pemberian terapi dengan tujuan mengurangi inflammasi dan mengurangi nyeri bisa dikatakan sangat tepat, misalnya degan TENS, Interferensi dan SWD pulsa.

Tetapi tentu kita juga akan mengurangi hipertonus otot-otot di lokasi tersebut. Pengobatan untuk megurangi rangsangan (excitation) pada interneuronal pool atau pada motor neuron itu sendiri akan menurunkan aktivitas dari motor neuron tersebut sehingga ketegangan otot (muscle tension) juga ikut mengendor.

Metode terapi ini akan lebih tepat menggunakan stimulasi listrik dengan arus listrik frekuensi menengan atau frekuensi. tinggi, misalnya interferensi, SWD dan sebagainya.
Cara untuk menurunkan rangsangan ini dapat diperoleh dengan:
  1. Meghambat impulse serabut afferent pembawa nyeri (nociceptive) atau serabut afferent tipe III b / IV (A delta. dan C) melalui serabut afferent tipe II/III a. Metode ini dapat dilakukan dengan, menggunakan arus interferensi atau diadinamik dengan teknik aplikasi lokal, regional, segmental ataupun trigger point. (Modulasi Spinal)
  2. Mengaktifkan sistem neuron penghambat (inhibitory neuronal sistem) supraspinal turun ke sel-sel sensoris (dorsal horn) medulla spinalis interneuronal pool di medulla spinalis. Metode ini dikenal dengan teori “Gate Control”. (Modulasi Spinal)
  3. Mengaktifkan sistem neurovegetatif
  4. Metode ini dapat menggunakan stimulasi elektris dengan arus frekuensi rendah misal arus 2-5 dan frekuensi menengah (arus interfernsi)). Pada prinsipnya akan merangsang nociceptive untuk pembebasan substance P yang bermanfaat sebagai vasodilatator pembuluh darah perifer sehingga akan terjadi perbaikan sistem vaskularisasi. Sedangkan untuk merangsang nociceptor dapat menggunakan energi mekanik atau energi elektrik yang dihasilkan oleh US atau arus listrik dengan pulsa yang progresif (arus 2-5, arus interferensi). Metode aplikasinya dapat dilakukan secara kombinasi antara inferensi dengan ultrasonik guna mencari titik peka rangsang yang kurang bisa dideteksi dengan arus frekuensi rendah atau arus listrik frekuensi menengah saja. Adapun titik peka rangsang dapat ditemukan di sepanjang vertebra yang dikenal dengan istilah “trigger point”. Kualitas trigger point dapat berupa allodynia, hyperaesthesia dan hyperalgesia. Aplikasi aktivasi neurovegetative dapat dilakukan dengan metode segmental somasis maupun metode segmental sympatis. (Modulasi Supra Spinal)
  5. Memperbaiki proses peradangan (Modulasi Perifer/Receptor)Pada dasarnya setiap peradangan akan terjadi kerusakan jaringan collagen, sehingga untuk memperbaiki regenerasi jaringan collagen perlu mengetahui fase penyembuhan cedera/lesi jaringan lunak, yang meliputi:

  • Fase kerusakan jaringan
  • Fase perdarahan
  • Fase peradangan
  • Fase regenerasi
  • Fase prolferasi, produksi, remondelling? sembuh

Penggunaan arus frekuensi tinggi (US, SWD) sangat membantu pada setiap fasem proses stimulasi termal-altermal secara lokal, regional maupun segmental
Selain itu pada penggunaan US dan atau SWD, kita harus selalu memperhatikan aktualitas dan suatu kondisi.
Pada aplikasi elektroterapi, perlu memahami minimal 3 (tiga) aspek yaitu :
i. Aspek teknis yang berliubungan dengan fisika dasar dari alat elektrbterapi yang digunakan.
ii. Aspek spesifikasi jaringan yang hendak diterapi, untuk menentukan indikasi dan kontra indikasi serta dosis penatalaksanaan terapi.
iii. Aspek pathogenesis dari suatu lesi atau kelainan yang bertujuan untuk menentukan dosis terapi.

Artikel asli lengkap dengan Gambar silakan rujuk di www.fisiosby.com
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

Ankle Sprain Rehabilitation Exercises

As soon as you can tolerate pressure on the ball of your foot, begin stretching your ankle using the towel stretch. When this stretch is too easy, try the standing calf stretch and soleus stretch. 


Towel stretch
Sit on a hard surface with one leg stretched out in front of you. Loop a towel around your toes and the ball of your foot and pull the towel toward your body keeping your knee straight. Hold this position for 15 to 30 seconds then relax. Repeat 3 times. 

Standing calf stretch
Facing a wall, put your hands against the wall at about eye level. Keep one leg back with the heel on the floor, and the other leg forward. Turn your back foot slightly inward (as if you were pigeon-toed) as you slowly lean into the wall until you feel a stretch in the back of your calf. Hold for 15 to 30 seconds. Repeat 3 times and then switch the position of your legs and repeat the exercise 3 times. Do this exercise several times each day. 

Standing soleus stretch
Stand facing a wall with your hands on a wall at about chest level. With both knees slightly bent and one foot back, gently lean into the wall until you feel a stretch in your lower calf. Angle the toes of your back foot slightly inward and keep your heel down on the floor. Hold this for 15 to 30 seconds. Return to the starting position. Repeat 3 times. 

You can do the next 5 exercises when your ankle swelling has stopped increasing. 

Ankle range of motion
Sitting or lying down with your legs straight and your knee toward the ceiling, move your ankle up and down by pointing your toes toward your nose, then away from your body; in toward your other foot and out away from your other foot; and in circles. Only move your foot and ankle. Don't move your leg. Repeat 10 times in each direction. Push hard in all directions. 

Resisted ankle dorsiflexion
Sit with one leg out straight and your foot facing a doorway. Tie a loop in one end of elastic tubing. Put your foot through the loop so that the tubing goes around the arch of your foot. Tie a knot in the other end of the tubing and shut the knot in the door. Move backward until there is tension in the tubing. Keeping your knee straight, pull your foot toward your body, stretching the tubing. Slowly return to the starting position. Do 3 sets of 10. 

Resisted ankle plantar flexion
Sit with your leg outstretched and loop the middle section of the tubing around the ball of your foot. Hold the ends of the tubing in both hands. Gently press the ball of your foot down and point your toes, stretching the tubing. Return to the starting position. Do 3 sets of 10. 

Resisted ankle inversion
Sit with your legs out straight and cross one leg over your other ankle. Wrap elastic tubing around the ball of your bottom foot and then loop it around your top foot so that the tubing is anchored there at one end. Hold the other end of the tubing in your hand. Turn your bottom foot inward and upward. This will stretch the tubing. Return to the starting position. Do 3 sets of 10

Resisted ankle eversion
Sit with both legs stretched out in front of you, with your feet about a shoulder's width apart. Tie a loop in one end of elastic tubing. Put one foot through the loop so that the tubing goes around the arch of that foot and wraps around the outside of the other foot. Hold onto the other end of the tubing with your hand to provide tension. Turn the foot with the tubing up and out. Make sure you keep your other foot still so that it will allow the tubing to stretch as you move your foot with the tubing. Return to the starting position. Do 3 sets of 10. 


You may do the rest of the exercises when you can stand on your injured ankle without pain.

Heel raise
Balance yourself while standing behind a chair or counter. Using the chair to help you, raise your body up onto your toes and hold for 5 seconds. Then slowly lower yourself down without holding onto the chair. Hold onto the chair or counter if you need to. When this exercise becomes less painful, try lowering on one leg only. Repeat 10 times. Do 3 sets of 10. 

Step-up
Stand with the foot of your injured leg on a support (like a small step or block of wood) 3 to 5 inches high. Keep your other foot flat on the floor. Shift your weight onto your injured leg on the support straighten your knee as the other leg comes off the floor. Lower your leg back to the floor slowly. Do 3 sets of 10. 

Balance and reach exercises 
  1. Stand upright next to a chair with your injured leg farthest from the chair. This will provide you with support if you need it. Stand just on the foot of your injured leg. Try to raise the arch of this foot while keeping your toes on the floor. 
  2. Keep your foot in this position and reach forward in front of you with the hand farthest away from the chair, allowing your knee to bend. Repeat this 10 times while maintaining the arch height. This exercise can be made more difficult by reaching farther in front of you. Do 2 sets. 
  3. Stand in the same position as above. While maintaining your arch height, reach the hand farthest away from the chair across your body toward the chair. The farther you reach, the more challenging the exercise. Do 2 sets of 10. 
Jump rope
Jump rope landing, on both legs, for 5 minutes, then on only one leg at a time for 5 minutes. 

Wobble board exercises

  1. Stand on a wobble board with your feet shoulder width apart. Rock the board forwards and backwards 30 times, then side to side 30 times. Hold on to a chair if you need support. 
  2. Rotate the wobble board around so that the edge of the board is in contact with the floor at all times. Do this 30 times in a clockwise and then a counterclockwise direction. 
  3. Balance on the wobble board for as long as you can without letting the edges touch the floor. Try to do this for 2 minutes without touching the floor. 
  4. Rotate the wobble board in clockwise and counterclockwise circles, but do not allow the edge of the board to touch the floor. 
  5. When you have mastered exercises A through D, try repeating them while standing on only one leg (your injured leg). 
  6. Once you can do these exercises on one leg, try to do them with your eyes closed. Make sure you have something nearby to support you in case you lose your balance. 

Written by Tammy White, MS, PT, and Phyllis Clapis, PT, DHSc, OCS, for RelayHealth. Published by RelayHealth. 
© 2009 RelayHealth and/or its affiliates. All Rights Reserved.
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

Fisioterapi pada frozen shoulder akibat hemiplegia

PENDAHULUAN

Ditengah masyarakat sering dijumpai pasien dengan kelumpuhan separuh badan yang dapat mengakibatkan terganggunya aktifitas bahu, hal ini membuat penderita semakin sulit berbuat sesuatu dalam keluarganya, dan pada umumnya hidup dengan bantuan orang lain, sehingga terkadang timbul rasa benci pada diri sendiri dan rasa rendah diri di dalam keluarga akibatketergantungan hidup dengan orang lain.


Pada dasarnya gangguan keterbatasan sendi bahu ini dapat disebabkan oleh berbagai macam penyebab, salah satu di antaranya adalah akibat kelumpuhan separuh badan. Kondisi frozen shoulder akibat kelumpuhan separuh badan ini selain membutuhkan obat-obatan, juga tidak kalah pentingnya adalah pengobatan fisioterapi terutama dengan menggunakan modalitas exercise therapy, sebab sampai saat ini tidak ada obat yang dapat mengatasi gangguan gerak dan kekakuan sendi kecuali dengan exercise therapy yang tepat.

ANATOMI DAN FISIOLOGI TERAPAN

1) Shoulder Joint

Gerakan-gerakan yang terjadi di gelang bahu dimungkinkan oleh sejumlah sendi yang saling berhubungan erat, misalnya sendi kostovertebral atas, sendi akromioklavikular, sendi sternoklavikular, permukaan pergeseran skapulotorakal dan sendi glenohumeral atau sendi bahu. Gangguan gerakan di dalam sendi bahu sering mempunyai konsekuensi untuk sendi-sendi yang lain di gelang bahu dan sebaliknya.Sendi bahu dibentuk oleh kepala tulang humerus dan mangkok sendi, disebut cavitas glenoidalis. Sendi ini menghasilkan gerakan fungsional sehari-hari seperti menyisir, menggaruk kepala, mengambil dompet dan sebagainya atas kerja sama yang harmonis dan simultan dengan sendi-sendi lainnya. Cavitas glenoidalis sebagai mangkok sendi bentuknya agak cekung tempat melekatnya kepala tulang humerus dengan diameter cavitas glenoidalis yang pendek kira-kira hanya mencakup sepertiga bagian dan kepala tulang sendinya yang agak besar, keadaan ini otomatis membuat sendi tersebut tidak stabil namun paling luas gerakannya. Beberapa karakteristik daripada sendi bahu, yaitu:
  1. Perbandingan antara permukaan mangkok sendinya dengan kepala sendinya tidak sebanding.
  2. Kapsul sendinya relatif lemah.
  3. Otot-otot pembungkus sendinya relatif lemah, seperti otot supraspinatus, infrapinatus, teresminor dan subscapularis.
  4. Gerakannya paling luas.
  5. Stabilitas sendinya relatif kurang stabil.

Dengan melihat keadaan sendi tersebut, maka sendi bahu lebih mudah mengalami gangguanfungsi dibandingkan dengan sendi lainnya

2) Kapsul Sendi

Kapsul sendi terdiri atas 2 lapisan (Haagenars),

(a) Kapsul Sinovial (lapisan bagian dalam) dengan karakteristik mempunyai jaringan fibrokolagen agak lunak dan tidak memiliki saraf reseptor dan pembuluh darah. Fungsinya menghasilkan cairan sinovial sendi dan sebagai transformator makanan ke tulang rawan sendi. Bila ada gangguan pada sendi yang ringan saja, maka yang pertama kali mengalami gangguan fungsi adalah kapsul sinovial, tetapi karena kapsul tersebut tidak memiliki reseptor nyeri, maka kita tidak merasa nyeri apabila ada gangguan, misalnya pada artrosis sendi.

(b) Kapsul FibrosaKarakteristiknya berupa jaringan fibrous keras dan memiliki saraf reseptor dan pembuluhdarah. Fungsinya memelihara posisi dan stabititas sendi, memelihara regenerasi kapsul sendi.Kita dapat merasakan posisi sendi dan merasakan nyeri bila rangsangan tersebut sudahsampai di kapsul fibrosa.

3) Kartilago

Kartilago atau ujung tulang rawan sendi berfungsi sebagai bantalan sendi, sehingga tidak nyeri sewaktu penderita berjalan. Namun demikian pada gerakan tertentu sendi dapat nyeriakibat gangguan yang dikenal dengan degenerasi kartilago (Weiss,1979)

FROZEN SHOULDER

Frozen shoulder adalah suatu gangguan bahu yang sedikit atau sama sekali tidak menimbulkan rasa sakit, tidak memperlihatkan kelainan pada foto Rontgen, tetapi menunjukkan adanya pembatasan gerak.

Frozen shoulder dapat diidentikkan dengan capsulitis adhesif dan periarthritis yang ditandai dengan keterbatasan gerak baik secara pasif maupun aktif pada semua pola gerak. Pada penderita kelumpuhan separuh badan (hemiplegia), otot-otot sekitar sendi bahunya mengalami kelumpuhan. Posisi menggantung lengan disertai hilangnya kekuatan otot dan pengikat sendi (ligamen) sebagai penyangga mengakibatkan keluarnya kepala sendi dari mangkoknya yang disebut subluksasi sendi bahu sehingga mengakibatkan tidak sempurnanya scapulo humeral rhythm. Bila lengan digerakkan ke atas secara pasif, gerakan berputar tulang belikat dan terangkatnya tulang akromion yang dibutuhkan tidak terjadi, sehingga tonjolan tulang humerus membentur tulang akromion dan penderita merasa sakit. Stabilisasi pasif sendi (ligament) coracohumrale yang berfungsi dalam mekanisme pengerem terhadap gerakan berlebihan sendi bahu sering terganggu akibat hilangnya mekanisme perlindungan otot-otot bahu; akibatnya, fungsinya sebagai pengerem hilang, sehingga pada keadaan tersebut otot-otot sekitar sendi bahu (rotator cuff) akan sangat mudah mengalami cedera atau terjadinya penguluran yang berlebihan yang dikenal dengan over stretch. 

Dengan berbagai faktor di atas, penderita cenderung takut bila lengannya digerakkan ke atas,dan mempertahankan lengan nya dalam posisi mendekat di badan (adduksi). Bila hal ini terjadi dan berlangsung lama, akan mengakibatkan perlengketan kapsul dan mengkerutnya kapsul sendi sehingga gerakan sendi tersebut akan mengalami keterbatasan dan bertambahnyeri.

Gejala
  1. Adanya nyeri sekitar bahu.
  2. Keterbatasan gerak sendi bahu, misalnya pasien tidak dapat mengangkat lengannya, tidak dapat menyisir, tidak dapat mengambil dompet.
  3. Otot-otot daerah sendi bahu nampak mengecil.

Fase-fase Frozen Shoulder

Pengetahuan mengenai fase-fase ini sangat penting artinya terutama dalam pelaksanaan terapi fisioterapi.

Fase I
Dari 24 jam sampai dengan minggu I setelah trauma dengan gejala-gejala: nyeri yang dominan, gerakan sendi terbatas ke segala arah karena sakit, dan kadang-kadang disertai bengkak.

Fase II
Dari minggu II sampai dengan IV setelah trauma, dengan gejala-gejala yang dominan : jarak gerak sendi (ROM) terbatas, kaku terutama pada abduksi dan exorotasi, nyeri tajam pada akhir ROM dan gangguan koordinasi dan aktivitas lengan/bahu.

Fase III
Setelah minggu IV, dengan gejala-gejala dominan : bahu kaku dan terkunci pada ROM tertentu serta timbulnya subtle sign , gerakan sendi bahu sangat terbatas, membesarnya otot-otot daerah gelang bahu dan sedikit rasa nyeri.

PEMERIKSAAN FISIOTERAPI

Pemeriksaan fisioterapi pada kondisi frozen shoulder akibat kelumpuhan separuh badan, sebagai berikut:
a) Anamnesis Umum : Identitas penderita
b) Anamnesis khusus:
  1. Keluhan utama penderita
  2. Lokasi keluhan utama
  3. Sifat keluhan utama
  4. Lamanya keluhan
  5. Faktor-faktor yang memperberat keluhan.

c) Inspeksi : Dilakukan dalam posisi statis dan dinamis penderita.
d) Tes Orientasi : Untuk melihat kemampuan aktivitas lengan.
e) Pemeriksaan Fungsi Dasar : Gerakan aktif, pasif dan tes isometrik melawan tahanan sendi bahu.
f) Pemeriksaan Spesifik:
  1. Tes intra artikular (Joint Play Movement) sendi bahu.
  2. Tes kekuatan otot.
  3. Tes koordinasi gerakan.
  4. Tes sirkumferentia otot (lingkar otot) daerah bahu.


TINDAKAN FISIOTERAPI

Tindakan fisioterapi pada kasus frozen shoulder akibat kelumpuhan separuh badan didasarkan atas problematik yang terjadi pada pasien. Adapun masalah yang sering mengganggu pasien seperti ini adalah : rasa nyeri gerak, terbatasnya ROM sendi bahu, kelemahan otot-otot daerah bahu, tidak mampu melakukan gerakan-gerakan fungsional, yaitu: menyisir rambut, mengambil sesuatu yang tinggi, mengambil dompet.

Tujuan fisioterapi :
  1. Mengatasi rasa nyeri pada bahu.
  2. Menambah gerak sendi bahu
  3. Meningkatkan kekuatan otot-otot bahu.4.Mengembalikan aktifitas fungsional bahu.

Pelaksanaan Fisioterapi :

1) Elektro Terapi
Elektro terapi yang digunakan pada kondisi ini adalah Continuous Electro Magnetic 27 MHz (CEM). Merupakan arus AC dengan frekuensi terapi 27 MHz yang memproduksi energi elektromagnetik dengan panjang gelombang 11,6 meter, digunakan untuk menimbulkan berbagai efek terapeutik melalui suatu proses tertentu dalam jaringan tubuh. Arus CEM ini menghasilkan energi internal kinetika didalam jaringan tubuh sehingga timbul panas; energi ini akan menimbulkan pengaruh biofisika tubuh misalnya pada thermosensor lokal maupunsentral (kulit dan hipotalamus) dan juga terhadap struktur persendian. Tujuan yang diharapkan dan arus CEM ini adalah menurunkan aktifitas noxe sehingga nyeri berkurang, meningkatkan elastisitas aringan dan sebagai pendahuluan sebelum exercises.

2) Terapi Manipulasi
Terapi manipulasi yang diberikan adalah gerakan roll dan slide pada gerakan-gerakan sendi bahu yang mengalami keterbatasan.Tujuan metode ini adalah membebaskan perlengketan pada permukaan sendi, sehingga jarak gerak sendi akan bertambah.Dasar teknik ini adalah memperhatikan bentuk kedua permukaan sendi dan mengikuti aturan Hukum Konkaf dan Konveks suatu persendian.

3) Exercises Therapy
Exercises therapy yang diberikan pada kondisi tersebut adalah latihan Resistance Exercises dan Metode Proprioceptive Neuromuscular Facilitation (PNF) yang bertujuan meningkatkankekuatan otot daerah bahu baik manual maupun dengan menggunakan beban. Selain itu jugadapat diberikan latihan dengan teknik Hold Relax yang bertujuan untuk mengulur otot -ototyang memendek pada daerah bahu. Latihan tersebut sebaiknya dilaksanakan setelah penderita mendapatkan modalitas elektroterapi.

4) Latihan aktivitas sehari-hari
Bentuk aktivitas yang bermanfaat bagi penderita frozen shoulder adalah menyisir rambut,mengambil sesuatu yang tinggi, mengambil dompet, memutar lengan, dan mengangkat bebanyang kecil-kecil.

KEPUSTAKAAN
1. Djohan Aras. Penatalaksanaan fisioterapi pada frozen shoulder, Akfis Ujungpandang.1994.
2. de Wolf AN, Mens JMA. Pemeriksaan alat penggerak tubuh, diagnostik fisis umum, cet11, Bohn Statleu Van Loghum Houten/Zaventem. 1994.
3. Kisner C. Lynn AC. Therapeutic exercises foundation and techniques, ed. 11.Philadelphia,USA: F.A. Davis Co. 1990.
4. Djohan Aras. Pelatihan Elektro Terapi. Makalah Akfis. Ujungpandang. 1993.
5. Priguna Sidharta. Sakit neuromuskuloskeletal dal praktek umum, Pustaka Universitas UI,Jakarta. 1983.
6. Soeharyono. Sinkronisasi gerak persendian daerah gelang bahu pada gerak abduksilengan. Maj Fisioterapi 1994; 2(23).
7. Purnomo. Fisioterapi pada kapsulitis adhesive, TITAFI ke VI, Jakarta. 1988.7. Cailliet R. Soft tissue pain and disability. Philadelphia, USA: F.A. Davis Co. 1977.
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

Bahu Beku (Frozen Shoulder)

Adhesive Capsulitis adalah istilah medis untuk Bahu beku (Frozen Shoulder). Ini adalah kondisi yang mempengaruhi kemampuan untuk menggerakkan bahu, dan biasanya hanya terjadi pada satu sisi.



Gejala Capsulitis Adhesive


Kondisi ini telah digambarkan dalam tiga fase, gejala akan berbeda tergantung pada fase kondisi.

The Painful (Freezing) Phase

  • Secara bertahap timbulnya nyeri bahu.
  • Berkembang nyeri secara luas, sering buruk di malam hari dan ketika berbaring pada sisi yang terkena.
  • Fase ini dapat berlangsung antara 2-9 bulan.

The Stiffening (Frozen) Phase

  • Kekakuan mulai menjadi sebuah masalah.
  • Tingkat nyeri biasanya tidak mengubah.
  • Kesulitan dengan kegiatan sehari-hari seperti berpakaian, menyiapkan makanan, membawa tas, bekerja.
  • kerugian karena penyusutan otot mungkin jelas karena kurang digunakan.
  • Tahap ini bisa bertahan antara 4-12 bulan.

The Thawing Phase

  • Secara bertahap perbaikan dalam kemampuan gerak
  • Secara bertahap penurunan nyeri, meskipun mungkin muncul kembali sebagaimanamengakibatkan kekakuan
  • Tahap ini bisa bertahan antara 5-12 bulan

Apa itu  Frozen Shoulder ?

Capsulitis Adhesive adalah istilah medis untuk bahu beku, kadang-kadang disingkat FSS (Frozen Soulder Syndrome). Ini adalah kondisi yang mempengaruhi kemampuan untuk menggerakkan bahu, dan biasanya hanya terjadi pada satu sisi. Kadang-kadang masalah dapat menyebar ke bahu lain (sekitar 1 orang dalam 5 orang).

Istilah medis secara harfiah menggambarkan apa yang dilihat dalam kondisi ini. Adhesive berarti kaku dan capsulitis berarti peradangan pada kapsul sendi. Diperkirakan bahwa banyak gejala disebabkan oleh kapsul yang menjadi meradang dan'lengket', membuat sendi kaku dan sulit untuk bergerak. Ini tidak sama dengan artritis dan tidak ada sendi lainnya biasanya terpengaruh.

Bahu beku sangatlah jarang di kalangan anak muda, dan hampir selalu ditemukan pada kelompok usia 40 +, biasanya dalam rentang usia 40-70. Sekitar 3% dari populasi akan terkena dampak ini, dengan kejadian yang sedikit lebih tinggi di antara wanita, danprevalensi lima kali lebih tinggi pada penderita diabetes.

Apa penyebabnya?

Ada dua klasifikasi dari sindrom bahu beku:
  • Primer - Tidak ada alasan yang signifikan untuk nyeri / kekakuan.
  • Sekunder - Sebagai hasil dari suatu peristiwa seperti trauma, pembedahan ataupenyakit.
Tidak diketahui persis apa yang menyebabkan masalah ini, namun diperkirakan bahwalapisan sendi (kapsul) menjadi meradang, yang menyebabkan jaringan parut terbentuk.Ini meninggalkan sedikit ruang untuk humerus (tulang lengan) untuk bergerak, makamembatasi pergerakan sendi.

Prevalensi meningkat di kalangan penderita diabetes (terutama bergantung pada insulindiabetes) mungkin karena molekul glukosa menempel pada serat kolagen dalam kapsul sendi, yang menyebabkan kekakuan. Untuk alasan ini, penderita diabetes lebih mungkinmemiliki kedua bahunya terpengaruh.

Perubahan hormon mungkin bertanggung jawab terhadap kejadian lebih tinggi di antaraperempuan, khususnya karena prevalensi meningkat sekitar periode menopause.

Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa postur tubuh yang buruk, terutama mengitari bahunya, dapat menyebabkan pemendekan salah satu ligamen bahu, yang juga dapat menyebabkan kondisi ini. Juga, perpanjangan imobilitas (seperti setelah patah tulang) dapat menyebabkan kondisi ini untuk berkembang.

somber : http://www.sportsinjuryclinic.net
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

Bahu Beku (Frozen Shoulder)

Adhesive Capsulitis adalah istilah medis untuk Bahu beku (Frozen Shoulder). Ini adalah kondisi yang mempengaruhi kemampuan untuk menggerakkan bahu, dan biasanya hanya terjadi pada satu sisi.


Gejala Capsulitis Adhesive

Kondisi ini telah digambarkan dalam tiga fase, gejala akan berbeda tergantung pada fase kondisi.

The Painful (Freezing) Phase

  • Secara bertahap timbulnya nyeri bahu.
  • Berkembang nyeri secara luas, sering buruk di malam hari dan ketika berbaring pada sisi yang terkena.
  • Fase ini dapat berlangsung antara 2-9 bulan.

The Stiffening (Frozen) Phase

  • Kekakuan mulai menjadi sebuah masalah.
  • Tingkat nyeri biasanya tidak mengubah.
  • Kesulitan dengan kegiatan sehari-hari seperti berpakaian, menyiapkan makanan, membawa tas, bekerja.
  • kerugian karena penyusutan otot mungkin jelas karena kurang digunakan.
  • Tahap ini bisa bertahan antara 4-12 bulan.

The Thawing Phase

  • Secara bertahap perbaikan dalam kemampuan gerak
  • Secara bertahap penurunan nyeri, meskipun mungkin muncul kembali sebagaimanamengakibatkan kekakuan
  • Tahap ini bisa bertahan antara 5-12 bulan
Apa itu  Frozen Shoulder ?

Capsulitis Adhesive adalah istilah medis untuk bahu beku, kadang-kadang disingkat FSS (Frozen Soulder Syndrome). Ini adalah kondisi yang mempengaruhi kemampuan untuk menggerakkan bahu, dan biasanya hanya terjadi pada satu sisi. Kadang-kadang masalah dapat menyebar ke bahu lain (sekitar 1 orang dalam 5 orang).

Istilah medis secara harfiah menggambarkan apa yang dilihat dalam kondisi ini. Adhesive berarti kaku dan capsulitis berarti peradangan pada kapsul sendi. Diperkirakan bahwa banyak gejala disebabkan oleh kapsul yang menjadi meradang dan'lengket', membuat sendi kaku dan sulit untuk bergerak. Ini tidak sama dengan artritis dan tidak ada sendi lainnya biasanya terpengaruh.

Bahu beku sangatlah jarang di kalangan anak muda, dan hampir selalu ditemukan pada kelompok usia 40 +, biasanya dalam rentang usia 40-70. Sekitar 3% dari populasi akan terkena dampak ini, dengan kejadian yang sedikit lebih tinggi di antara wanita, danprevalensi lima kali lebih tinggi pada penderita diabetes.

Apa penyebabnya?

Ada dua klasifikasi dari sindrom bahu beku:
  • Primer - Tidak ada alasan yang signifikan untuk nyeri / kekakuan.
  • Sekunder - Sebagai hasil dari suatu peristiwa seperti trauma, pembedahan ataupenyakit.
Tidak diketahui persis apa yang menyebabkan masalah ini, namun diperkirakan bahwalapisan sendi (kapsul) menjadi meradang, yang menyebabkan jaringan parut terbentuk.Ini meninggalkan sedikit ruang untuk humerus (tulang lengan) untuk bergerak, makamembatasi pergerakan sendi.

Prevalensi meningkat di kalangan penderita diabetes (terutama bergantung pada insulindiabetes) mungkin karena molekul glukosa menempel pada serat kolagen dalam kapsul sendi, yang menyebabkan kekakuan. Untuk alasan ini, penderita diabetes lebih mungkinmemiliki kedua bahunya terpengaruh.

Perubahan hormon mungkin bertanggung jawab terhadap kejadian lebih tinggi di antaraperempuan, khususnya karena prevalensi meningkat sekitar periode menopause.

Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa postur tubuh yang buruk, terutama mengitari bahunya, dapat menyebabkan pemendekan salah satu ligamen bahu, yang juga dapat menyebabkan kondisi ini. Juga, perpanjangan imobilitas (seperti setelah patah tulang) dapat menyebabkan kondisi ini untuk berkembang.

Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

OSTEOARTHRITIS


Osteoarthritis secara umum

Apakah osteoarthritis itu?

Osteoarthritis merupakan arthritis yang bersifat non-peradangan yang berefek pada sendi sinovial, sebagian besar terjadi pada usia lanjut dan ditandai oleh rasa sakit dan kelumpuhan. Osteoarthritis merupakan tipe arthritis yang paling umum dan juga dikenal sebagai penyakit degeneratif karena berhubungan dengan ‘keausan’ sendi.

Apakah sendi sinovial itu dan apa yang terjadi pada sendi sinovial saat osteoarthritis?

Osteoarthritis berdampak pada sendi sinovial. Sendi sinovial terdapat pada persendian dimana berbagai gerakan mungkin dilakukan. Sendi sinovial merupakan suatu sistem dimana sebagian tulang dilapisi tulang rawan artikular dan dilumasi oleh cairan sinovial. Pada osteoarthritis, ditemui ketiadaan tulang rawan artikular dengan proliferasi tulang baru dan perbaikan sendi. Sendi sinovial meliputi pergelangan tangan, lutut, pergelangan kaki, bahu, dan pinggul.

Siapakah yang lebih beresiko terkena osteoarthritis?

Prevalensi penderita osteoarthritis meningkat seiring umur. Prevalensi serupa ditemukan pada pria dan wanita yang berumur 45-55 tahun. Setelah umur 55 tahun, prevalensinya menjadi lebih besar pada wanita.

Apakah yang menyebabkan osteoarthritis?

Ada banyak faktor yang memiliki peran dalam perkembangan osteoarthritis. Faktor-faktor tersebut diantaranya:

  • Faktor genetik
  • Jenis kelamin dan status hormonal
  • Riwayat keluarga
  • Kondisi kelebihan berat badan
  • Cedera sendi
  • Faktor bekerja dan waktu luang (trauma akibat pekerjaan yang berupa aktivitas perulangan, misalnya tukang jahit, buruh pabrik, dll)
  • Sering berjongkok atau berlutut
  • Pekerjaan yang melibatkan mengangkat beban berat
  • Menaiki tangga
  • Latihan berat (namun pelari maraton memiliki osteoarthritis relatif lebih rendah pada umumnya. Beberapa ilmuwan berspekulasi bahwa berlari meningkatkan kesehatan tulang rawan)
  • Infeksi tulang
  • Bentuk sendi (seperti adanya permukaan yang tidak pas pada sendi, panjang tungkai yang tidak seimbang, atau kaki yang melenceng)

Bagaimana saya mengetahui apabila saya memiliki osteoarthritis?

Penyakit ini ditandai dengan ciri klinis klasik antara gejala-gejala utama yang menarik perhatian pasien, yaitu RASA SAKIT dan BATASAN FUNGSIONAL.

Jika Anda telah mengamati dan mendapatkan ciri-ciri di bawah ini tentang rasa sakit Anda maka Anda harus berkonsultasi dengan dokter:

  • Rasa sakit Anda berawal tanpa sadar namun menjadi semakin parah (melebihi hitungan bulan atau tahun).
  • Rasa sakit Anda beragam atau tidak konsisten sepanjang waktu dan Anda mengalami hari-hari yang baik (tanpa atau dengan rasa sakit yang sedikit) dan hari-hari yang buruk (dengan rasa sakit).
  • Rasa sakit Anda terutama terkait dengan pergerakan dan saat membawa beban.
  • Rasa sakit Anda terasa pulih saat diistirahatkan.
  • Sendi Anda terasa kaku saat bangun pagi namun hanya sebentar (kurang dari 15 menit).
  • Hanya beberapa sendi yang terasa sakit (bukan rasa sakit pada beberapa bagian tubuh).
  • Rasa sakit dibarengi oleh sensasi gerusan/gesekan (crepitus).

Saat osteoarthritis melibatkan tulang belakang, penyakit tersebut dapat mempengaruhi tulang leher dan punggung bawah, serta dapat menyebabkan mati rasa, perasaan geli yang tidak nyaman, rasa sakit atau lemah yang ekstrem.

Tes apa sajakah yang harus saya lakukan?

Osteoarthritis terutama hasil dari diagnosis klinik, namun Anda bisa jadi ditanyai oleh dokter untuk melakukan beberapa pemeriksaan, yang paling umum adalah rontgen sinar-X pada sendi yang terkena dampaknya, sebagai bukti pendukung dan juga untuk menilai derajat kerusakan.

Masalah apa sajakah yang dapat dihasilkan dari osteoarthritis?

Jika osteoarthritis tidak ditangani dengan baik, khususnya pada tahap awal penyakit, penyakit ini dapat mengakibatkan cacat yang tidak dapat diperbaiki. Pada awalnya terdapat pembengkakan ringan di sekitar sendi seiring dengan aktivitas yang terganggu pada sendi. Perlahan-lahan akan dapat berkembang ke arah terbuangnya otot dan cacat tulang.

Bagaimana osteoarthritis dapat ditanggulangi dan dirawat?

Pilihan penanganan dan perawatannya meliputi:

Perubahan Gaya Hidup:

  • Hindari ketegangan berlebihan pada sendi.
  • Jagalah berat tubuh sehat untuk menghindari membebani tekanan lebih pada sendi Anda.
  • Pemanasan/pendinginan sebelum dan sesudah latihan atau berolah raga.
  • Gunakan sepatu yang tepat.
  • Penggunaan alat bantu seperti tongkat atau alat bantu jalan juga dapat meringankan ketegangan.
  • Penggunaan alat pendukung yang elastis pada sendi yang vital atau mengalami penyakit ini.
  • Latihan (beragam gerakan, isometrik, isotonik, isokinetik, postural, penguatan) memelihara tulang rawan yang sehat dan beragam gerakan serta membangun tendon dan otot yang dapat menampung tekanan.
  • Pacu dan dorong diri anda. Terapis pekerjaan dapat membantu Anda mengubah lingkungan rumah dan pekerjaan Anda.
  • Teknik rehabilitasi, yang difokuskan pada mencegah disfungsi, mencoba memulai pengelolaan sebelum timbulnya kecacatan, dan menurunkan keparahan atau lamanya kondisi cacat/kelumpuhan

Perawatan Farmakologis:

Terapi menggunakan obat secara umum mesti menjadi bagian kecil dari pengelolaan optimum. Peringanan rasa sakit dan peningkatan kemampuan pergerakan sendi merupakan dua tujuan dasar dari terapi yang menggunakan obat. Obat-obatan berikut ini bisa jadi berguna:

  • Asetaminofen
  • Obat-obatan anti-peradangan tanpa steroid (jika respon klinis terhadap asetaminofen tidak memuaskan).
  • Obat perelaksasi otot
  • Opioid
  • Kondroitin sulfat dn glukosamin
  • Suntikan intra-artikuler

Penanganan Melalui Operasi:

Jika salah satu sendi menjadi rusak cukup parah, atau jika rasa sakitnya terlalu berat, Anda bisa jadi direkomendasikan untuk pembedahan.

Ada berbagai jenis operasi atau pembedahan untuk osteoarthritis. Dengan beberapa pembedahan, sedikit bagian tulang rawan dibuang dari sendi. Pembedahan-pembedahan lainnya berguna untuk memperbaiki atau membangun kembali bagian-bagian dari tulang, atau mengganti sendi alami pasien dengan sendi buatan.

Apakah perlu adanya perubahan pola makan?

  • Kombinasi glukosamin dan kondroitin sulfat digunakan sebagai suplemen makanan untuk memulihkan gejala-gejala osteothritis.
  • Vitamin D dan kalsium dianjurkan untuk menguatkan tulang.
  • Pola makan dalam menurunkan berat badan pada tingkatan tertentu juga dapat membantu dan bermanfaat.
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

OSTEOARTHRITIS


Osteoarthritis secara umum

Apakah osteoarthritis itu?

Osteoarthritis merupakan arthritis yang bersifat non-peradangan yang berefek pada sendi sinovial, sebagian besar terjadi pada usia lanjut dan ditandai oleh rasa sakit dan kelumpuhan. Osteoarthritis merupakan tipe arthritis yang paling umum dan juga dikenal sebagai penyakit degeneratif karena berhubungan dengan ‘keausan’ sendi.

Apakah sendi sinovial itu dan apa yang terjadi pada sendi sinovial saat osteoarthritis?

Osteoarthritis berdampak pada sendi sinovial. Sendi sinovial terdapat pada persendian dimana berbagai gerakan mungkin dilakukan. Sendi sinovial merupakan suatu sistem dimana sebagian tulang dilapisi tulang rawan artikular dan dilumasi oleh cairan sinovial. Pada osteoarthritis, ditemui ketiadaan tulang rawan artikular dengan proliferasi tulang baru dan perbaikan sendi. Sendi sinovial meliputi pergelangan tangan, lutut, pergelangan kaki, bahu, dan pinggul.

Siapakah yang lebih beresiko terkena osteoarthritis?

Prevalensi penderita osteoarthritis meningkat seiring umur. Prevalensi serupa ditemukan pada pria dan wanita yang berumur 45-55 tahun. Setelah umur 55 tahun, prevalensinya menjadi lebih besar pada wanita.

Apakah yang menyebabkan osteoarthritis?

Ada banyak faktor yang memiliki peran dalam perkembangan osteoarthritis. Faktor-faktor tersebut diantaranya:

  • Faktor genetik
  • Jenis kelamin dan status hormonal
  • Riwayat keluarga
  • Kondisi kelebihan berat badan
  • Cedera sendi
  • Faktor bekerja dan waktu luang (trauma akibat pekerjaan yang berupa aktivitas perulangan, misalnya tukang jahit, buruh pabrik, dll)
  • Sering berjongkok atau berlutut
  • Pekerjaan yang melibatkan mengangkat beban berat
  • Menaiki tangga
  • Latihan berat (namun pelari maraton memiliki osteoarthritis relatif lebih rendah pada umumnya. Beberapa ilmuwan berspekulasi bahwa berlari meningkatkan kesehatan tulang rawan)
  • Infeksi tulang
  • Bentuk sendi (seperti adanya permukaan yang tidak pas pada sendi, panjang tungkai yang tidak seimbang, atau kaki yang melenceng)

Bagaimana saya mengetahui apabila saya memiliki osteoarthritis?

Penyakit ini ditandai dengan ciri klinis klasik antara gejala-gejala utama yang menarik perhatian pasien, yaitu RASA SAKIT dan BATASAN FUNGSIONAL.

Jika Anda telah mengamati dan mendapatkan ciri-ciri di bawah ini tentang rasa sakit Anda maka Anda harus berkonsultasi dengan dokter:

  • Rasa sakit Anda berawal tanpa sadar namun menjadi semakin parah (melebihi hitungan bulan atau tahun).
  • Rasa sakit Anda beragam atau tidak konsisten sepanjang waktu dan Anda mengalami hari-hari yang baik (tanpa atau dengan rasa sakit yang sedikit) dan hari-hari yang buruk (dengan rasa sakit).
  • Rasa sakit Anda terutama terkait dengan pergerakan dan saat membawa beban.
  • Rasa sakit Anda terasa pulih saat diistirahatkan.
  • Sendi Anda terasa kaku saat bangun pagi namun hanya sebentar (kurang dari 15 menit).
  • Hanya beberapa sendi yang terasa sakit (bukan rasa sakit pada beberapa bagian tubuh).
  • Rasa sakit dibarengi oleh sensasi gerusan/gesekan (crepitus).

Saat osteoarthritis melibatkan tulang belakang, penyakit tersebut dapat mempengaruhi tulang leher dan punggung bawah, serta dapat menyebabkan mati rasa, perasaan geli yang tidak nyaman, rasa sakit atau lemah yang ekstrem.

Tes apa sajakah yang harus saya lakukan?

Osteoarthritis terutama hasil dari diagnosis klinik, namun Anda bisa jadi ditanyai oleh dokter untuk melakukan beberapa pemeriksaan, yang paling umum adalah rontgen sinar-X pada sendi yang terkena dampaknya, sebagai bukti pendukung dan juga untuk menilai derajat kerusakan.

Masalah apa sajakah yang dapat dihasilkan dari osteoarthritis?

Jika osteoarthritis tidak ditangani dengan baik, khususnya pada tahap awal penyakit, penyakit ini dapat mengakibatkan cacat yang tidak dapat diperbaiki. Pada awalnya terdapat pembengkakan ringan di sekitar sendi seiring dengan aktivitas yang terganggu pada sendi. Perlahan-lahan akan dapat berkembang ke arah terbuangnya otot dan cacat tulang.

Bagaimana osteoarthritis dapat ditanggulangi dan dirawat?

Pilihan penanganan dan perawatannya meliputi:

Perubahan Gaya Hidup:

  • Hindari ketegangan berlebihan pada sendi.
  • Jagalah berat tubuh sehat untuk menghindari membebani tekanan lebih pada sendi Anda.
  • Pemanasan/pendinginan sebelum dan sesudah latihan atau berolah raga.
  • Gunakan sepatu yang tepat.
  • Penggunaan alat bantu seperti tongkat atau alat bantu jalan juga dapat meringankan ketegangan.
  • Penggunaan alat pendukung yang elastis pada sendi yang vital atau mengalami penyakit ini.
  • Latihan (beragam gerakan, isometrik, isotonik, isokinetik, postural, penguatan) memelihara tulang rawan yang sehat dan beragam gerakan serta membangun tendon dan otot yang dapat menampung tekanan.
  • Pacu dan dorong diri anda. Terapis pekerjaan dapat membantu Anda mengubah lingkungan rumah dan pekerjaan Anda.
  • Teknik rehabilitasi, yang difokuskan pada mencegah disfungsi, mencoba memulai pengelolaan sebelum timbulnya kecacatan, dan menurunkan keparahan atau lamanya kondisi cacat/kelumpuhan

Perawatan Farmakologis:

Terapi menggunakan obat secara umum mesti menjadi bagian kecil dari pengelolaan optimum. Peringanan rasa sakit dan peningkatan kemampuan pergerakan sendi merupakan dua tujuan dasar dari terapi yang menggunakan obat. Obat-obatan berikut ini bisa jadi berguna:

  • Asetaminofen
  • Obat-obatan anti-peradangan tanpa steroid (jika respon klinis terhadap asetaminofen tidak memuaskan).
  • Obat perelaksasi otot
  • Opioid
  • Kondroitin sulfat dn glukosamin
  • Suntikan intra-artikuler

Penanganan Melalui Operasi:

Jika salah satu sendi menjadi rusak cukup parah, atau jika rasa sakitnya terlalu berat, Anda bisa jadi direkomendasikan untuk pembedahan.

Ada berbagai jenis operasi atau pembedahan untuk osteoarthritis. Dengan beberapa pembedahan, sedikit bagian tulang rawan dibuang dari sendi. Pembedahan-pembedahan lainnya berguna untuk memperbaiki atau membangun kembali bagian-bagian dari tulang, atau mengganti sendi alami pasien dengan sendi buatan.

Apakah perlu adanya perubahan pola makan?

  • Kombinasi glukosamin dan kondroitin sulfat digunakan sebagai suplemen makanan untuk memulihkan gejala-gejala osteothritis.
  • Vitamin D dan kalsium dianjurkan untuk menguatkan tulang.
  • Pola makan dalam menurunkan berat badan pada tingkatan tertentu juga dapat membantu dan bermanfaat.
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel