SELAMAT DATANG DI BLOG-NYA FISIOTERAPIS INDONESIA..........................................................................SEMUA TENTANG FISIOTERAPI ADA DISINI

Tampilkan postingan dengan label Terapi Wicara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terapi Wicara. Tampilkan semua postingan

Terapi Wicara

Tahukah Anda terapi Wicara?? Terapi wicara adalah suatu ilmu/kiat yang mempelajari perilaku komunikasi normal/abnormal yang dipergunakan untuk memberikan terapi pada penderita gangguan perilaku komunikasi, yaitu kelainan kemampuan bahasa, bicara, suara, irama/kelancaran, sehingga penderita mampu berinteraksi dengan lingkungan secara wajar.

Kelainan kemampuan bahasa, bicara, suara, irama/kelancaran terjadi karena adanya penyakit, gangguan fisik, psikis ataupun sosiologis. Kelainan ini dapat timbul pada masa prenatal, natal maupun post natal. Selain itu penyebabnya bisa dari Heriditer, Congenital maupun Acquired. Kelainan berkomunikasi dibedakan menjadi:

  1. Kelainan Bicara
  2. Kelainan Bahasa
  3. Kelainan Suara
  4. Kelainan Irama/Kelancaran

Kelainan Bicara
Merupakan salah satu jenis kelainan berkomunikasi yang ditandai adanya kesalahan proses produksi bunyi bicara, baik itu yang terjadi pada POA (Point Of Articulation) dan/atau MOA (Manner OF Articulation).

Disaudia. Gangguan bicara/artikulasi yang berhubungan dengan adanya kesulitan/gangguan feedback auditory, dapat terjadi karena gangguan pendengaran.

Dislogia. Kelainan berkomunikasi yang disertai kerusakan mental. Rendahnya kecerdasan menyebabkan kesulitan dalam mengamati serta mengolah dalam pembentukan konsep dan pengertian bahasa.

Disartria. Kelainan bicara akibat gangguan koordinasi otot-otot organ bicara sehubungan adanya kerusakan/gangguan sistem syaraf pusat maupun perifer.

Disglosia. Kelainan bicara akibat adanya kelainan bentuk dan/atau struktur organ bicara, khususnya organ artikulator.

Dislalia. Gangguan artikulasi yang disebabkan ketaknormalan di luar organ wicara dan bukan dikarenakan kerusakan sistem syaraf pusat maupun perfer dan psikologis tapi merupakan gangguan fungsi artikulasi.

Kelainan Bahasa
Merupakan salah satu jenis kelainan berkomunikasi, dimana penderita mengalami kesulitan/kehilangan kemampuan dalam proses simbolisasi bahasa. Kelainan ini diakibatkan oleh adanya kerusakan otak dan diartikan sebagai kerusakan sebagian atau seluruh dari pemahaman bahasa, perumusan, penggunaan bahasa. Tidak termasuk gangguan yang dihubungkan dengan berkurangnya sensor primer, keadaan mental yang memburuk dan gangguan psikis.

  • Afasia Perkembangan/Anak
  • Afasia Dewasa

Kelainan Suara
Gangguan suara yang utamanya disebabkan oleh aksi atau perilaku pita suara, intensitas suara dan/atau kualitas suara yang tidak sesuai untuk individu tersebut dalam kaitannya dengan usia, jenis kelamin atau lingkungan.

  • Kelainan kenyaringan suara
  • Kelainan nada suara
  • Kelainan kualitas suara


Kelainan Irama/Kelancaran

Stuttering/Gagap. Gangguan kelancaran bicara yang berupa adanya pengulangan, perpanjangan, penghentian pada kata dan suku kata.

Cluttering. Gangguan bicara yang ditandai dengan adanya irama sangat cepat sehingga terjadi misartikulasi dan sulit dimengerti.

Palilalia. Kecenderungan mengulang kata atau phrase pada waktu mengucapkan kalimat.

Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

Kondisi yang ditangani Terapi Wicara

Dipersembahkan oleh Alat fisioterapi

kondisi - kondisi Gangguan bahasa bicara yang bisa ditangani oleh Terapis Wicara

Terapi Wicara
Pelayanan Terapi Wicara adalah pelayanan kesehatan profesional berdasarkan ilmu pengetahuan, teknologi dalam bidang prilaku komunikasi untuk meningkatkan dan memulihkan kemampuan prilaku komunikasi, yang berhubungan dengan kemampuan bahasa, wicara, suara dan irama/kelancaran yang diakibatkan oleh adanya gangguan/kelainan anatomis,fisiologis psikologis dan sosiologis.
Gangguan bahasa bicara bisa terjadi pada kondisi-kondisi :
Autisme
ADD/ADHD
Tuna Rungu
Cerebral Palsy
Mental Retardasi
Gangguan Tumbuh Kembang
Pasca Serangan Stroke
Pasca Pengangkatan Laring
Celah langit-langit
Gagap
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

Terapi wicara utk tuna rungu dan non tuna rungu

Terapi Wicara untuk Tuna Rungu vs Non Tuna Rungu

Dipersembahkan oleh Alat fisioterapi

Gangguan bicara bisa dibedakan pada tuna rungu (karena gangguan pendengaran) dan pada non tuna rungu (karena sebab lain seperti autis dan stroke).
Anak autis misalnya, walaupun ada gangguan bicara tetapi sebenarnya bisa mendengar. Walaupun tidak/belum bicara tetapi proses pemasukan kosa kata melalui telinga terus berlangsung sejak masih bayi. Kemungkinan besar ia mengerti apa yang didengarnya, hanya saja perlu bantuan untuk bisa berbicara dengan baik. Dalam hal ini peran terapis adalah melatih si anak berkonsentrasi, memperkenalkan prinsip-prinsip berkomunikasi (misal lewat permainan gantian/giliran) dan melatih berbicara (termasuk pengucapannya).
Pada orang yang pasca stroke dan mengalami gangguan bicara, peran terapis lebih ke membantu untuk kembali bisa mengucapkan kata-kata dengan jelas. Di sini penderita tidak perlu diajarkan prinsip berkomunikasi verbal karena ia bahkan sudah pernah melakukannnya.
Walaupun agak berbeda dengan kasus autis, keduanya mempunyai kesamaan yaitu bisa mendengar. Artinya proses 'input' bagus, tetapi karena suatu gangguan menyebabkan 'output'nya bermasalah.
Pada anak tuna rungu, 'output'nya bermasalah justru karena gangguan pada 'input'. (Note: sepanjang tidak mengalami gangguan lain selain pendengaran, alias bukan dobel handicap.)
Memanfaatkan sisa pendengaran yang ada, dengan ABD gangguan pada input itu dikurangi semaksimal mungkin sehingga si anak bisa mendengar dengan lebih baik (walau tidak sempurna). Tapi tak jarang kita jumpai terapis wicara yang bahkan tidak tahu anak kita bisa mendengar dengan bantuan ABD, sehingga cara terapinya sepenuhnya mengandalkan gerak bibir. Bagi sebagian orang tua yang memilih metode terapi wicara mungkin tidak masalah.
Tetapi bagi kami yang menerapkan terapi terpadu (mendengar + wicara), kami lebih prefer pemasukan kosa kata alias 'input'nya yang utama melalui telinga (bukan melihat gerak bibir) sementara terapi wicara untuk membantu output yaitu pengucapan kata-kata yang si anak sudah mengerti tapi kesulitan mengucapkannya (Plus pada saat awal memperkenalkan prinsip berkomunikasi, karena saat itu kalau ada orang yang ngajak bicara, Ellen masih cenderung menirukan, bukan gantian bicara).
Dalam hal ini terapis wicara minimal harus tahu bahwa si anak bisa mendengar. Selanjutnya kami juga perlu sharingkan prinsip-prinsip dasar terapi mendengar agar dia tahu kalau kami juga menjalankan terapi lain (secara lisan, pinjamkan artikel) serta model terapi terpadu yang kami hendak jalankan dengan bantuan dia.
Jika terapis wicara tidak tahu kalau si anak bisa mendengar, pada saat permainan gantian misalnya, ia akan memberi aba-aba "Ellen" "Ibu" "Ellen" "Ibu" dst dengan cara berteriak sambil meminta Ellen memperhatikan gerak bibirnya. Sementara dengan pendekatan terapi mendengar/TAV, aba-aba seperti itu dilakukan secara full verbal, jadi sekaligus untuk melatih si anak mengenali suara. (Note: bahkan di TAV si terapis menutupi mulutnya dengan tangan/kertas agar tidak terlihat gerak bibirnya, tetapi kami sendiri jarang begitu karena kadang Ellen malah ikut menutupi mulutnya; kami lebih sering mengucapkannya dari samping/belakang.)
Dengan pemahaman sederhana bahwa si anak bisa mendengar, terapis wicara diharapkan tidak terlalu menuntut si anak melihat gerak bibirnya -kecuali tentunya pada saat belajar membentuk pengucapan yang benar.
Tidak mudah memang memperkenalkan metode ini ke terapis wicara yang biasanya beranggapan anak tuna rungu tidak bisa mendengar. Tetapi tidak sedikit juga yang bersikap terbuka dan bisa diajak bekerjasama membantu perkembangan si anak. (by: papa Ellen)
Ditulis Oleh Richa Rochmah,Amd.TW
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

Terapi wicara utk tuna rungu dan non tuna rungu

Dipersembahkan oleh Alat fisioterapi

Terapi Wicara untuk Tuna Rungu vs Non Tuna Rungu

Gangguan bicara bisa dibedakan pada tuna rungu (karena gangguan pendengaran) dan pada non tuna rungu (karena sebab lain seperti autis dan stroke).
Anak autis misalnya, walaupun ada gangguan bicara tetapi sebenarnya bisa mendengar. Walaupun tidak/belum bicara tetapi proses pemasukan kosa kata melalui telinga terus berlangsung sejak masih bayi. Kemungkinan besar ia mengerti apa yang didengarnya, hanya saja perlu bantuan untuk bisa berbicara dengan baik. Dalam hal ini peran terapis adalah melatih si anak berkonsentrasi, memperkenalkan prinsip-prinsip berkomunikasi (misal lewat permainan gantian/giliran) dan melatih berbicara (termasuk pengucapannya).
Pada orang yang pasca stroke dan mengalami gangguan bicara, peran terapis lebih ke membantu untuk kembali bisa mengucapkan kata-kata dengan jelas. Di sini penderita tidak perlu diajarkan prinsip berkomunikasi verbal karena ia bahkan sudah pernah melakukannnya.
Walaupun agak berbeda dengan kasus autis, keduanya mempunyai kesamaan yaitu bisa mendengar. Artinya proses 'input' bagus, tetapi karena suatu gangguan menyebabkan 'output'nya bermasalah.
Pada anak tuna rungu, 'output'nya bermasalah justru karena gangguan pada 'input'. (Note: sepanjang tidak mengalami gangguan lain selain pendengaran, alias bukan dobel handicap.)
Memanfaatkan sisa pendengaran yang ada, dengan ABD gangguan pada input itu dikurangi semaksimal mungkin sehingga si anak bisa mendengar dengan lebih baik (walau tidak sempurna). Tapi tak jarang kita jumpai terapis wicara yang bahkan tidak tahu anak kita bisa mendengar dengan bantuan ABD, sehingga cara terapinya sepenuhnya mengandalkan gerak bibir. Bagi sebagian orang tua yang memilih metode terapi wicara mungkin tidak masalah.
Tetapi bagi kami yang menerapkan terapi terpadu (mendengar + wicara), kami lebih prefer pemasukan kosa kata alias 'input'nya yang utama melalui telinga (bukan melihat gerak bibir) sementara terapi wicara untuk membantu output yaitu pengucapan kata-kata yang si anak sudah mengerti tapi kesulitan mengucapkannya (Plus pada saat awal memperkenalkan prinsip berkomunikasi, karena saat itu kalau ada orang yang ngajak bicara, Ellen masih cenderung menirukan, bukan gantian bicara).
Dalam hal ini terapis wicara minimal harus tahu bahwa si anak bisa mendengar. Selanjutnya kami juga perlu sharingkan prinsip-prinsip dasar terapi mendengar agar dia tahu kalau kami juga menjalankan terapi lain (secara lisan, pinjamkan artikel) serta model terapi terpadu yang kami hendak jalankan dengan bantuan dia.
Jika terapis wicara tidak tahu kalau si anak bisa mendengar, pada saat permainan gantian misalnya, ia akan memberi aba-aba "Ellen" "Ibu" "Ellen" "Ibu" dst dengan cara berteriak sambil meminta Ellen memperhatikan gerak bibirnya. Sementara dengan pendekatan terapi mendengar/TAV, aba-aba seperti itu dilakukan secara full verbal, jadi sekaligus untuk melatih si anak mengenali suara. (Note: bahkan di TAV si terapis menutupi mulutnya dengan tangan/kertas agar tidak terlihat gerak bibirnya, tetapi kami sendiri jarang begitu karena kadang Ellen malah ikut menutupi mulutnya; kami lebih sering mengucapkannya dari samping/belakang.)
Dengan pemahaman sederhana bahwa si anak bisa mendengar, terapis wicara diharapkan tidak terlalu menuntut si anak melihat gerak bibirnya -kecuali tentunya pada saat belajar membentuk pengucapan yang benar.
Tidak mudah memang memperkenalkan metode ini ke terapis wicara yang biasanya beranggapan anak tuna rungu tidak bisa mendengar. Tetapi tidak sedikit juga yang bersikap terbuka dan bisa diajak bekerjasama membantu perkembangan si anak. (by: papa Ellen)
Ditulis Oleh Richa Rochmah,Amd.TW
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

Terapi wicara utk tuna rungu dan non tuna rungu

Terapi Wicara untuk Tuna Rungu vs Non Tuna Rungu

Gangguan bicara bisa dibedakan pada tuna rungu (karena gangguan pendengaran) dan pada non tuna rungu (karena sebab lain seperti autis dan stroke).
Anak autis misalnya, walaupun ada gangguan bicara tetapi sebenarnya bisa mendengar. Walaupun tidak/belum bicara tetapi proses pemasukan kosa kata melalui telinga terus berlangsung sejak masih bayi. Kemungkinan besar ia mengerti apa yang didengarnya, hanya saja perlu bantuan untuk bisa berbicara dengan baik. Dalam hal ini peran terapis adalah melatih si anak berkonsentrasi, memperkenalkan prinsip-prinsip berkomunikasi (misal lewat permainan gantian/giliran) dan melatih berbicara (termasuk pengucapannya).
Pada orang yang pasca stroke dan mengalami gangguan bicara, peran terapis lebih ke membantu untuk kembali bisa mengucapkan kata-kata dengan jelas. Di sini penderita tidak perlu diajarkan prinsip berkomunikasi verbal karena ia bahkan sudah pernah melakukannnya.
Walaupun agak berbeda dengan kasus autis, keduanya mempunyai kesamaan yaitu bisa mendengar. Artinya proses 'input' bagus, tetapi karena suatu gangguan menyebabkan 'output'nya bermasalah.
Pada anak tuna rungu, 'output'nya bermasalah justru karena gangguan pada 'input'. (Note: sepanjang tidak mengalami gangguan lain selain pendengaran, alias bukan dobel handicap.)
Memanfaatkan sisa pendengaran yang ada, dengan ABD gangguan pada input itu dikurangi semaksimal mungkin sehingga si anak bisa mendengar dengan lebih baik (walau tidak sempurna). Tapi tak jarang kita jumpai terapis wicara yang bahkan tidak tahu anak kita bisa mendengar dengan bantuan ABD, sehingga cara terapinya sepenuhnya mengandalkan gerak bibir. Bagi sebagian orang tua yang memilih metode terapi wicara mungkin tidak masalah.
Tetapi bagi kami yang menerapkan terapi terpadu (mendengar + wicara), kami lebih prefer pemasukan kosa kata alias 'input'nya yang utama melalui telinga (bukan melihat gerak bibir) sementara terapi wicara untuk membantu output yaitu pengucapan kata-kata yang si anak sudah mengerti tapi kesulitan mengucapkannya (Plus pada saat awal memperkenalkan prinsip berkomunikasi, karena saat itu kalau ada orang yang ngajak bicara, Ellen masih cenderung menirukan, bukan gantian bicara).
Dalam hal ini terapis wicara minimal harus tahu bahwa si anak bisa mendengar. Selanjutnya kami juga perlu sharingkan prinsip-prinsip dasar terapi mendengar agar dia tahu kalau kami juga menjalankan terapi lain (secara lisan, pinjamkan artikel) serta model terapi terpadu yang kami hendak jalankan dengan bantuan dia.
Jika terapis wicara tidak tahu kalau si anak bisa mendengar, pada saat permainan gantian misalnya, ia akan memberi aba-aba "Ellen" "Ibu" "Ellen" "Ibu" dst dengan cara berteriak sambil meminta Ellen memperhatikan gerak bibirnya. Sementara dengan pendekatan terapi mendengar/TAV, aba-aba seperti itu dilakukan secara full verbal, jadi sekaligus untuk melatih si anak mengenali suara. (Note: bahkan di TAV si terapis menutupi mulutnya dengan tangan/kertas agar tidak terlihat gerak bibirnya, tetapi kami sendiri jarang begitu karena kadang Ellen malah ikut menutupi mulutnya; kami lebih sering mengucapkannya dari samping/belakang.)
Dengan pemahaman sederhana bahwa si anak bisa mendengar, terapis wicara diharapkan tidak terlalu menuntut si anak melihat gerak bibirnya -kecuali tentunya pada saat belajar membentuk pengucapan yang benar.
Tidak mudah memang memperkenalkan metode ini ke terapis wicara yang biasanya beranggapan anak tuna rungu tidak bisa mendengar. Tetapi tidak sedikit juga yang bersikap terbuka dan bisa diajak bekerjasama membantu perkembangan si anak. (by: papa Ellen)
Ditulis Oleh Richa Rochmah,Amd.TW
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

Pengobatan kelumpuhan pita suara

Pada beberapa kasus, suara akan kembali normal tanpa pengobatan pada tahun pertama setelah terjadinya kerusakan. Karena itu dokter seringkali menunda pembedahan minimal 1 tahun untuk memastikan bahwa tidak terjadi penyembuhan spontan. Selama masa penundaan ini biasanya penderita dianjurkan menjalani terapi suara, yaitu melakukan latihan-latihan untuk memperkuat pita suara atau untuk memperbaiki pengontrolan pernafasan selama berbicara. Misalnya penderita dianjurkan untuk berbicara lebih lambat atau membuka mulutnya lebih lebar ketika berbicara.
Ada 2 macam pembedahan:
Menambahkan sejumlah bahan ke dalam pita suara yang lumpuh, biasanya teflon.
Pada saat ini juga digunakan kolagen, silikon dan lemak tubuh. Penambahan bahan ini akan memperkecil rongga diantara kedua pita suara sehingga pita suara yang normal dapat bersentuhan lebih dekat dengan pita suara yang normal sehingga bisa memperbaiki suara.
Merubah posisi pita suara.
Dilakukan penggeseran pitayang lumpuh sehingga lebih dekat ke garis tengah. Dengan demikian, pita suara yang lumpuh bisa bersentuhan dengan pita suara yang normal.
Kedua jenis pembedahan tersebut bisa memperbaiki suara dan proses menelan. Setelah menjalani pembedahan, penderita juga mengikuti terapi suara. Untuk kelumpuhan 1 sisi diberikan suntikan teflon pada pita suara yang lumpuh sehingga letaknya mendekati garis tengah dan pita suara yang lainnya bisa bersentuhan. Dengan demikian, selama proses menelan saluran udara tetap terlindungi dan suara penderita dapat diperbaiki.
Untuk kelumpuhan 2 sisi, dilakukan trakeostomi (pembedahan untuk membuat sebuah lubang ke dalam trakea melalui leher) sehingga udara tidak perlu melewati pita suara. Trakeostomi ini bisa bersifat menetap atau hanya digunakan selama terjadinya infeksi saluran pernafsan. Bisa juga dilakukan aritenoidektomi (pembedahan untuk memisahkan kedua pita suara secara permanen); hasilnya saluran udara terbuka lebar tetapi kualitas suara menjadi lebih jelek.
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

Kelumpuhan Pita Suara

DEFINISI
Kelumpuhan Pita Suara adalah ketidakmampuan untuk menggerakkan otot-otot yang mengontrol pita suara, sehingga salah satu atau kedua pita suara tidak dapa membuka atau menutup sebagaimana mestinya.
Pita suara adalah 2 buah pita otot elastis yang terletak di dalam laring (kotak suara), tepat diatas trakea (saluran udara). Pita suara menghasilkan suara jika udara yang tertahan di paru-paru dilepaskan dan melewati pita suara yang menutup sehingga pita suara bergetar. Jika kita tidak sedang berbicara, pita suara terpisah satu sama lain sehingga kita bisa bernafas.

PENYEBAB
Kelumpuhan pita suara bisa disebabkan oleh:
Kelainan otak (misalnya tumor otak, stroke dan penyakit demielinisasi)
Kerusakan saraf yang menuju ke laring akibat tumor, cedera, infeksi virus atauneurotoksin (zat yang bersifat racun terhadap saraf, contohnya timah hitam atau racun pada difteri)
Cedera kepala
Cedera leher
Kanker paru-paru atau tiroid.

GEJALA
Kelumpuhan pita suara bisa mempengaruhi proses berbicara, bernafas dan menelan. Kelumpuhan menyebabkan makanan dan cairan terhidup ke dalam trakea dan paru-paru. Jika hanya 1 pita suara yang lumpuh (kelumpuhan 1 sisi), maka suara menjadi serak. Biasanya saluran udara tidak tersumbat karena pita suara yang normal bisa membuka sebagaimana mestinya.
Jika kedua pita suara mengalami kelumpuhan (kelumpuhan 2 sisi), maka kekuatan suara akan berkurang. Penderita juga mengalami gangguan pernafasan karena terjadi penyumbatan saluran udara ke trakea.

DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya. Pemeriksaan terhadap pita suara dilakukan dengan menggunakan endoskopi. Pemeriksaan lainnya yang mungkin perlu dilakukan adalah CT scan kepala, leher, dada dan kelenjar tiroid.
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel