SELAMAT DATANG DI BLOG-NYA FISIOTERAPIS INDONESIA..........................................................................SEMUA TENTANG FISIOTERAPI ADA DISINI

Tampilkan postingan dengan label FT E Olahraga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FT E Olahraga. Tampilkan semua postingan

Peran Fisioterapi pada Angkat Besi

Angkat besi (weight lifting) merupakan cabang olahraga yang bersaing untuk mengangkat beban berat yang disebut dengan barbel, yang dilakukan dengan kombinasi dari kekuatan, fleksibilitas, konsentrasi, kemampuan, disiplin (sangat penting), atletis, fitnes, teknik, mental dan kekuatan fisik.

Jenis angkatan 

Dalam olahraga ini, ada dua jenis angkatan yang sering dilombakan, yakni angkatan clean and jerk dan snatch.
  • Snatch
Barbel ditempatkan horisontal di depan kaki lifter. Ke-dua tangan mencengkram, palms downwards dan menariknya dalam satu gerakan dari platform samapai ekstensi penuh dari kedua lengan diatas kepala, sedangkan salah satu kaki splitting atau bending. Selama gerakan terus menerus, barbel dapat meluncur disepanjang paha dan putaran. Tidak ada bagian tubuh selain kaki dapat menyentuh platform selama pelaksanaan lift. Berat, yang telah diangkat, harus dipertahankan dalam posisi akhir diam, lengan dan kaki ekstensi, kaki pada garis yang sama, sampai Wasit memberikan sinyal untuk memindahkan barbell pada platform. Lifter dapat memulihkan tenaga dengan sendirinya, baik dari sebuah split atau suad position, dan berakhir dengan kaki pada garis yang sama, sejajar dengan bidang trunk dan barbel. Para Wasit memberikan sinyal untuk menurunkan barbell segera setelah lifter terdiam setelah penilaian.

Gambar 1.1 Jenis Angkatan Snatch (Sumber : www. weightlifting.org)
  • Clean and Jerk
Bagian pertama Clean
Barbel ditempatkan horisontal di depan kaki lifter. Ke-dua tangan mencengkram, palms downwards dan menariknya dalam satu gerakan dari platform ke bahu, sedangkan salah satu kaki splitting atau bending. Selama gerakan terus menerus, barbel dapat meluncur disepanjang paha dan putaran (lap). Barbel tidak harus menyentuh dada sebelum posisi akhir, kemudian bertumpu pada klavikula atau dada diatas puting atau pada lengan sepenuhnya ditekuk. Kaki lifter kembali ke garis yang sama, kaki lurus sebelum melakukan Jerk. 

Bagian kedua Jerk
Salah satu tungkai atlet difleksikan dan tungkai lain diekstensikan beserta pula lengan membawa barbel  samapai peregangan penuh pada lengan yang ekstensi secara vertikal. Menunggu para Wasit memberikan sinyal untuk menurunkan barbell segera setelah lifter terdiam setelah penilaian.

Gambar 1.2 Jenis Angkatan Clean and Jerk (Sumber : www.weightlifting.org)



UPAYA PREVENTIF DALAM ANGKAT BESI

Cidera yang dapat terjadi pada atlet angkat besi antara lain cidera pada punggung bagian bawah (LBP), dislokasi sendi siku, subdeltoid bursitis, subacromial bursitis, koyak tendon biceps, HNP dan hernia inguinalis. 
Hal yang terpenting pada latihan weight lifting untuk mencegah adanya cidera adalah stretching, warming up (pemanasan) dan latihan dengan pembebanan (weight training).

Stretching
  • Sebagai pemula, harus terlebih dahulu meregangkan tubuh (stretching) untuk mendapatkan fleksibilitas. 
  • Peregangan untuk setidaknya 5-6 menit harus menjadi bagian integral/terpadu dari pelatihan. 
  • Peregangan bertujuan mengendurkan otot-otot yang membuat otot contract and relax sepenuhnya dan memberikan latihan terbaik.
Peregangan tidak hanya melenturkan anggota tubuh tertentu saja, tetapi ini adalah cara yang dikenal terbaik untuk menjadi lebih fleksibel, meningkatkan mobilitas sendi, mencegah cedera latihan dan meningkatkan sirkulasi, postur dan menghilangkan stres.

Tujuan stretching :
  1. Memelihara kelenturan otot sehingga menghindari cedera.
  2. Meningkatkan LGS sehingga dapat berlatih lebih keras. 
  3. Memperbaiki fleksibilitas dan LGS yang kurang. 
  4. Menghilangkan produk sampah dari darah yaitu hasil metabolisme, dan oleh karena itu penting selama latihan di sela set.
Keuntungan lain pada stretching adalah mengurangi adanya DOMS (Delayes-Onset Muscle Soreness), hal ini didukung oleh sebuah studi baru-baru ini oleh American Journal of Sports Medicine yang dikutip dari http://www.exercisegoals.com telah menunjukkan bahwa fleksibilitas mengurangi kemungkinan nyeri otot. Penelitian telah menunjukkan bahwa kaku (stiff), otot kurang fleksibel mengalami kerusakan serat otot lebih dalam pada pelatihan berat yang secara intens mengakibatkan hilangnya kekuatan otot. Ketika berolahraga di hadapkan kerusakan otot, seperti yang diketahui, intensitas latihan dan efektivitas secara drastis akan berkurang. Ini adalah alasan lain mengapa harus mengambil peregangan yang serius. 5 menit dari latihan peregangan akan memberikan manfaat.

STRETCHING EXERCISE

¢Lying leg crossover

Gerakan 1
Gerakan 2
(
Sumber : http://www.exercisegoals.com)

¢Hip flexor stretch


¢Perfect piriformis hip glutestretch


¢Partner hamstring stretch


¢Partner quad stretch

Gambar 1

Gambar 2
(Sumber : http://www.exercisegoals.com) 

¢Shoulder  back lat  pec stretch



Warm-up
  • Latihan warm-up adalah kondisionig jantung dan memastikan bahwa jantung dan paru-paru bekerja untuk kapasitas penuh untuk memberikan otot dengan suplai darah. 
  • Memulai dengan treadmill selama 5 menit.
  • —Anda akan mulai dengan 2 set pemanasan mana Anda akan mengangkat tidak lebih dari 50% berat untuk latihan tertentu.
Weight training
  • Anda akan mulai dengan 2 set pemanasan dimana Anda akan mengangkat tidak lebih dari 50% berat untuk latihan tertentu.
  • Latihan dengan pembebanan diantaranya adalah building chest muscle, building shoulder muscle, building back muscle, building leg muscle, building arm and forearms dan building abdominal
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

Cidera Olahraga

Cedera yang dialami tergantung dari macamnya olahraga, misalnya olahrag sepak bola, tenis meja, balapan tentu memberikan resiko cedera yang berbeda-beda.

Kegiatan olahraga sekarang ini telah benar-benar menjadikan bagian masyarakat kita, baik pada masyarakat atau golongan dengan sosial ekonomi yang rendah sampai yang paling baik. Telah menyadari kegunaan akan pentingnya latihan-latihan yang teratur untuk kesegaran dan kesehatan jasmani dan rohani.

Seseorang melakukan olahraga dengan tujuan untuk mendapatkan kebugaran jasmani, kesehatan maupun kesenangan bahkan ada yang sekedar hobi, sedangkan atlit baik amatir dan profesional selalu berusaha mencapai prestasi sekurang-kurangnya untuk menjadi juara. Namun beberapa faktor yang mempunyai peran perlu diperhatikan antara lain :


a. Usia Kesehatan Kebugaran

Menurut pengetahuan yang ada pada saat ini, apa yang disebut proses digenerasi mulai berlangsung pada usia 30 tahun, dan fungsi tubuh akan berkurang 1% pertahun (Rule of one), ini berarti bahwa kekuatan dan kelentukan jaringan akan mulai berkurang akibat proses degenerasi, selain itu jaringan menjadi rentan terhadap trauma. Untuk mempertahankan kondisi agar tidak terjadi pengurangan fungsi tubuh akibat degenerasi, maka latihan sangat diperlukan guna mencegah timbulnya Atrofi, dengan demikian bahwa usia memegang peranan.

b. Jenis Kelamin

Sistem hormon pada tubuh manusia berbeda dengan wanita, demikian pula dengan bentuk tubuh, mengingat perbedaan dan perubahan fisik, maka tidak semua jenis olahraga cocok untuk semua golonganusia atau jenis kelamin. Hal ini apabila dipaksakan, maka akan timbul cedera yang sifatnya pun juga tertentu untuk jenis olahraga tertentu

c. Jenis Olahraga

Kita tahu bahwa setiap macam olahraga, apapun jenisnya, mempunyai peraturan permainan tertentu dengan tujuan agar tidak menimbulkan cedera, peraturan tersebut merupakan salah satu mencegahnya.

d. Pengalaman Teknik Olahraga

Untuk melaksanakan olahraga yang baik agar tujuan tercapai perlu persiapan dan latihan antara lain :
  • Metode atau cara berlatihnya.
  • Tekniknya agar tidak terjadi “over use”.
e. Sarana atau Fasilitas

Walaupun telah diusahakan dengan baik kemungkinan cedera masih timbul akibat sarana yang kurang memadai

f. Gizi

Olahraga memerlukan tenaga untuk itu perlu gizi yzng baik, selain itu gizi menentukan kesehatan dan kebugaran.

Olahraga yang teratur memegang peranan untuk memperoleh badan yang sehat, menghindari penyakit-penyakit seperti penyakit jantung, serta menunda proses-proses degeneratif yang tidak bisa dihindari oleh proses penuaan. Keadaan akan pentingnya serta keuntungan yang diakibatkan oleh olahraga adalah sesuai dengan perubahan-perubahan kondisi sosial dan ekonomibila kita menilai beragam olahraga, ada permainan-permainan tertentu yang bersifat kompetitif untuk dipertandingkan dimana masing-masing individu harus bisa mencapai prestasi maksimal untuk mencapai kemenangan, ini yang sering mengundang terjadinya cedera olahraga, namun dapat dihindari bila faktor-faktor penyebab serta peralatan olahraga tersebut diperhatikan.

Dalam cedera macam-macan pula derajat cederanya mulai dari yang ringan sampai yang sangat berat, karena faktornya: jenis kelamin, derajat cedera, ukuran tubuh, anatomi, kesegaran aerobik, kekuatan otot, kekuatan, kelemahan ligamen, kontrol motorik pusat, kejiwaan, kemampuan mental merupakan faktor-faktor dalam kecenderungan cedera.

Cedera

Cedera adalah suatu akibat daripada gaya-gaya yang bekerja pada tubuh atau sebagian daripada tubuh dimana melampaui kemampuan tubuh untuk mengatasinya, gaya-gaya ini bisa berlangsung dengan cepat atau jangka lama.

Dapat dipertegas bahwa hasil suatu tenaga atau kekuatan yang berlebihan dilimpahkan pada tubuh atau sebagian tubuh sehingga tubuh atau bagian tubuh tersebut tidak dapat menahan dan tidak dapat menyesuaikan diri.

Harus diingat bahwa setiap orang dapat terkena celaka yang bukan karena kegiatan olahraga, biarpun kita telah berhati-hati tetapi masih juga celaka, tetapibila kita berhati-hati kita akan bisa mengurangi resiko celaka tersebut.

Cedera Olahraga

Kegiatan olahraga yang sekarang terus dipacu untuk dikembangkan dan ditingkatkan bukan hanya olahraga prestasi atau kompetisi, tetapi olahraga juga untuk kebugaran jasmani secara umum. Kebugaran jasmani tidak hanya punya keuntungan secara pribadi, tetapi juga memberikan keuntungan bagi masyarakat dan negara. Oleh karena itu kegiatan olahraga sekarang ini semakin mendapat perhatian yang luas.

Bersamaan dengan meningkatnya aktivitas keolahragaan tersebut, korban cedera olahraga juga ikut bertambah. Sangat disayangkan jika hanya karena cedera olahraga tersebut para pelaku olahraga sulit meningkatkan atau mempertahankan prestasi.

“Cedera Olahraga” adalah rasa sakit yang ditimbulkan karena olahraga, sehingga dapat menimbulkan cacat, luka dan rusak pada otot atau sendi serta bagian lain dari tubuh.

Cedera olahraga jika tidak ditangani dengan cepat dan benar dapat mengakibatkan gangguan atau keterbatasan fisik, baik dalam melakukan aktivitas hidup sehari-hari maupun melakukan aktivitas olahraga yang bersangkutan. Bahkan bagi atlit cedera ini bisa berarti istirahat yang cukup lama dan mungkin harus meninggalkan sama sekali hobi dan profesinya. Oleh sebab itu dalam penaganan cedera olahraga harus dilakukan secara tim yang multidisipliner.

Cedera olahraga dapat digolongkan 2 kelompok besar :
  1. Kelompok kerusakan traumatik (traumatic disruption) seperti : lecet, lepuh, memar, leban otot, luka, “stram” otot, “sprain” sendi, dislokasi sendi, patah tulang, trauma kepala-leher-tulang belakang, trauma tulang pinggul, trauma pada dada, trauma pada perut, cedera anggota gerak atas dan bawah.
  2. Kelompok “sindroma penggunaan berlebihan” (over use syndromes), yang lebih spesifik yang berhubungan dengan jenis olahraganya, seperti : tenis elbow, golfer’s elbow swimer’s shoulder, jumper’s knee, stress fracture pada tungkai dan kaki.
Klasifikasi Cedera Olahraga

Secara umum cedera olahraga diklasifikasikan menjadi 3 macam, yaitu :

a. Cedera tingkat 1 (cedera ringan)

Pada cedera ini penderita tidak mengalami keluhan yang serius, namun dapat mengganggu penampilan atlit. Misalnya: lecet, memar, sprain yang ringan.

b. Cedera tingkat 2 (cedera sedang)

Pada cedera tingkat kerusakan jaringan lebih nyata berpengaruh pada performance atlit. Keluhan bias berupa nyeri, bengkak, gangguan fungsi (tanda-tanda inplamasi) misalnya: robeknya ligament (sprain grade II).

c. Cedera tingkat 3 (cedera berat)

Pada cedera tingkat ini atlit perlu penanganan yang intensif, istirahat total dan mungkin perlu tindakan bedah jika terdapat robekan lengkap atau hamper lengkap ligament (sprain grade III) dan IV atau sprain fracture) atau fracture tulang.

d. Strain dan Sprain

Strain dan sprain adalah kondisi yang sering ditemukan pada cedera olahraga.

1. Strain

Strain adalah menyangkut cedera otot atau tendon. Strain dapat dibagi atas 3 tingkat, yaitu :

a) Tinkat 1 (ringan)

Strain tingkat ini tidak ada robekan hanya terdapat kondisi inflamasi ringan, meskipun tidak ada penurunan kekuatan otot, tetapi pada kondisi tertentu cukup mengganggu atlit. Misalnya strain dari otot hamstring (otot paha belakang) akan mempengaruhi atlit pelari jarak pendek (sprinter), atau pada baseball pitcher yang cukup terganggu dengan strain otot-otot lengan atas meskipun hanya ringan, tetapi dapat menurunkan endurance (daya tahannya).

b) Tingkat 2 (sedang)

Strain pada tingkat 2 ini sudah terdapat kerusakan pada otot atau tendon, sehingga dapat mengurangi kekuatan atlit.

c) Tingkat 3 (berat)

Strain pada tingkat 3 ini sudah terjadi rupture yang lebih hebat sampai komplit, pada tingkat 3 diperlukan tindakan bedah (repair) sampai fisioterapi dan rehabilitasi.

2. Sprain

Sprain adalah cedera yang menyangkut cedera ligament. Sprain dapat dibagi 4 tingkat, yaitu :

a) Tingkat 1 (ringan)

Cedera tingkat 1 ini hanya terjadi robekan pada serat ligament yang terdapat hematom kecil di dalam ligamen dan tidak ada gangguan fungsi.

b) Tingkat 2 (sedang)

Cedera sprain tingkat 2 ini terjadi robekan yang lebih luas, tetapi 50% masih baik. Hal ini sudah terjadi gangguan fungsi, tindakan proteksi harus dilakukan untuk memungkinkan terjadinya kesembuhan. Imobilisasi diperlukan 6-10 minggu untuk benar-benar aman dan mungkin diperlukan waktu 4 bulan. Seringkali terjadi pada atlit memaksakan diri sebelum selesainya waktu pemulihan belum berakhir dan akibatnya akan timbul cedera baru lagi.

c) Tingkat 3 (berat)

Cedera sprain tingkat 3 ini terjadinya robekan total atau lepasnya ligament dari tempat lekatnya dan fungsinya terganggu secara total. Maka sangat penting untuk segera menempatkan kedua ujung robekan secara berdekatan.

d) Tingkat 4 (Sprain fraktur)

Cedera sprain tingkat 4 ini terjadi akibat ligamennya robek dimana tempat lekatnya pada tulang dengan diikuti lepasnya sebagian tulang tersebut.

Penanganan rehabilitasi medik

Pada terjadinya cedera olahraga upaya rehabilitasi medik yang sering digunakan adalah :
  1. Pelayanan spesialistik rehabilitasi medik
  2. Pelayanan fisioterapi
  3. Pelayanan alat bantu (ortesa)
  4. Pelayananpengganti tubuh (protesa)
Penangana rehabilitasi medik harus sesuai dengan kondisi cedera.

a. Penanganan rehabilitasi medik pada cedera olahraga akut.

Cedera akut ini terjadi dalam waktu 0-24 jam. Yang paling penting adalah penangananya. Pertama adalah evaluasi awal tentang keadaan umum penderita, untuk menentukan apakah ada keadaan yang mengancam kelangsungan hidupnya. Bila ada tindakan pertama harus berupa penyelamatan jiwa. Setelah diketahui tidak ada hal yang membahayakan jiwa atau hal tersebut telah teratasi maka dilanjutkan upaya yang terkenal yaitu RICE :

R – Rest
Diistirahatkan adalah tindakan pertolongan pertama yang esensial penting untuk mencegah kerusakan jaringan lebih lanjut. Bertujuan untuk mencegah bertambah parahnya cidera, waktunya tergantung pada berat ringanya cidera, namun tetap dilatih pada bagian yang tidak cidera untuk mempertahankan endurance atlet.

I – Ice 
Merupakan pemberian terapi dingin, tujuannya adalah
  1. Melokalisir daerah cedera
  2. Mematirasakan ujung saraf, sehingga dapat mengurangi nyeri.
  3. Mencegah bertambahnya bengkak, menggunakan efek vasokonstriksi.
Nmaun kompres es tidak boleh terlalu lama, karena dapat menimbulkan vasodilatasi berlebihan (Hunctinton reflek). Aliran darah bisa meningkat 3x semula, sehingga daerah pada cedera terasa panas.

C – Compression
Penekanan atau balut tekan gunanya membantu mengurangi pembengkakan jaringan dan pendarahan lebih lanjut. Alatnya dapat berupa kasa atau elasts bandage.
Tanda bila terlalu menekan : pucat, mati rasa pada daerah ujung yang cedera (karena kurang pasokan darah pada daerah ujung-ujungnya). Penekanan dari bawah ke atas.

E – Elevatin
Peninggian daerah cedera gunanya mencegah statis, mengurangi edema (pembengkakan) dan rasa nyeri.

b. Penanganan rehabilitasi pada cedera olahraga lanjut

Pada masa ini rehabilitasi tergantung pada problem yang ada antara lain berupa :
  • Pemberian modalitas terapi fisik
Terapi dingin :

Cara pemberian terapi dingin sebagai berikut :

1. Kompress dingin

Teknik : potongan es dimasukkan dalam kantong yang tidak tembus air lalu kompreskan pada bagian yang cedera.
Lamanya : 20-30 menit dengan interval kira-kira 10 menit.

2. Masase es

Tekniknya dengan menggosok-gosokkan es yang telah dibungkus dengan lama 5-7 menit, dapat diulang dengan tenggang waktu 10 menit.

3. Pencelupan atau peredaman

Tekniknya yaitu memasukkan tubuh atau bagian tubuh kedalam bak air dingin yang dicampur dengan es. Lamanya 10-20 menit.

4. Semprot dingin

Tekniknya dengan menyemprotkan kloretil atau fluorimethane kebagian tubuh yang cedera.

Terapi panas :

Pada umumnya toleransi yang baik pada terapi panas adalah bila diberikan pada fase subakut dan kronis dari suatu cedera, tetapi panas juga dapat diberikan pada keadaan akut. Panas yang kita berikan ketubuh akan masuk atau berpenetrasi kedalamnya. Kedalam penetrasi ini tergantung pada jenis terapi panas yang diberikan seperti yang terlihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 1 : Pembagian terapi panas menurut kedalaman penetrasinya.

Penetrasi
Macam
Contoh
Dangkal (Superfisial)
Lembab/basah
Kompres kain air panas
“Hydrocollator pack”
Mandi uap panas
“Paraffin wax bath”
Hydrotherapy
Kering
Kompres botol air panas
Kompres bantal pemanas tenaga listrik
Lampu merah infra
Dalama (deep)
Diathermy
Diatermi gelombang pendek
Diatermi gelombang mikro
Diatermi suara ultra
Terapi air (Hydroterapy)

Pada sebagian kasus pemberian terapi air akan banyak menolong. Terapi air dipilih karena adanya efek daya apung dan efek pembersihan. Jenis terapi ini dapat kita berikan dengan memakai bak atau kolam air. Teknik lain terapi air adalah “contrast bath” yaitu dengan menggunakan dua buah bejana. Satu buah diisi air hangat suhu 40,5-43,3 C dan satunya lagi diisi air dingin dengan suhu 10-15 C. anggota gerak yang cedera bergantian masuk ke bejana secara bergantian dengan jarak waktu.

Stimulasi listrik

Perangsangan listrik mempunyai efek pada otot yang normal maupun otot yang denervasi. Efek rangsangan listrik pada otot normal antara lain relaksasi otot spasme, re-edukasi otot, mengurangi spastisitas dan mencegah terjadinya trombloflebitis. Sedang pada otot denervasi efeknya meliputi menunda progrese atropi otot, memperbaiki sirkulasi darah dan nutrisi.

Masage

Dengan menggunakan masase yang lembut dan ringan, kurang lebih satu minggu setelah trauma mungkin akan dapat mengatasi rasa nyeri tersebut. Dengan syarat diberikan dengan betul dan dengan dasar ilmiah akan efektif untuk mengurangi bengkak dan kekakuan otot.
  • Pemberian terapi latihan
Waktu untuk memulai terapi latihan tergantung pada macam dan derajat cederanya. Pada cedera otot misalnya terjadi kerusakan atau robekan serabut otot bagian central memerlukan waktu pemulihan 3 kali lebih lama dibandingkan dengan robeknya otot bagian perifer. Sedangkan cedera tulang, persendian (ligament) memerlukan waktu yang lebih lama.

Terapi latihan yang dapat diberikan, berupa :
  1. Latihan luas gerak sendi
  2. Latihan peregangan
  3. Latihan daya tahan
  4. Latihan yang spesifik (untuk masing-masing bagian tubuh)
  • Pemberian ortesa (alat Bantu tubuh)
Pada terjadinya cedera olahraga yang akut ortesa terutama berfungsi untuk mengistirahatkan bagian tubuh yang cedera, sehingga membantu mempercepat proses penyembuhan dan melindungi dari cedera ulangan. Pada fase berikutnya ortesa dapat berfungsi lebih banyak, antara lain : ortesa leher, dan support pada anggota gerak bawah. Mencegah terjadinya deformitas dan meningkatkan fungsi anggota gerak yang terganggu.
  • Pemberian protesa (pengganti tubuh)
Protesa adalah suatu alat Bantu yang diberikan pada atlit yang mengalami cedera dan mengalami kehilangan sebagian anggota geraknya. Fungsi dari alat ini adalah untuk menggantikan bagian tubuh yang hilang akibat dari cedera tersebut.

Sumber : 
Paul M. Taylor, dkk. (2002). Mencegah dan Mengatasi Cedera Olahraga. Jakarta: PT. RAJAGRAFINDO PERSADA.

Andun Sujidandoko. (2000). Perawatan dan Pencegahan Cedera. Yogyakarta: Departemen Pendidikan Nasional .


Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

Ankle Sprain Rehabilitation Exercises

As soon as you can tolerate pressure on the ball of your foot, begin stretching your ankle using the towel stretch. When this stretch is too easy, try the standing calf stretch and soleus stretch. 


Towel stretch
Sit on a hard surface with one leg stretched out in front of you. Loop a towel around your toes and the ball of your foot and pull the towel toward your body keeping your knee straight. Hold this position for 15 to 30 seconds then relax. Repeat 3 times. 

Standing calf stretch
Facing a wall, put your hands against the wall at about eye level. Keep one leg back with the heel on the floor, and the other leg forward. Turn your back foot slightly inward (as if you were pigeon-toed) as you slowly lean into the wall until you feel a stretch in the back of your calf. Hold for 15 to 30 seconds. Repeat 3 times and then switch the position of your legs and repeat the exercise 3 times. Do this exercise several times each day. 

Standing soleus stretch
Stand facing a wall with your hands on a wall at about chest level. With both knees slightly bent and one foot back, gently lean into the wall until you feel a stretch in your lower calf. Angle the toes of your back foot slightly inward and keep your heel down on the floor. Hold this for 15 to 30 seconds. Return to the starting position. Repeat 3 times. 

You can do the next 5 exercises when your ankle swelling has stopped increasing. 

Ankle range of motion
Sitting or lying down with your legs straight and your knee toward the ceiling, move your ankle up and down by pointing your toes toward your nose, then away from your body; in toward your other foot and out away from your other foot; and in circles. Only move your foot and ankle. Don't move your leg. Repeat 10 times in each direction. Push hard in all directions. 

Resisted ankle dorsiflexion
Sit with one leg out straight and your foot facing a doorway. Tie a loop in one end of elastic tubing. Put your foot through the loop so that the tubing goes around the arch of your foot. Tie a knot in the other end of the tubing and shut the knot in the door. Move backward until there is tension in the tubing. Keeping your knee straight, pull your foot toward your body, stretching the tubing. Slowly return to the starting position. Do 3 sets of 10. 

Resisted ankle plantar flexion
Sit with your leg outstretched and loop the middle section of the tubing around the ball of your foot. Hold the ends of the tubing in both hands. Gently press the ball of your foot down and point your toes, stretching the tubing. Return to the starting position. Do 3 sets of 10. 

Resisted ankle inversion
Sit with your legs out straight and cross one leg over your other ankle. Wrap elastic tubing around the ball of your bottom foot and then loop it around your top foot so that the tubing is anchored there at one end. Hold the other end of the tubing in your hand. Turn your bottom foot inward and upward. This will stretch the tubing. Return to the starting position. Do 3 sets of 10

Resisted ankle eversion
Sit with both legs stretched out in front of you, with your feet about a shoulder's width apart. Tie a loop in one end of elastic tubing. Put one foot through the loop so that the tubing goes around the arch of that foot and wraps around the outside of the other foot. Hold onto the other end of the tubing with your hand to provide tension. Turn the foot with the tubing up and out. Make sure you keep your other foot still so that it will allow the tubing to stretch as you move your foot with the tubing. Return to the starting position. Do 3 sets of 10. 


You may do the rest of the exercises when you can stand on your injured ankle without pain.

Heel raise
Balance yourself while standing behind a chair or counter. Using the chair to help you, raise your body up onto your toes and hold for 5 seconds. Then slowly lower yourself down without holding onto the chair. Hold onto the chair or counter if you need to. When this exercise becomes less painful, try lowering on one leg only. Repeat 10 times. Do 3 sets of 10. 

Step-up
Stand with the foot of your injured leg on a support (like a small step or block of wood) 3 to 5 inches high. Keep your other foot flat on the floor. Shift your weight onto your injured leg on the support straighten your knee as the other leg comes off the floor. Lower your leg back to the floor slowly. Do 3 sets of 10. 

Balance and reach exercises 
  1. Stand upright next to a chair with your injured leg farthest from the chair. This will provide you with support if you need it. Stand just on the foot of your injured leg. Try to raise the arch of this foot while keeping your toes on the floor. 
  2. Keep your foot in this position and reach forward in front of you with the hand farthest away from the chair, allowing your knee to bend. Repeat this 10 times while maintaining the arch height. This exercise can be made more difficult by reaching farther in front of you. Do 2 sets. 
  3. Stand in the same position as above. While maintaining your arch height, reach the hand farthest away from the chair across your body toward the chair. The farther you reach, the more challenging the exercise. Do 2 sets of 10. 
Jump rope
Jump rope landing, on both legs, for 5 minutes, then on only one leg at a time for 5 minutes. 

Wobble board exercises

  1. Stand on a wobble board with your feet shoulder width apart. Rock the board forwards and backwards 30 times, then side to side 30 times. Hold on to a chair if you need support. 
  2. Rotate the wobble board around so that the edge of the board is in contact with the floor at all times. Do this 30 times in a clockwise and then a counterclockwise direction. 
  3. Balance on the wobble board for as long as you can without letting the edges touch the floor. Try to do this for 2 minutes without touching the floor. 
  4. Rotate the wobble board in clockwise and counterclockwise circles, but do not allow the edge of the board to touch the floor. 
  5. When you have mastered exercises A through D, try repeating them while standing on only one leg (your injured leg). 
  6. Once you can do these exercises on one leg, try to do them with your eyes closed. Make sure you have something nearby to support you in case you lose your balance. 

Written by Tammy White, MS, PT, and Phyllis Clapis, PT, DHSc, OCS, for RelayHealth. Published by RelayHealth. 
© 2009 RelayHealth and/or its affiliates. All Rights Reserved.
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

Fisioterapi Olahraga dengan Sport Massage

A.  Sejarah Perkembangan Sports Massage 

Sport Massage sampai saat ini masih dipakai dibelahan dunia khususnya dikalangan olahragawan dan dunia kesehatan. Massage sendiri merupakan salah satu bentuk manipulasi / teknik melulut atau memijat sederhana yang pertama-tama ditemukan manusia untuk meringankan rasa sakit dan menghasilkan efek lebih baik / kesembuhan dengan cara mengelus-elus/ mengusap perlahan dan halus secara spontan pada sekitar bagian yang sakit.


Data pasti siapa penemu sport massage pertama kali tidak diketahui, berkembang dibanyak negara seperti Cina, India, Yunani, Mesir dan banyak negara lain sehingga berkembang sampai menjadi kebudayaan yang tinggi. Dalam perkembangannya tidak hanya berfungsi sebagai sarana pemeliharaan tubuh saja tetapi juga sebagai terapi pengobatan . 

Pertamakali sport massage diperkenalkan dan diaplikasikan untuk para olahragawan adalah negara Yunani dengan maksud untuk menjaga tingkat kebugaran para olahragawan. Di Cina sekitar tahun 3000 SM khususnya dunia kedokteran tradisional, sport massage bertujuan untuk mengaktifkan sirkulasi darah dan hormonal, sebagai alat penenang (sedative), perangsang persyarafan dan sebagai sarana pengobatan bermacam penyakit. Di Mesir kuno masih tercatat didinding bahwa massage merupakan metode pengobatan penyakit atau luka akibat kecelakaan atau peperangan (tercatat pada dokumen raja Fir’aun di relief, papyrus dan pada dinding gambar). Herodicos seorang dokter dan pesenam Yunani menceritakan tentang pengaruh senam pengobatan dan latihan fisik serta massage dengan tujuan menyehatkan jiwa dan raga. Hipocrates seorang dokter dalam kedokteran modern mengenal dan mempelajari sport massage pada Herodicos dan menulis tentang pengaruh sport massage pada system fisiologis tubuh khususnya pada pasien luksasi / keseleo, fraktur / patah tulang dan pasien lain serta sport massage akan membuat system persendian akan menjadi kuat dan kemudahan untuk memobilisasi / menggerakkan persendian yang kaku. 

Para dokter Yunani menggunakan sport massage untuk mempersiapkan fisik olahragawan sebelum bertanding dan untuk melawan tingkat kelelahan setelah latihan fisik yang berat. Para Aliptes / ahli massage olahraga biasa menggunakan minyak dan powder / tepung atau talk untuk memanipulasi / melulut atau memijat otot-otot olahragawan sedangkan olahragawan sendiri juga dibekali dengan ketrampilan sport massage mandiri / Automassage. 

B.  Pengertian Sport Massage 

Sport Massage merupakan teknik memijat / melulut dengan tangan (manipulasi) pada bagian tubuh yang lunak dengan prosedur manual ataupun mekanik yang dilaksanakan secara metodik dan ritmis dengan tujuan untuk menghasilkan efek-efek fisiologis , profilaktik dan terapeutik / pengobatan pada tubuh. 

Manipulasi ini dilakukan secara sistematis dan berurutan sesuai dengan anatomi tubuh manusia yaitu dari permukaan otot kearah dalam bagian tubuh yang lunak /mucous dan jaringan dibawah kulit (konjunktiva) dan lapisan lemak , perototan , pembuluh darah , jaringan persyarafan periferis / syaraf tepi dan jaringan lain serta organ tubuh bagian dalam. 

Ada dua macam prosedur sport massage , secara manual dan mekanik. Prosedur sport massage manual merupakan manipulasi sport massage yang dikenal dengan bermacam-macam gerakan tangan pada permukaan tubuh dengan tekanan gerakan kearah dalam yaitu menekan , memeras, pukulan, goncangan , getaran dan manipulasi lain pada jaringan dan pada segmen . Prosedur manual ini merupakan prosedur yang sangat tua , tersebar dan paling banyak digunakan karena dengan gerakan tangan manusia akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan struktur anatomi tubuh dan gerakan tangan ini akan lebih sempurna dibandingkan dengan gerakan alat mesin. 

Prosedur sport massage mekanik , ini dilakukan gerakan sport massage dengan bantuan gerakan mesin pemijat . Bagaimanapun bagusnya alat massage / mesin pemijat tersebut tingkat adaptasi dengan struktur tubuh manusia akan tidak sama dengan gerakan tangan secara manual. 

Prosedur Terapi Manual Sport Massage 

A.  Sistematika Manipulasi Pokok (Teknik sport massage yang harus dilakukan) 

Manipulasi pokok meliputi : 

1. EFFLEURAGE (pembuka) 


2. PETRISAGE


3. FRICTION 


4. TAPOTAMENT 


5. VIBRATION 
6. EFFLEURAGE (penutup) 

Manipulasi tambahan meliputi : 
  • SAPUAN 
  • CABIKAN 
  • SHIATSU 
  • TARIKAN 
  • REGANGAN 
Peruntukan Terapi Manual Sport Massage 

A.  Sport Massage untuk Jaringan dan Organ

Sport massage ini sangat bermanfaat untuk proses pertumbuhan dan perkembangan serta rehabilitasi jaringan dan organisme tubuh. 
Pada jaringan meliputi : Kulit, Konjunktiva ,Otot, Tendon, Articulatio /sendi, Vaskuler, Syaraf.
Pada organ meliputi : Kepala, Leher, Dada / Thorax, Perut / abdominalis.

B.  Sport massage untuk pertandingan dan prestasi 

Sport massage untuk pertandingan dan prestasi ini mencakup : 
1. Sport massage pra competition 
Sport massage ini diberikan sebelum atlet melakukan pertandingan sebagai bentuk warming-up pasif 

2. Sport massage during competition 
Sport massage ini diberikan selama atlet melakukan serangkaian Pertandingan atau saat istirahat pertandingan 

3. Sport massage post competition 
Sport massage ini diberikan setelah atlet menjalani masa pertandingan. 

C.  Sport massage bermacam aktivitas olahraga 
  1. tes kekuatan 
  2. tes daya tahan 
  3. tes kecepatan 
  4. tes kecakapan/skill 
  5. senam
  6. olahraga permainan 
  7. kegiatan pariwisata 
  8. olahraga lain 
D.  Manfaat terapi sport massage 

Sport massage untuk :
- higiene 
- terapeutik 
- cedera persendian 
- schele luka memar dan luka 
- schele fraktur 
- cedera otot dan tendon dan cedera syaraf 

Manfaat dan Tujuan Manipulasi Sport Massage
A.  Terapi Sport Massage Bagian Kepala

Perlakuan sport massage bagian kepala diberikan dengan menyesuaikan anatomis kepala
Frontalis : perlakuan pada bagian dahi /depan 
Lateralis/temporalis : bagian samping kepala 
Posterior/occipitalis : bagian belakang 
Manipulasi yang diberikan adalah Effleurage dan friction. 

B.  Terapi Sport Massage Bagian Leher

Terdiri dari dua bagian yaitu bagian muka /anterior dan bagian belakang /posterior. Pada region ini terdapat organ yang penting seperti : trachea, esophagus, pembuluh darah besar (arteri carotic, vena jugularis), saluran limphe dan persyarafan, kelenjar ganglion lymphe cervical dan kelenjar thyroid dan parathyroid. 
Leher bagian muka menggunakan manipulasi Effleurage, friction ringan, petrisage dan vibration. 
Leher bagian belakang menggunakan manipulasi effleurage, friction, petrisage, cabik dan vibration. (khusus leher bagian belakang perlakuannya sampai pundak).

C.  Terapi Sport Massage Bagian Thorax/Dada

Bertujuan Merangsang system respirasi biasanya karena masalah asmatis, sesak nafas atau nyeri dada. Menggunakan manipulasi effleurage, friction, cabikan, tapotament, vibration dan shaking. 

D.  Terapi Sport Massage Bagian Abdominal/Perut

Pada bagian ini diberlakukan manipulasi yang agak ringan tekanannya. Dengan manipulasi effleurage, petrisage, friction ringan dan shaking ringan. Bertujuan untuk meringankan gangguan di perut seperti sembelit dan sakit perut lainnya serta membantu menghilangkan lemak di otot perut. 

E.  Sport Massage untuk Prestasi dan Pertandingan

Perlakuan sport massage untuk prestasi dan pertandingan perlakuannya akan berbeda dengan perlakuan pasien. Karena tingkat kebugaran olahragawan ini lebih tinggi dibandingkan dengan pasien maka manipulasi yang diberikan akan lebih keras dan lebih cepat. 

a.  Sport massage pra competition 
Sport massage yang dilakukan sebelum masa pertandingan dan sebagai massage persiapan pertandingan. Maksudnya untuk meningkatkan derajat suhu tubuh dan mempersiapkan otot-otot dan persendian atau pemanasan /warming-up.
Manipulasi yang diberikan adalah friction yang kuat, petrisage , vibration dan shaking yang kuat. 

b.  Sport massage in competition/during competititon
Selama masa pertandingan sport massage ini diberikan misalnya saat jeda tanding, saat mengalami gangguan otot atau sendi misalnya kram otot. Tujuannnya untuk tetap mengaktifkan system sirkulasi darah dan oksigenasi dan menghilangkan tumpukan asam laktat. Manipulasi yang diberikan adalah shaking kuat, tapotament kuat dan shaking kuat. 

c.  Sport massage post competition
Sport massage ini diberikan setelah melakukan masa pertandingan dengan maksud untuk merelaksasi otot dan persendian yang telah bekerja keras. Manipulasi yang diberikan adalah general sport massage /massage seluruh tubuh. 

E.  Terapi Sport massage untuk Kulit

Bertujuan untuk mengaktifkan sirkulasi darah, elastisitas kulit dan perangsangan syaraf. 
Manipulasi yang diberikan adalah effleurage, friction, vibration dan tapotament. 
Effleurage : perlakuan selama 10 – 20 menit akan mengaktifkan system sirkulasi kulit, memperbesar sirkulasi darah permukaan dan bagian dalam, merangsang pergantian dan pengaturan sirkulasi lymphe dan hormonal serta untuk kebersihan dan kesegaran kulit. 
Friction : akan melatih fleksibilitas dan elastisitas kulit, memobilisasi jaringan kulit dan merangsang sirkulasi pergantian dan ekskresi. 
Tapotament : akan merangsang syaraf motorik dan syaraf sensitife. 
Vibration : sangat bagus untuk sirkulasi local dan pengeluaran sisa metabolisme.

sumber: 
http://asosiasisportsmassageindonesia.blogspot.com/2009/08/fisioterapi-olahraga-dengan-sports.html
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel