Oleh: Heru Purbo Kuntoro, Dipl. P. T, M. Kes
Sindroma
nyeri bahu hampir selalu didahului atau ditandai adanya rasa nyeri pada
bahu terutama pada saat melakukan aktifitas gerakan yang melibatkan
sendi bahu sehingga yang bersangkutan ketakutan menggerakkan sendi bahu.
Keadaan seperti ini apabila dibiarkan dalam wktu yang relatif lama
menjadikan bahu akan menjadi kaku. Beberapa faktor penyebab dapat
dikelompokkan menjadi:
- Kelompok Muskuloskeletal
- Kelompok Neurogenik
- Kelompok Vaskuler
- Kelompok Nyeri Rujukan
- Kelompok Persendian (Colliet 1981)
Secara praktis fisioterapi untuk mempermudah diagnosis kerja membagi faktor penyebab nyeri menjadi:
- Faktor gerak dan fungsional (movement & function) dan
- Faktor penyebab Neurogenik yang berkaitan dengan nyeri rujukan dari organ dalam interkostal dan abdominal yang se-segmen dengan persyarafan sympatis asli dan atau nyeri rujukan dari persyarafan sympatis perifer yang sesegmen dengan persyarafan somatis sendi bahu.
I. FAKTOR PENYEBAB DAN GERAK FUNGSI
Gerak
atau aktifitas kerja fungsional sehari-hari yang membebani struktur
persendian bahu, misalnya pada karyawan tukang cat, pemain tennis, juru
ketik dan sebagainya yang terkait dengan aktivitas gerak bahu.
Pada
kelompok orang-orang tersebut, nyeri bahu terjadi oleh karena aktivitas
yang dilakukan pada posisi abduksi-elevasi sedikit eksorotasi. Pada
aktivitas gerak ini maka peran dan kerja otot “rotator cuff” terutama m.
supraspinatus sering terjadi impangement (terjepit) antara kaput humeri
dan akromion atau ligamentum coraco akromiale.
Keadaan
ini sangat potensial menimbulkan cedera pada otot pada supraspinatus
dan yang bersangkutan sering mengeluh pegal dan nyeri. Mekanisme yang
sama dapat terjadi otot kelompok “rotator cuff” yang lain berdasarkan
pada gerak yang terjadi dan melekat karena kerja otot apa yang dominan.
Gambar: m. supraspinatus
Penyebab
nyeri gerak dan fungsi, sangat erat kaitannya dengan mekanisme gerak
yang terjadi pada sendi bahu baik secara osteokinematik maupun secara
orthokinematik. Mengingat bahwa secara anatomis pergerakan sendi bahu
melibatkan banyak persendian (8 sendi) yaitu : glenohumeral,
suprahumeral, acromioclavicular, scapulo cathalis, sterno clavicular,
kostosternal, costa vertebralis dan vertebralis cervical 4 s/d thoracal
8, maka proses-proses patologik yang termasuk dalam nyeri bahu juga
banyak macamnya.
Gambar: sendi gerak
Nyeri
bahu dengan penyebab gerak dan fungsi yang paling sering terjadi adalah
disebabkan oleh karena tendinitis supraspinatus, ruptur rotator cuff,
bursitis dan kapsulitis adhesiva. Semua keadaan sering disebut dengan
frozen shoulder atau perioartritis humero & kapulari.
Satu
hal yang perlu dan penting diperhatikan adalah karakterisitik
keterbatasan yang spesifik menunjukkan bahwa toper lesi sudah diikuti
kontraktur dari kapsel sendi. Dengan pemahaman ini maka intervensi
rasional fisioterapis yang paling penting adalah mobilisasi sendi dengan
pendekatan manipulatif disamping intervensi yang lain.
Pada
gejala yang non spesifik pada nyeri bahu pada umumnya sifat
keterbatasan dan nyeri tidak mengikuti pola yang spesifik, sering
disebut “non capsulair pattern” keterbatasan bukan pada kapsuler (non
kapsuler).
Keluhan
nyeri pada sendi bahu yang bersifat non kapsuler dapat terjadi oleh
karena kelainan yang bersifat “impagement” dan kelainan neurologis yang
bersifat syndroma. Secara klinis gambaran patologis nyeri sendi bahu
dapat dapat dicermati dari beberapa kondisi sebagai berikut :
1. Gangguan Myotakal Pada “Rotator Cuff”Yang Meliputi:
a) TENDINITIS
Nyeri
bahu pada pekerja yang dalam aktifitasnya harus mengangkat beban berat,
bukan disebabkan oleh proses degenerasi, melainkan terjadi bila lengan
harus diangkat sebatas atau melebihi tinggi akronion. Posisi yang
sedemikian ini bila berlangsung terus-menerus juga akan menyebabkan
terjadinya iskemia pada tendon.
Gambar 2: sirkulasi darah daerah bahu
a. Sirkulasi ke “rotator cuff”
b. Daerah
Iskemia akibat tarikan. Iskemia ini selanjutnya dapat mengakibatkan
terjadinya atropi kelemahan otot daerah pundak sehingga daerah tersebut
kelihatan kempis. Degenerasi yang progresif pada “rotator cuff” biasa
terjadi pada mereka yang kurang/tidak mewaspadai adanya rasa nyeri dan
gangguan fungsi pada bahu. Pada decade
ke-5, kebanyakan otot “rotator cuff”telah mulai tertarik serta
memperlihatkan tanda-tanda penipisan dan fibrotisasi. Penipisan dan
degenerasi ini terutama terjadi pada daerah kritis (critical zone).
Pada
keadaan lebih lanjut, kemungkinan terjadinya ruptur ringan akan
bertambah lebar, pada keadaan ini proses degenerasi akan diikuti erosi
pada tuberkulum humeri. Erosi yang terjadi menekan tendon biceps
sehingga sulcus bisipitalis pada kondisi parah seolah-olah menghilang. Bursa sub akromialis menjadi ikut terjepit di daerah tersebut sehingga dinding bursa menebal.
Gambar 4. : Proses terjadinya degenerasi
Bila terjadi ruptur tendon atau klasifikasi, dinding bursa ini menjadi tegang. Permukaan bawah akronion oleh adanya gesekan dan tekanan dari humerus, akan mengeras dan menebal.
Pertambahan
usia harus dipertimbangkan sebagai factor yang berperan penting dalam
proses tendinitas degenerative, meskipun factor-faktor yang lain juga
memegang peranan. Pertambahan usia juga
mempengaruhi luas gerak sendi, yang disebabkan oleh perubahan posisi
scapula. Perubahan posisi scapula ini sebagai akibat dari bertambahnya
lengkung kiposis torakal karena degenerasi diskus intervertebralis.
Kalsifikasi Pada Tendinitis
Penimbunan kristal kalsium fosfat dan kalsium karbonat pada “rotator cuff” sangat sering terjadi. Garam
ini tertimbun dalam tendon, ligamen, aponeurosis dan kapsul sendi serta
dinding pembuluh darah. Penimbunan ini berhubungan dengan perubahan
degenerasi. Umumnya terjadi pada daerah kritis dimana degenerasi ini
dapat menyebabkan ruptur atau nekrosis pada tempat penimbunan kalsium.
Secara sederhana proses terjadinya kalsifikasi pada tendonitis dapat
dilihat pada gambar 5.
Gambar 5 : Proses terjadinya calcific tendonitis
A. Tendon M. Supra spinatus (cuff) antara lig. Coraco acromial dan caput humeri.
B. Tekanan yang berulang karena kegiatan sehari-hari serta posisi kerja yang slah.
C. Perubahan degeneratif pada critical zone
Penimbunan
pertama kali didapatkan di dalam tendon, kemudian menuju permukaan,
selanjutnya ruptur ke atas menuju ruan di bawah bursa subdeltoid.
Evakuasi kalsium dari timbunan yang ruptur juga sementara saja dan rasa
nyeri ini kemudian dapat timbul kembali. Evakuasi kalsium ke ruang bawah
bursa akan menekan ke atas ke arah dasar bursa. Dengan
iritasi dan tekanan, timbunan ini dapat ruptur ke dalam bursa itu
sendiri. Ruptur ini terjadi akut dan menimbulkan nyeri hebat. Di dalam
bursa timbunan ini dapat meluas ke lateral maupun distal (medial)
sehingga berbentuk seperti dumbbell dengan pemisahnya adalah ligamentum
korakoakromialis.
Dalam
keadaan ini baik abduksi maupun adduksi bahu tidak lagi dapat dilakukan
sepenuhnya (akan terganggu). Bahu biasanya terpaku dalam keadaan
sedikit abduksi (30 s/d 40 derajat) yang akan menghambat gerakan bahu ke
semua arah.
Radang
bursa yang terjadi berulang kali oleh karena adanya tekanan yang
terus-menerus dapat menyebabkan penebalan dinding bursa, pengentalan
cairan bursa dan selanjutnya perlekatan dinding dasar dengan atas bursa,
sehingga timbul perikapsulitis ahesive. Akhirnya timbul “frozen
shoulder” (bahu beku).
Gambar 6 : Evolusi dari kalsifikasi pada tendonitis dan terjadinya “bursitis”
- Posisi normal tendon supra spinatus dan bursa sub deltoid.
- Letak timbunan kalsium pada tendon “rotator cuff”.
- timbunan kalsium mulai keluar ke ruang di bawah bursa.
- Evakuasi sebagai kalsium, namun sebagian besar masih berada dalam tendon.
- Evakuasi berlanjut, ruptur ke dalam bursa.
- Perluasan di dalam bursa terbentuk “dumbbell”
- Perlekatan dinding bursa oleh karena penebalan dinding dasar dan atap bursa serta pengentalan cairan bursa.
Tendinitis pada daerah bahu yang sering terjadi adalah tendinitis supraspinatus dan tendinitis bisipitalis.
Tendinitis Supraspinatus
Tendon
otot supraspinatus sebelum berinsersio pada tuberkulum majus humeri,
akan melewati terowongan pada daerah bahu yang dibentuk oleh kaput
humeri (dengan bungkus kapsul sendi glenohunerale) sebagai alasnya, dan
akromion serta ligamentum korako akromiale sebagai penutup bagian
atasnya. Disini tendon tersebut akan saling
bertumpang tindih dengan tendon dari kaput longus biseps. Adanya gesekan
dan penekanan yang berulang-ulang serta dalam jangka waktu yang lama
oleh tendon biseps ini akan mengakibatkan kerusakan tendon otot
supraspinatus dan berlanjut sebagai tendinitis supraspinatus.
Tendinitis supra spinatus dapat disertai ataupun tanpa adanya kalsifikasi. Ada tidaknya kalsifikasi tidak mempunyai hubungan langsung dengan ada tidaknya rasa nyeri.
Penderita
tendinitis biasanya datang dengan keluhan nyeri bahu yang disertai
keterbatasan gerak sendi bahu. Bila ditelusuri, daerah rasa nyerinya
adalah di seluruh daerah sendi bahu. Rasa nyeri ini dapat kumat-kumatan,
yang timbul sewaktu mengangkat bahu. Pada
malam hari nyeri ini dirasakan terus-menerus, dan bertambahnya nyeri
bila lengan diangkat. Keluhan umum yang biasanya disampaikan adalah :
kesulitan memakai baju, menyisir rambut, memasang konde atau kalau akan
mengambil bumbu dapur di rak gantung bahunya terasa nyeri.
Pada pemeriksaan gerak dijumpai adanya:
- Painfull arc supraspinatus 0-60 derajat
- Keterbatasan gerak sendi bahu, terutama abduksi dan eksorotasi.
- Nyeri tekan pada daerah tendon otot supraspinatus.
- Tes “Apley Scratch” dan “Mosley”: positif. (Kedua tes ini bukan merupakan tes khusus bagi tendinitis supraspinatus saja.
- Tes “Apley Scratch” sedang tes dan “Mosley” juga positif pada kerusakan otot “rotator cuff” yang lain).
Tendinitis Bisipitalis
Tendon
otot bisep dapat mengalami kerusakan secara tersendiri, meskipun berada
bersama-sama tendon otot supraspinatus. Tendenitis ini biasanya
merupakan reaksi terhadap adanya trauma akibat jatuh atau dipukul pada
bahu, dengan lengan dalam posisi adduksi serta lengan bawah supinasi.
Atau dapat juga terjadi pada orang-orang yang bekerja keras dengan
posisi seperti tersebut diatas dan secara berulang kali.
Tendinitis
bisipitalis memberi rasa nyeri pada bagian depan lengan atas.
Penderitanya biasanya datang dengan keluhan : “ kalau mau mengangkat
benda berat bahunya sakit”, atau “kalau membawa jinjingan di pasar
bahunya terasa nyeri”.
Pemeriksaan fisik pada penderita tendinitis bisipitalis didapatkan adanya:
§ Adduksi sendi bahu terbatas
§ Nyeri tekan pada tendon otot biseps (pada sulkus bisipitalis/sulkus intertuberkularis).
§ Tes
“Yergason” disamping timbul nyeri juga didapati penonjolan disamping
medial tuberkulum minus humeri, berarti tendon otot bisep tergelinsir
dan berada di luar sulkus bisipitalis (terjadi penipisan tuberkulum).
B. BURSITIS
Merupakan
peradapan dari Bursa. Kelainan ini jarang primer, tetapi biasanya
sekunder terhadap kelainan degenerasi dari “rotator cuff”. Bursitis
subdeltoideus.
Penderita
bursitis subkromialis, keluhan pertamanya adalah “tidak dapat
mengangkat lengan ke samping (abduksi aktif)”, tetapi sebelumnya sudah
merasa pegal-pegal di bahu. Lokasi nyeri yang dirasakan adalah pada
lengan atas atau tepatnya pada insersio otot deltoideus di tuberositas
deltoidea humeri. Nyeri ini merupakan nyeri rujukan dari bursitis sub
kromialis yang khas sekali. Ini dapat dibuktikan dengan penekanan pada
tuberkulum humeri. Tidak adanya nyeri tekan di situ berarti nyeri
rujukan.
Bursa
subdeltoideus merupakan lapisan sebelah dalam dari otot deltoideus dan
akronim, serta lapisan bagian luar dari otot “rotator cuff”. Bursa ini
sedikit cairan. Gerakan abduksi dan fleksi lengan atas akan menyebabkan
dua lapisan dinding bursa tersebut saling bergesekan. Suatu peradangan
pada tendon juga akan menyebabkan peradangan pada bursa.
Pemeriksaan fisik dijumpai:
- Painfull arc sub acromialis 70 – 120 derajat.
- Tes flexi siku melawan tahanan pada posisi flexi 90 derajat menjadikan rasa nyeri.
C. RUPTUR “ROTATOR CUFF”
Ruptur
“rotator cuff” ternyata terjadi lebih sering daripada yang kita duga.
Semula diagnosa ini hanya dipertimbangkan bagi mereka yang bekerja berat
dan cenderung mudah mengalami trauma hebat. Ternyata pada autopsi
sering terlihat adanya ruptur “rotator cuff” pada golongan umur empat
puluh tahun, meskipun tanpa keluhan pada bahu semasa hidup.
Otot
“rotator cuff” dapat robek akibat kecelakaan. Bagi penderita akan
langsung merasakan nyeri pada daerah persendian bahu bagian atas. Hal
ini umum terjadi pada anak-anak atau dewasa muda. Pada orang tua, ruptur
dapat terjadi akibat trauma yang ringan saja, disebabkan oleh adanya
degenerasi pada “rotator cuff”. Untuk keadaan ini, biasanya tanpa
disertai keluhan nyeri. Keluhannya hanya berupa kesulitan mengabduksi
lengan.
Pada
pemeriksaan fisik, umumnya penderita dapat melakukan abduksi sampai 90
derajat, namun bila diminta meneruskan abduksi tersebut (elevasi), tidak
akan dapat dan bahkan mungkin lengan atas jatuh. Pada pemeriksaan
kekuatan otot (MMI), nilai kekuatan otot tidak akan lebih dari 3 (Fair).
Gerak pasif biasanya tidak menimbulkan rasa nyeri, juga tidak ada
gangguan. Tes “Moseley” atau tes “lengan jauh” akan menunjukkan hasil
yang positif. Bila tes “Moseley” positif, perlu dilakukan pemeriksaan
arterografi.
- Kapsulitis Adhesiva
Untuk
semua gangguan pada sendi bahu yang menimbulkan nyeri dan keterbatasan
luas gerak sendi (R.O.M) istilah yang luas dipergunakan “Frozen
Shoulder”. Karenanya ada berbagai macam keadaan yang termasuk dalam
“Frozen Shoulder”. Kondisi ini sering dihubungkan dengan : Kapsulitis
adhesiva, periartritis, perikapsulitis, bursitis obliteratif, komponen
bahu dari “Shoulder hand syndrome” dan periartritis skapulohumeral.
Kapsulitis
adhesive ditandai dengan adanya keterbatasan luas gerak sendi
glenohumeral yang nyata, baik gerakan aktif maupun pasif. Ini adalah
suatu gambaran klinis yang dapat menyertai tendinitis, infark myokard,
diabetes melitus, fraktur immobilisasi berkepanjangan atau redikulitis
servikalis. Keadaan ini biasanya unilateral, terjadi pada usia antara 45
– 60 tahun dan lebih sering pada wanita. Nyeri dirasakan pada daerah
otot deltoideus. Bila terjadi pada malam hari sering sampai mengganggu
tidur.
Pada
pemeriksaan fisik didapatkan adanya kesukaran penderita dalam
mengangkat lengannya (abduksi), sehingga penderita akan melakukan dengan
mengangkat bahunya (= srugging). Juga dapat dijumpai adanya atropi otot
gelang bahu (dalam berbagai tingkatan). Sedangkan pemerikasaan
neurologik biasanya dalam batas normal. Sifat keterbatasan meliputi pola
kapsuler.
II. FAKTOR PENYEBAB PENYAKIT NEUROGENI
Nyeri bahu yang diakibatkan oleh factor neurogenik dapat bersifat
§ Radikuler apabila terjadi tekanan pada akar saraf servikal yang menginervasi sendi bahu
§ Radikuler akibat entrapment pada m. supra scapular, dorso scapular, lesi plexos bracialisTumor myelum
§ Artero sclerotic occlusion
§ Posterior primary rami lower thoracic nerve entrapment
Dan
Nyeri rujukan berasal dari segment somatic, sympatis perifer rami
sympatis asli yang menginervasi organ intra thoracal dan intra
abdominal.
Gambar 6. Nyeri akibat faktor neurogenik
Gangguan nyeri bahu akibat kelainan neurologis dan entrapment pada saraf tepi meliputi:
A. Tekanan Pada Akar Saraf Servikal
Cervikal Nerve Root pressure = "cervical radiculitis = cervical entrapment.
Penyebab Tekanan Akar Saraf Servikal antara lain:
§ Cervical spendylosis.
§ Cervical disk herniation.
Kelainan
pada servical yang menyebabkan nyeri pada bahu ini biasanya disebabkan
oleh karena kompresi akar saraf cervikal yang terjadi di antara ruang
vertebraservikalis V - VI atau VI - VII dengan kompresi pada akar saraf
C6 atau C7.
Pada
gangguan ini biasanya dirasakan leher kaku dan nyeri, dan timbu1
"paresthesia" yang menjalar dan leher turun sisi laterial bahu, kelengan
dan kadang sarnpai pada jari-jari.
Kelemahan
pada segmen myotom dapat pula terjadi bila tekanan akar saraf ini
disebabkan oleh karena herniasi diskus servikalis, fleksi leher akan
rnemyebabkan rasa sakit bertambah dan begitu pula rasa paraesthesia.
("degenerative arthritis"), ekstensi leher akan menekankan sendi luschka
yang hepertropi ke akar saraf yang terjepit itu.
Komposisi akar saraf C6 menyebabkan
§ Nyeri dan kaku pada leer
§ Rasa nyeri dan tebal dirambatkan ke ibu jari dan sisi radial tangan.
§ Dijumpai kelemahan pada bicep
§ Berkurangnya reflek bicep
§ Dijumpai
rasa nyeri alih (“referred pain”) di bahu yang samar, dimana “nyeri
bahu" hanya dirasa betah didaerah deltoideus bagian lateral dan daerah
infra scapula atas.
Kompresi akar saraf C7 menyebabkan:
§ Rasa
bebal dan nyeri yang dialihkan ke jari tengah dan jari telunjuk dan
punggung tangan dan pada tingkat lebih lanjut terjadi hiperaestesi di
dermatom C7.
§ Terjadi kelemahan dan atropi pada m. trisep
§ Penurunan reflek tendon trisep.
Menurut
Caillet penyakit diskus servikal dengan osteofit biasanya asimtomatik
dan menimbulkan nyeri karena trauma atau fres pastural, atau ketegangan
emosi. Dikatakannya bahwa sikap tubuh
(posture) saja dapat merupakan trauma yang mengawali nyeri servikal atau
Radikuler, misalnya ketegang otot kuduk karena keletihan akibat
kontraksi isometrik berkepanjangan (misalnya berjam-jam kerja atau
membaca pada meja yang tidak memenuhi syarat-syarat ergonomi
mengakibatkan penarikan terhadap saraf spinal sehingga terjadi nyeri
pada akar saraf atau saraf yang melintasi foramen intervertebral yang
menyempit tadi. Sikap kepala kearah anterior atas dasar sikap punggung
yang membungkuk, menyebabkan pertambahan lordosis servikal dengan
penyempitan foramen intervetebrale dan saling mendekatnya procesus
artikulasio yang berhadapan.
Depresi merupakan kondisi emosi yang paling utama yang menyebabkan sikap bungkuk. Diagram
dan penyakit diskogenik servikal terutama berdasarkan riwayat dan
pemeriksaan fisik. Pemeriksaan tambahan seperti photo polos vertebra
servicalis, EMG dan MRI serta pemeriksaan yang lain perlu
dipertimbangkan menurut kebutuhan selain pengobatan baik dengan
analgetika maupun traksi leher, “Collar immobilization”, latihan otot
leher dan sikap kukuh perlu pula dengan pendekatan fisik kiatrik
terhadap depresinya yang kadang merupakan faktor dasar nyeri bahu ini.
B. Tumor Myelum
Tumor
di myelum di daerah servikal dapat memberikan gejala serupa herniasi
diskus servikal pada stadium awalnya tetapi biasanya dijumpai keluhan
dan gejala yang progesip.
Laesi
tunggal pada akar saraf kemudi disusul dengan laesi multipel dan
bilateral, yang kenudian menimbulkan tanda-tanda laesi upper motor
neuron dengan kelemahan yang kemudian disusul dengan kelumpuhan dan
inkoordinasasi dari kaki dan disfungsi dan kandung kemih dan rektun.
Diagnosis
ditegakkan dengan riwayat keluhan dan gejala yang progresif tadi,
adanya kelainan yang multipel dan tanda-tanda UMN (Upper Motor Neuron)
lesi. Pemeriksaan tambahan dimulai dengan fungsi lumbal (harus
hati-hati), caudografi atau CT scan perlu untuk tindakan selanjutnya.
C. Laesi Pada Plexsus Brachialis
Pleksus
brachialis dapat merupakan sumber rasa nyeri di daerah bahu, dan
penyebabnya dapat oleh karena trauma dan mekanis: iritasi non traumata.
Trauma pada pleksus brachialis dapat disebabkan oleh karena luka tembus,
dislokasi akibat fraktur, atau akibat roda paksa tarikan.
Hal-hal
tersebut diatas menyebabkan rasa nyeri pada bahu dan dapat dijumpai
gangguan sensorik dan motorik dan banyak akar saraf dan C5 sampai Tl dan
untuk menentukan tempat lesi secara tepat dapat dilakukan pemeriksaan
dengan EMG dan MRI.
Kompresi
pleksus brachialis yang mekanik non traurnata dapat disebabkan oleh
karena keadaan klinik yang disebabka oleh karena sidroma rongga servikal
dorsalis (“Cervica dorsal autlet syndroma”) yang rneliputi sindroma
pektoralis minor, sindroma kosto klavikula dan sindroma iga servikal.
Gejala
yang ditimbulkan disebabkan oleb karena gangguan pada pleksus
brachialis atau arteri subclavia, atau keduanya, olek karena tulang,
ligament atau otot-otot diantara vertebral servikal dan batas bawah.
Daerah tersering yang terkena adalah di regio supra klavikula di daerah
yang padat yang terisi dengan iga I, klavikula, dan vertebral servikal
yang terbawah dengan jaringan didalamnya.
D. Sindroma Skapulokostal
Penyebab
terserang dari nyeri bahu dengan rasa nyeri lokal dibahu dengan
perambatan kebagian distal lengan dan tangan adalah sindroma
skapulokostal. Dikatakan sindroma ini dijumpai 90 % dan semua rasa nyeri
didaerah servikobrachial.
Sindroma
ini disebut juga "postural fatique" dan akan mempengaruhi penderita
selama masa istirahat. Gaya berat komponen skapula menyebabkan
terjadinya sindroma ini. Sindroma ini juga menyebabkan kompresi
neurovaskular di fossa supraklavikula yang gejalanya sama dengan gejala
yang dijumpai pada igaservikal, sindroma skalenus anterior, sindroma
klavikokostal dan sindrorna pektoralis minor.
Gejala
ini terjadi pada penderita waktu istirahat pada posisi tegak (duduk
atau berdiri). Prinsip utama dan sindroma ini adalah rotasi ke distal
dari gerakan skapulokostal dan skapula yang memutar bagian redial dan
superior skapula ke proksimal dan lateral. Akibat gerakan penarikan
skapula kebawah menyebabkan tarikan pada otot-otot levator scapula, yang
menyebabkan otot-otot ini terangsang dan rnengalami iskemia dan
terjadilah spasme.
Dan timbullah gejala-gejala seperti dibawah ini:
1. Rasa nyeri hemikranial (nyeri kepala sesisih) yang disebabkan karena salah satu atau semua penyebab dibawah ini:
§ Tekanan pada n. oksipitalis magnus oleh karena regangan fascia cervicalis profunda segitiga posterior leher).
§ Tegangan pada periosteum kraniun pada perlekatan otot trapezius atau elevator skapula.
§ Nyeri
Rujukan (referred paint) dari leher akibat lordosis berlebihan yang
menyebabkan penyempitan akar saraf pada foramen intervertebralis.
2. Rasa
nyeri pada sisi posterolateral dan leher. Gejala radikuler kebawah yang
ipsilateral ekstremitas atas baik vaskuler atauneurologik atau
keduanya.Paresthesia dapat unilateral atau bilateral dan biasanya pada
distribusi dari n. ulnaris. Akibat kiposis torakalis pada “fatique
posture" dan saraf torakalis V dan VI dapat menyebabkan iritasi dan
menyebabkan nyeri pada sudut inferior skapula.
Diagnosis didasarkan atas:
§ Observasi
dari sikap : “dorsal round back khyposis dengan lordosis servikalis
kompensata yang meningkat dan kepala terdorong kemuka.
§ Adanya bahu yang lentur riwayat dari penyabab yang menyebabkan sikap ini juga membantu untuk menentukan diagnosa.
§ Menimbulkan
daerah pencetus nyeri (trigger point area) di otot-otot scapula yang
meliputi hiperalgesia, hiperasthesi dan allodynia Untuk ini diperlukan
pemeriksaan yang teliti untuk mencari titik pencetus (trigger point
area) atau daerah nyeri rujukan dengan tekanan digital.
E. Iga Servikal = "Carvical Rib”
Pada
umumnya hanya pada vertebra thorakalis saja yang terdapat tulang rusuk,
tetapi pada 1 % populasi terutama pada wanita terbentuk rusuk tambahan
pada daerah servikal yang bilateral, dan jarang rusuk tambahan ini
memberikan gejala. Bila menimbulkan gejala
dapat gejala timbul karena gangguan vaskuler, neurologik atau keduanya.
Keluhan Neurologi dapat berupa : kelainan sensoris antara lain: nyeri,
hiperasthesi, para asthesia atau hipoasthesia dan kelainan motoris
berupa kelemahan otot pernapasan.
Gangguan
neurologik ini akibat gangguan pada nerviservikalis VIII dan
nervithoracalis I, dengan rasa sakit dan tebal pada sisi ulnair tangan
dan pada jari manis dan jari kelingking: kelemahan otot-otot kecil
ditangan dapat pula terjadi dan biasanya terdapat pula gangguan
vaskuler.
Penanganan untuk iga servikal ini harus intensif, secara konservatif dilakukan:
§ Perbaikan sikap tubuh
§ Perbaikan tonus otot pada sendi bahu
§ Pemasangan brace untuk membuat elevasi bahu pun dapat dikerjakan.
Tindakan pembedahan
dengan memotong iga tambahan tersebut atau otot sealenus, dilakukan
bila terdapat gangguan pada arteri subclavia yang ditandai dengan
kepucatan, rasa dingin, kelemahan otot. Untuk mengatasi gangguan arteri
dilakukan retrograde arterografi.
F. Thoracic Outlet Compression SÃndrome
1. Sindroma
skalenus anterior (scalenii anticus syndrome). Keluhan utama sindroma
skalenus anterior adalah adanya rasa bebal dan bergetar pada lengan,
tangan dan jari-jari dan rasa yang seperti ditusuk ini seringkali pada
waktu malam hari yang sering membangunkan penderita. Kelemahan pada
jari-jari didapatkan terutama bila ada rasa sakit dan dirasakan sebagai
rasa sakit yang dalam dan seperti ditusuk.
Pemeriksaan
fisik biasanya tidak terdapat kelainan, dan pemeriksaan tertentu
misalnya dengan “adson test”, yaitu dengan memutar kepala pada sisi
keluhan, dan kepala diekstensikan ke belakang, lengan diabduksikan, dan
penderita disuruh bernapas dalam. Dengan tes ini timbul rasa nyeri dan
denyut nadi radial akan berubah.
Mekanisine
tes ini adalah sebagai berikut: Rotasi dan posisi ekstensi leher akan
menyebabkan otot Scaleneus dalam keadaan tegang, dan ini akan
menyempitkan sudut diantara otot itu dengan iga pertama, dengan
inspirasi dalam yang melekatkan m. scaleneus yang berfungsi sebagai otot
tambahan pernapasan akan mengangkat iga dan ini akan menekan gabungan
neurovaskuler yang ada. Spasme otot scalenus dapat disebabkan oleh
karena sikap tubuh, stres karena pekerjaan, dan atau keadaan emosionil
yang lama. Dan mungkin pula, spasme otot scalenus ini disebabkan oleh
karena sekunder akibat radikulitis servikalis akibat spondylosis,
penyakit diskogenik, atau fibrosis akar saraf.
Gambar: Thoracic Outlet
2. Sindroma
klavikulokostal (klavikulokostal manuver) “Neurovascular bundle” dapat
terjepit diantara iga pertama dan klavikula pada tempat dimana pleksus
brachialis dan pembuluh arteri, vena melintas di iga pertama. Keluhan
adalah serupa dengan sindroma skalenus anterior dan tanda yang dijumpai
juga minimal. Keluhan dapat ditimbulkan
dengan menyuruh penderita untuk menekan bahu kebawah dan kebelakang. Dan
costo clavicularis manuver tesini mula-mula dikerjakan oleh penderita
kemudian, secara pasif dilakukan tekanan kebawah oleh pemeriksa.
Bising
(“bruit”) akan terdengar bila pembuluh darah tertekan dan akan timbul
kembali bila di1epas, dan ini merupakan cara pemeriksaan klinis, yang
terbaik. Faktor penyebabnya antara lain kelelahan, trauma, dan stress,
jadi dengan perbaikan sikap dan meningkatkan tonus otot dan "endurance"
dapat mengurangi keluhan.
3. Sindroma
Pectoralis Minor. Sindroma ini juga disebut sindroma hiperabduksi otot
pec-toralis minor berasal dan rusuk III, IV dan V dengan in-sertio
diprosesus Coracoideus discapula; dan pleksus brachialis bersama-sama
arteri axialis dan vena melintasi rusukI dibawah riun. pectoralis.
Keluhan
bebal dan bergetar dan tangan timbul bila ter~a-di kompresi gabungan
saraf dan pembuluh darah diantara rn. pectoralis minor dan iga pertama,
dan dapat diulangi bila lengan penderita diangkat diatas kepala
diabduksikan dan ditarik kebelakang; dan mi akan menyebabkan kompresi
pa-da gabungan saraf dan pembuluh darah tadi (Wright Test). Faktor
Penyebabnya sama dengan sindroma scalenusanticus dan sindroma
klavikulokosta, dan pengobatannya juga sama.
G. Superior Pulmonary Sulcus Tumor
Ca
didaerah apex paru atau lazimnya disebut Pancoast tumor, dan memberikan
tekanan pada pleksus brachialis dan menimbulkan gejala. Rasa sakit yang
timbul biasanya hebat dan difus dan sekitar daerah tangan dan bahu.
Disamping itu tumor juga mengadakan penekanan pada untaian ganglion
simpatikus di daerah thorak dan menyebabkan terjadi sindroma hernia.
Biasanya
disertai pula dengan memburuknya keadaan umum adanya kelainan dan photo
thorak dan pada biopsi kelenjar dijumpai kelainan. Dengan sendirinya
pengobatan adalah dengan pembedahan dan radiasi yang kemudian bila
dilakukan tindakan rehabilita dengan melakukan suatu rangkaian latihan.
H. Supra Scapula Entrapment
Rasa
nyeri pada bahu dapat pula disebabkan oleh karena "entrapment' pada n.
suprascapularis pada jalannya melalui foramen suprascapular.
Saraf
ini berasal dari C5 - C6 berjalan dibe1akang pleksus brachialis ke tepi
atas skapu1a, dan berjalan rnelalui insisura supra skapula, dimana
ditutup oleh ljgamenturn tranversolis scapula. kemudian masuk ke dalam
fossa supraspinatus dan mensarafi sendi bahu, sendi akromio klavikula
dan otot supraspinatus dan infraspinatus.
Dan
saraf ini merupakan saraf motoris yang penting, rasa sakit akan
dirasakan didaerah yang dilayaninya dan dirasakan sebagai rasa sakit
yang sangat terasa didalam dan sulit untuk dijelaskan.
Daerah bahu bagian posterior lateral mendapatkan daerah nyerinya. Dan sering didapatkan atropi dan kelemahan otot saraf akan merentang maksimal bila lengan dalam posisi adduksi didada.
Daerah bahu bagian posterior lateral mendapatkan daerah nyerinya. Dan sering didapatkan atropi dan kelemahan otot saraf akan merentang maksimal bila lengan dalam posisi adduksi didada.
Aduksi
lebih lanjut akan menekan sendi skapula thora calis dan menyebabkan
tarikan pada saraf. Trauma biasanya merupakan penyebab utama terutama
bila terjadi pemisahan akromio klavikuler yang dapat menyebabkan skapula
bergerak ke depan dan medial. Diagnosa dibuat dengan gera kan yang
dapat menyebabkan rasa sakit dengan menggerakkan scapula kemuka dari
melintasi rongga dada dan rasa nyeri dada dengan blokade djdaerah
supraskapula. Penanganan dengan mengobati penyebabnya, imobilisasi
scapula pada posisi sedemikian sehingga tidak didapatkan regangan saraf
dan blokade pada saraf secara berulang.
I. Posterior Primari Rami Lower Thoracic Nerve Entrapment
Rami
dorsalis n. thoracis lower memberikan cabang ke lateral melintasi
segment thoracal 7 kemudian memberikan persyarafan ke rotator cuff dan
kapsul sendi bagian posterior sendi bahu. Apabila ketegangan otot
rhomboid yang dapat mengganggu mobilitas vertebrae thoracal maka akan
menimbulkan iritasi pada serat thoracis lower sehingga nyeri pada regio
bahu bagian posterior dirasakan menyengat karena saraf ini komponen yang
utama di daerah sensoris.
Gambar: Posterior Primari Rami Lower Thoracic Nerve Entrapment
J. Dorsal Scapular Nerve Etrapment
N.
scapula dorsalis mensarafi rhomboideus, dan berasal dari C5 dan
kemudian sesudah keluar langsung masuk di otot skaleneus medius. Keadaan
merangsang dengan setiap keadaan yang menyebabkan regangan otot, atau spasme dan otot-otot skaleneus.
Rasa sakit dirasakan tumpul dalam dan samar di daerah sisi medial skapula, karena saraf ini yang utama adalah motorik. Bila rasa sakit mengganggu dapat dilakukan pembedahan.
K. Arterio Sclerotic Occlusion
Arteno sklerosis dapat menyebabkan penyurnbatan dan akan mengurangi aliran darah dan rnenyebabkan denyut radialis berkurang. Keadaan
ini menyebabkan "rasa nyeri claudication" bila penderita melakukan
latihan yang berlebih dan sembuh bila istirahat. Sering terdengar bising
sistolik dan diperlukan arteriogram/venogram untuk rnembedakan dengan
menelusuri pada arteri innominata dan subclavia dengan/tanpa kompresi
dan rusuk servikalis.
L. Bahu pada Hemiplegia
Penderita
yang menga1ami gangguan pernbuluh dara otak (G.P.D.O.) kerap kali
rnernpengaruhi bahunya dan menyebabkan disabilitas dan tidak jarang
menyebabkan rasa nyeri. Kembalinya
fungsi atau perbaikan fungsi dan bahu sangat penting untuk dapatnya
melakukan aktifitas sehari-hari, kernbalinya fungsi tangan, keseimbangan
tubuh, melakukan aktifitas rnemindahkan sesuatu dan ambulasi yang
efektif. Tirnbulnya rasa nyeri akan
mengurangi rehabilitasi penderita, dan nyeri bahu ini biasanya
disebabkan oleh karena subluxatio dan sendi gleno humeral.
M. Nyeri Bahu Pasca Pembedahan
Pembedahan atas operasi sendi bahu biasanya dilakukan oleh adanya kerusakan struktur sendi yang sudah parah, sehingga tindakan konservatif tidak memungkinkan untuk dilaksanakan.
Salah satu contoh pembedahan sendi bahu adalah shoulder arthrocopy, sering dilakukan
pada kondisi misalnya: kerusakan labium glenoidalis, ruptur rotator
cuff, ruptur tendon biceps bracialis, dan kondisi lain yang menurut
ortoped menyatakan indikasi.
Problem
pasca pembedahan biasanya akan diikuti : oedema, sekitar sayatan. Nyeri
dan gangguan mobilisasi. Tanda ini merupakan respon normal yang
bersifat fisiologis.
Respon fisiologis penyembuhan kemudian akan segera diikuti oleh beberapa fase yaitu:
§ Fase pendarahan. Fase peradangan (oedema) menunjukkan adanya vasedilatasi.
§ Fase
fibroblas (proliferasi) menunjukkan adanya pembentukan fibrinogen pada
hari ke-2 dan setelah hari ke-4 sudah terbentuk jaringan endotel
§ Fase
remodeling dengan proses fisiologis durasi 1-3 minggu pembentukan
jaringan kolagen, durasi 2-3 minggu hingga 3 bulan terjadi remodeling.
Durasi setelah 3 bulan pembentukan struktur secara normal.
Biasanya
keluhan nyeri terjadi pada fase fibroblas dan awal remodeling. Keadaan
ini aktivitas acceptor nyeri (nociceptor) berperan untuk mempertahankan
keseimbangan fungsi vasodilatasi melalui keseimbangan vaso motor pada
system sympathetic. Keluhan nyeri berangsur-angsur berkurang hingga pada
fase remodeling akhir.
Apabila keluhan nyeri masih terjadi pada fase remodeling akhir yang sudah diikuti oleh tanda atau gejala sebagai berikut:
§ masih adanya oedema
§ hyperhidrosis atau hypohydrosis
§ distrophic change
§ vaso motor instability
§ bone reabsortion
§ decreated motor function
Maka aktivasi nociceptor dalam keadaan dis balance. Keadaan
ini disebut dengan reflex symphatetic dystrophy syndrome. Maka hal ini
sangat penting untuk dipahami mengingat intervensi secara rasional oleh
fisioterapi berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan fisioterapi. Dalam menangani keluhan nyeri bahu pada umumnya dan kondisi pasca operasi pada khususnya.
Sifat
nyeri dan keterbatasan gerak sendi bahu dapat menunjukkan pola yang
spesifik yaitu: pola kapsuler dan bukan pola kapsuler. Pola kapsuler
pada sendi bahu yaitu gerak eksorotasi paling nyeri dan terbatasan
kemudian diikuti abduksi dan endorotasi, atau dengan kata lain: gerak
eksorotasi lebih nyeri dan terbatas dibandingkan dengan gerak
endorotasi. Bukan Pola Kapsuler sendi bahu yaitu keterbatasan nyeri yang
dapat terjadi pada sebagian arah gerak atau ke segala arah tanpa
mengikuti pola kapsuler.
Kesimpulan:
Sindroma
nyeri bahu sangat komplek dan sulit untuk diidentifikasi satu persatu
bagian secara detail. Guna memahami penyebab dan patologi sindroma nyeri
bahu, maka dapat dikelompokkan menjadi :
1. Faktor Penyebab:
§ faktor penyebab gerak dan fungsi, yang terkait dengan aktifitas gerak dan struktur anatomi
§ faktor
penyebab penyebab secara neurogenik yang berkaitan dengan keluhan
neurologic yang menyertai baik secara langsung maupun tidak langsung
yang berupa nyeri rujukan.
2. Berdasarkan sifat keluhan nyeri bahu dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu:
§ Kelompok spesifik, mengikuti pola kapsuler
§ Kelompok tidak spesifik sebagai kelompok yang bukan mengikuti pola kapsuler
Intervensi fisioterapi harus memahami sifat keluhan untuk mendapatkan hasil yang optimal.
Pengertian Dari Beberapa Istilah
1. Pola Kapsuler
Keterbatasan
gerak sendi yang spesifik mengikuti struktur kapsal sendi. Shoulder
(glenohumeral) mengikuti keterbatasan yang paling terbatas yaitu
eksorotator, abduksi dan endorotator.
2. Aktualitas
Keadaan nyata untuk menentukan derajat keluhan pada saat pemeriksaan dilaksanakan. Aktualitas ini menunjukkan aktivasi dari proses patologi yang terjadi.
a) Aktualitas Tinggi:
§ Keluhan nyeri yang tejadi pada saat istirahat dan malam hari
§ Keluhan nyeri bergerak dengan peningkatan ketegangan
§ Nyeri menjalar ke dorsal
§ Nyeri timbul saat mulai gerak sampai akhir gerak
§ Test dengan pembebanan (gerak melawan tahanan selalu timbul nyeri
b) Aktualitas Sedang
Keluhan nyeri antar aktualitas rendah dan tinggi:
i. Aktualitas Rendah
§ Keluhan nyeri tidak terjadi saat istirahat dan malam hari
§ Keluhan nyeri tidak terjadi pada saat ketegangan bergerak
§ Nyeri lebih terlokalisasi
§ Nyeri timbul terutama pada akhir gerak
§ Test dengan pembebanan timbul nyeri apabila berulang-ulang
ii. Impingement
Merupakan
suatu sindroma akibat penekanan atau penarikan dari struktur alat gerak
yang melintasi bangunan antara caput humeri dan coraco acromialis
sewaktu lengan bergerak aktif flexi elevasi. Selama itu dapat terjadi
dengan entrapment pada pembuluh darah (arteri/venum), saraf misalnya
pada Thoracic Outlet Compression Syndrome (TOC).
- Painfull Arc
Sindroma
nyeri yang timbul akibat penekanan pada tendon dan busa acromialis
sewaktu gerakan shoulder mencapai lingkup gerak sendi antara 70 – 120
derajat.
- Tes Fisiometric melawan tahanan pada otot atas rotator cuff: eksorotasi, abduksi, endorotasi.
- PSI (Partial Shoulder Imobilitation)
Keterbatasan sebagian sendi bahu akibat mobilisasi, misalnya : flexi-elevasi, abduksi elevasi
- Tes Abduksi Glenohumeral
Posisi Pasien: duduk di kursi (stoel) kemudian lengan di abduksikan normal dengan sudut 90 derajat.
DAFTAR PUSTAKA
Bekkering G.E.. Eviidence Based Fyiotherapie hij patienten met Shouder Klachten
Wetensschpplijke onderbouwing van de KNGF-richtlijn. Nederlands Tijdschrift voor
Fysiotherapie. Jaargang III. 2001.
Cailliet R.. Cervical & Neck Pain. 3nded. Philadelphia : FA Davis Co. 1981.
De wolf A.N.. Onderzoek & Behandeling van weke delen :Bohn Staflen van Loghum Housten. Holland. 1994.
ILO. Eigonomic Check point Practical and Easy to Implement Solution forr Jmping safety Health and Working Condition. Geneva. 1 996.
Kisner C.. ThrapeuticExercize Foundations and Techniques. third edition. F.A. Davis company. Philadelphia. 1990
Kuntono H.P.. ManagementNyeri Muskuloskeletal. Temu Ilmiah Tahunan Fisioterapi XV. Semarang. 2000.
La Dou J.. Occupational Medicine. Appleton & Lange. California. 1990.
Mancini RM.. Muskuloskeletal Pain in : Halstead LS. Grabois M eds. Medical Rehabilitation. New York. Raven Press. 1995.
MH
Pope. Review of studies on Seated Whole Body Vibration &
Neuromuscular Pan, Departement of Environmental and occupational
Medicine, University of Aberdeen. Scotland. UK. 1999.
Suma’mur, Ergonomi untuk Produktivitas Kerja, . CV Haji Mas Agung. Jakarta. 1995.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar